LANGIT7.ID, Kudus - Muhammad Ahsan Bukhori, seorang bocah berusia 9 tahun ini begitu istimewa. Di usia yang masih belia itu sudah mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz, sebuah prestasi dunia akhirat.
Ahsan merupakan siswa kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) NU Tahfidzul Qur’an Tasywiquth Salafiyah (TBS) Kudus, Jawa Tengah. Ia mampu menghafal 30 juz dalam rentang waktu 3 tahun. Ia tak sendiri, ada 29 rekannya yang meraih prestasi serupa.
Sejak awal, Ahsan sudah memiliki cita-cita menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Cita-cita itu membawa dia mendaftar sebagai siswa MI Tahfiz Al-Qur’an TBS, lembaga pendidikan Islam berbagai jenjang yang memiliki program khusus tahfidz untuk usia dini.
Di sekolah tersebut, Ahsan dididik menghafal satu halaman per hari. Ia menekuni proses dengan giat, hingga akhirnya mampu menyelesaikan dalam tempo 3 tahun. Ahsan tergolong spesial, karena di sekolah itu tak hanya mendapat beban hafalan Qur’an saja, ada pula pendidikan formal yang wajib diikuti.
“Ustadz selalu ngendikan (menyampaikan), baca dulu berulang kali suatnya, jika sudah yakin maka coba untuk menghafal tanpa melihat Al-Qur’an,” kata Ahsan, dikutip laman resmi Kemenag, Sabtu (25/12/2021).
Baca Juga: Ingin Hafal Quran meski Tak Nyantri? Begini Caranya
Dalam proses itu, dia selalu meminta doa kepada kedua orang tuanya, diimplementasikan dalam niat sungguh, dan serius saat menghafal huruf demi huruf hingga ayat per ayat. Dia juga selalu menghormati sang guru agar bisa mempermudah proses menghafal Al-Qur’an.
Kepala MI NU Tahfidzul Qur’an TBS, KH Sae'un, mengatakan, selan mengedepankan akademik, madrasah itu juga menjadikan hafalan Qur’an sebagai program khusus bagi siswa yang masuk jalur tahfidz.
Pelajaran formal dan hafalan Qur’an tak bisa dipungkiri menjadi beban tersendiri bagi siswa. Namun, dengan kehidupan pesantren yang terkontrol 24 jam, internalisasi ilmu dan karakter menjadi maksimal. Ia tak ingin melahirkan generasi yang pintar saja, tapi harus disertai etika dan akhlak mulia sesuai tuntutan Al-Qur’an.Tidak mudah menciptakan generasi Qur’ani yang juga memiliki kapabilitas akademik. Beban yang berat itu menuntut partisipasi penuh antara pihak madrasah, siswa, dan juga dukungan spiritual dari orang tua.
“Doa dan tirakat orang tua sangat membantu lancarnya hafalan anak-anak,” kata Sae'un.
Terkadang ada juga anak yang mogok hafalan. Bila itu terjadi, madrasah akan mengkomunikasikan dengan tiga pihak, yakni pengasuh pesantren, ustadz, dan orang tua. Jika semua bertindak positif, biasanya ada solusi dan pembelajaran berjalan kembali.
Kegiatan pembelajaran memiliki durasi cukup panjang, yakni pukul 05.00 pagi hingga pukul 20.00. mulai subuh hingga pukul 07.00, para siswa harus menyetor hafalan hingga tiba waktu belajar di ruang kelas.
Usai pembelajaran di kelas, kegiatan dilanjutkan dengan tahfiz sampai malam hari. Di sela-sela kegiatan itu, santri bisa memanfaatkan Untuk istirahat, mandi, makan, dan aktivitas lain.
Program tahfidz disinergikan dengan madrasah, karena siswa tidak boleh dibebani Pekerjaan Rumah (PR) atau pekerjaan lain yang dibawa pulang.
Hingga saat ini, Dari 307 siswa MI Tahfidzul Qur’an Krandon, 30 di antaranya telah hafal 30 juz. 70 persen dari mereka sudah mencapai 20 juz. “Ini semua menjadi tanggung jawab semua pendidik,” ucapnya.
(jqf)