Langit7, Jakarta - Pandemi telah menyebabkan perubahan dalam kehidupan masyarakat secara luas. Kendati wabah ini sudah mulai mereda, tapi masih ada ancaman ke depan yang harus dihadapi, salah satunya masalah kejahatan siber.
Perkembangan teknologi yang cukup signifikan di tengah puncak pandemi Covid-19 tahun lalu, menyebabkan sebagian masyarakat bergantung dengan teknologi digital dalam setiap aktivitas mereka.
Ketergantungan terhadap teknologi ini menyebabkan lahirnya ancaman dari kelompok kriminal baru yang memanfaatkan dunia siber. Untuk itu, keamanan siber ke depan bakal menjadi tugas krusial, terutama di era pasca pandemi.
Baca juga: Hubungan dengan China Memanas, Taiwan Perkuat Pasukan CadanganCommissioner Criminal Investigation Bureau (CIB) Taiwan, Huang Chia-lu mengatakan, kejahatan dunia maya tidak mengenal batas negara. Sehingga memungkinkan korban, pelaku, dan TKP bisa berada di negara yang berbeda.
"Kejahatan dunia maya yang paling umum adalah penipuan telekomunikasi, yang memanfaatkan internet dan teknologi telekomunikasi lainnya. Kerja sama antar negara diperlukan untuk membawa sindikat penjahat internasional ke pengadilan," ujarnya dari rilis yang diterima Langit7.
Pada 2020 lalu, polisi Taiwan menggunakan analitik data besar untuk mengidentifikasi beberapa warga negara Taiwan yang dicurigai melakukan operasi penipuan telekomunikasi di Montenegro.
Melalui upaya bersama dengan
Montenegrin Special State Prosecutor’s Office, pihak kepolisian berhasil mengungkap tiga operasi penipuan telekomunikasi, dan menangkap 92 tersangka yang dituduh menyamar sebagai pejabat pemerintah, polisi, dan jaksa dari China.
Jumlah korban penipuan diketahui lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan kerugian materi mencapai US$22,6 juta. Para tersangka merupakan warga negara Taiwan, dengan korbannya adalah warga negara China.
Baca juga: Taiwan Kejar Target Capai Masa Depan dengan Emisi Nol-BersihSelain itu, tindakan kejahatan lain dari perkembangan teknologi digital ini termasuk eksploitasi seksual anak dan remaja. Tindakan kejahatan ini juga terjadi di berbagai negara dan mendapat kecaman di tingkat internasional.
Huang Chia-lu menegaskan, memerangi kejahatan dunia maya sama halnya dengan memerangi pandemi. Di mana membutuhkan kerja sama dari pasukan polisi internasional yang membantu dan berbagi informasi satu sama lain.
"Melalui hal itu, sebagian besar kasus kriminal dapat dicegah dan diselesaikan secara efisien, dan masyarakat di seluruh dunia bisa menikmati kehidupan yang lebih aman," tambahnya.
Sebagai informasi, selain menetapkan analisis file dan mekanisme analisis jaringan, pada tahun ini CIB juga menstandarisasi prosedur analisis malware. Keahlian Taiwan dalam memerangi kejahatan dunia maya akan bermanfaat bagi upaya global untuk membangun ruang maya yang lebih aman.
(zul)