LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid mengemban peran besar dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Masjid yang memiliki consent terhadap hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya disebut Masjid Eco, Masjid Ramah Lingkungan, atau Masjid Hijau.
Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar menyatakan penting bagi umat Islam untuk mewujudkan masjid ramah lingkungan. Masjid yang bersahabat dengan lingkungahn hidup akan meningkatkan kualitas ibadah.
“Masjid itu yang paling penting perannya bukan membangun masjid itu sendiri tetapi membangun sajid,” katanya dalam Webinar MLH PP Muhammadiyah bertajuk Masjid Ramah Lingkungan (Eco-Mosque, Green Mosque, dan Smart-Mosque), dilihat Ahad (21/11/2021).
Baca Juga: Menag Yaqut Temui Menteri Urusan Islam Saudi, Ini HasilnyaKiai Nasaruddin mengatakan, sajid adalah orang yang tunduk, pasrah, dan patuh secara total kepada Allah. Sajid disimbolkan dengan aktivitas sujud dalam shalat. Pada saat yang sama, sujud yang berkualitas dapat dimulai dengan membangun sarana sujud (masjid) yang berkualitas pula.
“Masjid itu kan dalam rangka membangun sajid, orang yang sujud. Tidak semua orang menundukkan kepala di lantai itu sujud. Sajada artinya menundukkan kepala ke lantai, sujud ialah orang yang menyerahkan dirinya secara total kepada Allah,” kata Kiai Nasaruddin.
Baca Juga: 5 Masjid dengan Pemandangan Alam Terbuka, Nomor 1 Ada di PuncakSecara implisit, perintah Allah untuk membangun masjid ramah lingkungan tertera dalam Alquran, Surat Al Isra ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Arti: Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
“Ayat ini sebetulnya mengandung makna betapa perlunya ada penghijauan di sekitar masjid dalam rangka melahirkan ketenangan,” kata Kiai Nasaruddin.
Baca Juga: 4 Amalan Sunnah Sebelum dan Sesudah Adzan MaghribKiai Nasaruddin menjelaskan, kata “Layla” dalam ayat tersebut selain diartikan malam juga dapat dimaknai sebagai kesyahduan, kesejukan, ketenteraman, kekhusyukan, kedamaian. Masjid yang memiliki kekhusyukan di dalamnya adalah masjid akan melahirkan keberkahan.
“Kalau masjidnya gersang, berdebu ada maling sandal itu itu tidak ada baaraknaa haulahu, yang ada itu musykilatun katsir haulal masjid. Yang kita inginkan adalah ketenangan begitu kita masuk dalam area masjid,” tuturnya.
Baca Juga: Tafsir An Nisa ayat 36: Wajib Berbuat Baik kepada Sesama(zhd)