LANGIT7.ID, Jakarta - Maghrib mengaji merupakan tradisi pendidikan keagamaan di lingkungan masyarakat yang nampaknya mulai pudar tergerus zaman. Arus modernisasi perlahan menggeser nilai, budaya dan tradisi keagaaman yang hidup di masayarakat.
Tidak hanya masyarakat perkotaan, namun juga pedesaan. Sehingga terjadi perubahan sosial yang cukup signifikan di tengah-tengah masyarakat.
“Tradisi baik yang telah tertanam mulai tergerus, salah satunya budaya mengaji di waktu Maghrib,” tutur Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis dikutip keterangan tertulis, Jumat (5/11/2021).
Baca Juga:Benarkah Nabi Muhammad SAW Sama Sekali Tidak Bisa Membaca dan Menulis?Maghrib mengaji sejak dahulu telah menjadi lembaga pendidikan keagamaan non formal bagi anak-anak Indonesia. Maghrib mengaji mengacu pada kegiatan mengaji anak-anak di masjid, surau, langgar, dan mushalla usai shalat Ashar atau Maghrib.
Sejak dini, anak-anak sudah diperkenalkan baca tulis Alquran dan mengaji. Mereka juga mendapatkan pendidikan agama yang cukup di tempat tersebut.
Karenanya Wali Kota menyambut baik kegiatan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang telah menggiatkan tradisi ini lewat Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji se-Kota Cirebon.
Gerakan Maghrib mengaji merupakan bagian dari agenda kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa Syekh Nurjati.Peluncuran dan deklarasi berbarengan dengan penutupan KKN gemar mengaji tingkat Kota Cirebon yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Baca Juga: Mengenal Nama-nama Lain dari Surat Al-FatihahMenurut Aziz, melalui KKN gerakan masyarakat maghrib mengaji, masyarakat dapat kembali menyadari bahwa mengaji merupakan salah satu aktivitas ibadah yang sangat lekat dengan masyarakat muslim Indonesia.
“Tidak berlebihan apabila saya mengatakan bahwa rekan-rekan mahasiswa telah berkontribusi dalam upaya pencegahan perubahan dan pergeseran sosial yang kini terjadi,” tutur Azis.
Dijelaskan Azis, mahasiswa IAIN Syekh Nurjati telah melakukan upaya dan langkah konstruktif untuk menghidupkan dan mengembalikan kembali tradisi baik yang telah mengakar. “Yaitu memakmurkan mushala, langgar, dan masjid dengan aktivitas mengaji,” imbuh Azis.
Baca Juga: Yayasan Indonesia Damai Mengaji Salurkan Mushaf Quran untuk Komunitas Eks Preman(zhd)