Langit7, Blitar - Hampir seluruh perusahaan ingin memiliki karyawan yang sempurna. Dalam artian memiliki keterampilan unggul di bidangnya dan berasal dari lulusan universitas terbaik.
Namun berbeda dengan Yayasan Rumah Kinasih di Blitar. Pemiliknya, Edi Cahyono berupaya menaungi para penyandang disabilitas dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
"Tidak hanya di Blitar, tapi kami juga menerima teman-teman di seluruh di luar kota, seperti Jombang, Surabaya, dan Jakarta," ujarnya dikanal Youtube Pecah Telur.
Baca juga: Indonesia Siapkan Generasi Muda Tingkatkan Produk Fesyen dan KriyaRumah Kinasih sendiri mengusung konsep Tat Twam Asi. Kata itu berasal dari bahasa sansekerta yang artinya itu adalah kamu.
![Batik Ciprat Kinarsih, Serap Tenaga Kerja dari Penyandang Disabilitas]()
Edi menjelaskan bahwa prinsip dalam hidup ialah berupaya menjadikan masalah orang lain sebagai masalah sendiri yang harus diselesaikan. Sehingga hal itu menjadi landasan baginya untuk menerima orang dengan segala kekurangan yang ada.
"Apalagi menurut undang-undang, lembaga pemerintah wajib mempekerjakan dua persen penyandang disabilitas, dan 1 persen untuk swasta. Kami di sini 80 persen pekerjanya penyandang disabilitas," jelasnya.
Menurutnya, para penyandang disabilitas juga memiliki hak yang sama sebagai manusia. Di mana mereka membutuhkan tempat sebagai wadah berkumpul dengan sesama.
Baca juga: Pemprov Jateng Luncurkan Batik Lasemku, Siap Bersaing di MancanegaraKini di tangan yang tepat, para penyandang disabilitas memiliki wadah untuk menyalurkan keterampilan mereka. Di mana Edi sukses membuat brand Batik Ciprat Kinarsih yang dalam prosesnya dikerjakan oleh penyandang disabilitas.
"Kita tidak berpikir kalau ini akan menjadi bisnis yang bisa sampai dikenal mancanegara. Tapi dengan sentuhan tim kami, ternyata punya nilai jual yang tinggi. Di mana batik ciprat itu diciptakan oleh teman-teman penyandang disabilitas," jelasnya.
Ia menuturkan, karya abstrak batik ciprat memiliki keunikan tersendiri jika dikerjakan oleh para penyandang disabilitas ketimbang pengrajin biasa. Pasalnya, motif yang dihasilkan menjadi lebih hidup dan memiliki makna.
![Batik Ciprat Kinarsih, Serap Tenaga Kerja dari Penyandang Disabilitas]()
Berkat kepeduliannya itu, kini Edi telah menaungi sebanyak 62 penyandang disabilitas. Sementara untuk upahnya, Edi mengaku menerapkan sistem royalti.
"Jadi setiap lembar batik itu kita perhitungkan Rp25-30 ribu, tergantung berapa kali prosesnya" ungkapnya.
Baca juga: Pesan Kekayaan Indonesia untuk Dunia Ditampilkan di Expo 2020 Dubai Lewat Batik Biota LautIa berharap, melalui kegiatan sociopreuneurnya ini dapat menampung lebih banyak lagi penyandang disabilitas. Menurutnya,
sociopreneurship dapat memberi kesempatan kerja terhadap penyandang disabilitas dan memberikan mereka hak yang sama dengan yang lainnya.
Seperti diketahui, ekspor batik Indonesia pada 2020 mencapai US$532,7 juta atau Rp7,5 triliun. Industri batik telah memberdayakan 200 ribu tenaga kerja dari 47 ribu unit usaha yang tersebar di 101 sentra wilayah Indonesia.
(zul)