LANGIT7.ID, Jakarta - Habib Husein Ja’far Al Hadar mengajak masyarakat muslim digital untuk fanatik kepada ilmu, bukan hanya kepada satu guru. Hal ini untuk menghindari konten negatif di media sosial, seperti aksi saling menghujat antar satu kelompok dengan kelompok lain yang berbeda.
Dia menjelaskan, Rasulullah SAW mendidik umatnya untuk menjadi manusia bermanfaat kepada orang lain. Maka itu, penghormatan harus diberikan kepada orang yang memiliki manfaat terbaik dan terbanyak kepada sesama.
Didikan Nabi Muhammad itu berbeda pada era
followers saat ini. Algoritma media sosial mendidik masyarakat digital untuk mengikuti dan menghormati orang yang memiliki banyak followers. Ia mengaku kerap bercanda tentang kisah Nabi Nuh.
Baca Juga: Annual Meeting of Islamic Dakwah Ajak Pendakwah Diskusikan Etika Syiar di Ranah Digital
“Tantangannya adalah mendidik masyarakat mencari konten berkualitas,” kata Habib Ja’far, dikutip akun youtube CariUstadz.id, Selasa (23/11/2021).
Tantangan itu harus diimbangi dengan muslim yang berilmu turun gunung mengedukasi masyarakat. Orang berilmu ini menjadi pendakwah menyajikan nilai-nilai populer dan positif agar menjadi konsumsi masyarakat luas. Pola dakwah yang berbeda harus dibentuk.
“Nah, kita akan membentuk pola dakwah yang berbeda, kalau mereka membentuk fanatisme terhadap guru, maka kita harus membentuk fanatisme terhadap ilmu, bukan terhadap guru,” kata Habib Ja’far.
Ini sejalan dengan perkataan Ali bin Abi Thalib, “Lihat apa yang dikatakan, bukan yang mengatakan.” Para pendakwah harus mendidik masyarakat agar tidak fanatik pada satu ustadz, satu pengajian, satu majelis, ataupun satu kelompok. Namun, masyarakat harus membuka diri terhadap semua kelompok.
“Karena salah satu kunci modernisme adalah membuka diri. Biarkan orang belajar di mana-mana. Agar kemudian hujat-menghujat itu berubah menjadi diskusi atau dialektika yang konstruktif,” pungkas Habib Ja’far.
(jqf)