LANGIT7.ID - , Jakarta - Warganet dihebohkan dengan ulah segelintir orang yang menjadikan lokasi bencana Gunung Semeru sebagai konten media sosial.
Dalam video yang beredar, tampak tiga remaja putri dan warga asyik berselfie layaknya tengah berada di lokasi wisata. Sontak aktivitas tersebut pun mendapat kecaman.
Tak hanya berbahaya untuk diri sendiri, dimana ancaman erupsi susulan masih bisa terjadi kapan saja, namun juga bisa mengganggu kinerja petugas yang melakukan evakuasi. Selain itu dengan mengambil gambar diri dengan latar tempat bencana menunjukkan minim empati terhadap korban erupsi.
Baca juga: Bolehkah Menyindir Lewat Status Media Sosial? Ini Kata Ustadz Zacky MirzaKetua Asosiasi Psikologi Islam (API) DKI Jakarta mengaitkan media sosial dengan kebutuhan hidup masyarakat modern saat ini.
"Media sosial sudah menjadi kebutuhan hidup. Sehingga orang merasa perlu eksis dengan konten dan postingan." kata Iqbal pada Langit7, Senin (13/12/2021).
Menurut Iqbal, bagi orang yang memiliki ide kreatif, media sosial bisa jadi tempat untuk menyalurkan idenya sebagai konten. Namun, berbeda dengan orang yang tidak memiliki inovasi dan kreativitas, maka ia tidak ada pilihan untuk membuat konten padahal ada keinginan untuk eksis.
Akhirnya mau tidak mau ia harus mencari konten dan salah satunya adalah konten bencana.
"Kasus bencana erupsi gunung Semeru merupakan kejadian yang menarik dan menjadi perhatian publik. Sehingga mereka berlomba-lomba ingin menunjukkan bahwa mereka datang ke tempat bencana." kata Iqbal.
Sayangnya, keberadaan mereka di lokasi bencana bukan untuk membantu korban namun menjadikan kesusahan orang menjadi obyek media sosial.
"Ini adalah akibat dari pengaruh kebutuhan akan eksistensi di sosial media." Keluh M.Iqbal.
Melihat kelakuan sebagian kecil masyarakat ini, banyak yang mengecam dan geram karena menjadikan bencana sebagai ajang eksistensi diri. Untuk itu perlu adanya upaya agar hal ini tidak berulang.
"Perlu adanya semacam edukasi kepada masyarakat tentang internet sehat, media sosial sehat. Mungkin mereka cerdas di teknologi tapi lemah di etika dan nilai-nilai moral." kata psikolog yang juga menjadi Dewan Pembina Asosiasi Praktisi Human Resources Indonesia (ASPHRI).
Selain itu Iqbal juga meminta kepedulian dari pemerintah untuk punya program edukasi masyarakat. Akan pentingnya memiliki rasa empati di lokasi musibah.
Baca juga: Pakar Hukum Islam UIN: Islam Ajarkan Wasatiah dalam Bermedia Sosial"Bisa dengan memasang spanduk, himbauan di media sosial dan juga bekerjasama dengan aplikasi di sosial media." kata Iqbal
"Caranya dengan mengedukasi bahwa tempat bencana bukan tempat yang layak sebagai eksistensi diri." tutup Iqbal.
(est)