LANGIT7.ID, Jakarta - Sepekan jelang Idul Adha, permintaan hewan qurban menunjukkan tren meningkat terlepas ada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akibat pandemi. PPKM darurat sepertinya tidak terlalu berpengaruh bagi umat Islam membeli hewan qurban.
Pengusaha hewan qurban, Royadi, menyadari tantangan pada tahun ini cukup berat mengingat dampak covid-19 yang meluas dan pengangguran makin banyak. Meski demikian ia mengaku sudah menjual 230 ekor.
“Sekarang saja sudah terjual 150 sapi bali dan 80 sapi kupang. Target tahun ini 300 terjual,” katanya.
Namun ia tak memungkiri PPKM Darurat sempat membuat dirinya was-was apakah hewan qurban yang dijualnya akan laku semua seperti tahun lalu atau tidak. Tapi hasil penjualannya membuktikan sebaliknya. Ia pun meyakini pandemi tidak akan menghilangkan orang berqurban.
“Ya kalau namanya qurban, yang membeli itu orangnya pasti beriman. Kalau panggilan iman meski duit
dikit pasti banyak yang qurban,” kata pria yang biasa disapa Roy itu pada Langit7.id, Jumat (16/7/2021)
Meski ia mengakui banyak juga penjual hewan qurban yang berguguran karena tak kuat bertahan. Ini juga, menurutnya, penyebab persaingan jadi sedikit.
Awal Bisnis QurbanRoy menuturkan awal berbisnis qurban lantaran ajakan kawannya berdagang sapi. “Bukan sebagai marketing, tapi menjadi perawat sapi. Dari sini saya berasumsi, kawan saya ingin mengajari saya menjadi pedagang sapi yang profesional,” katanya
Dari bisa merawat sapi, ia mengetahui cara membuat bobot sapi stabil, mulai saat hewan masih di kandang hingga dibeli orang.
“Minimal bobot tubuh sapi stabil dan maksimalnya lebih besar dari bobot awal. Itu 8 tahun yang lalu,” katanya.
Dari belajar merawat sapi itu, akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka usaha penjualan hewan qurban sendiri pada tahun 2016 dengan nama Prima Sejahtera.
Omzet NaikSelama hampir empat tahun berjualan memakai bendera sendiri, omzetnya meningkat. Pandemi yang terjadi di Indonesia tidak menyurutkan penjualan hewan qurban.
Selama dua kali Idul Adha saat pandemi, Roy mengaku omzet tetap naik. Pada tahun 2020 omzetnya mencapai 3.7 milyar, sedangkan tahun 2019, 2,6 milyar.
“Tapi keuntungan bersihnya paling 0.5% karena kita kebanyakan jual ke pedagang ecer dan distributor,” katanya
Roy bercerita dari tahun ke tahun-tahun kebutuhan hewan qurban di kabupaten Bekasi meningkat. “Dari delapan tahun yang lalu, mulai 24 ekor, naik 46 ekor dan sampai meningkat 400 ekor,” katanya.
Jenis sapi yang ia jual adalah Sapi Bali dan Sapi Kupang. Sapi Bali dagingnya banyak sedangkan Sapi Kupang untuk target pasar yang harganya terjangkau. "Tapi dagingnya hampir sama banyaknya dengan Sapi Bali," ucapnya.
Harga sapi yang ia jual berkisar dari 12.5 juta sampai 30 juta. Sekarang, paling rendah 13.5 juta. “Yang paling banyak terjual di harga 17,5 sampai 21 juta, dengan bobot 280 sampai 380kg. Begitu juga dengan tahun ini,” katanya.
Roy mengatakan untuk kambing dan domba tidak banyak menjual. “Biasanya kami join dengan pedagang lain. Saya nggak enak kalau jual banyak. Saya sekarang jual 12 ekor. Itu karena
nggak nyetok. Tahun lalu 34 ekor,” katanya.
(arp)