alexametrics
kalender Rabu, 19 Januari 2022
home home & garden detail berita
Baghdad di Era Daulah Abbasiyah, Role Model Pembangunan Ibu Kota Negara
Muhajirin Selasa, 28 Desember 2021 - 16:38 WIB
Baghdad di Era Daulah Abbasiyah, Role Model Pembangunan Ibu Kota Negara
Model 3D Kota Baghdad di Era Daulah Abbasiyah (foto: reddit)
LANGIT7.ID - Baghdad merupakan kota legenda dalam sejarah peradaban Islam. Ibu Kota dari Daulah Abbasiyah ini tak sekadar dibangun berdasarkan pertimbangan pertahanan militer dan ketahanan pangan semata, namun segala aspek diperhitungkan seperti aspek sosial dan spiritual. Maka tak heran, jika Imam Abu Hanifah menjadi mandor utama dalam pembangunan kota tersebut.

Baghdad dibangun pada 145 H dan selesai pada 149 H. Hanya 4 tahun waktu pembangunan. Waktu yang sangat singkat untuk sebuah ibu kota peradaban. Kota ini digagas oleh Khalifah kedua Bani Abbasiyah yakni Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas atau lebih dikenal dengan Abu Ja’far Al-Mansur.

Al-Mansur mulai membangun Baghdad setelah stabilitas politik Bani Abbasiyah stabil. Tidak ada lagi perlawanan dari Bani Umayyah. Itu yang menyebabkan Baghdad dibangun pada 145 H atau 13 tahun setelah Bani Umayyah runtuh.

Pada awalnya, Baghdad bukan sebuah kota tapi hanya sebuah kawasan. Kawasan itu dihuni oleh penduduk lokal dari kalangan peternak dan petani. Namun Al-Mansur memilih kawasan itu karena memang memiliki segala aspek pendukung untuk sebuah kota peradaban.

“Para pendiri Kota Baghdad ingin selama mungkin bertahan, sehingga otomatis unsur-unsur pendukung untuk berkembang itu mereka pertimbangan sejak awal. Bukan hanya sekadar pertahanan, kalau hanya soal itu bisa ditanggulangi dengan benteng,” kata pakar sejarah Islam, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal youtube Sirah Community Indonesia (SCI), Selasa (28/12/2021).

Pemilihan Lokasi Ibu Kota Negara

Al-Mansur sangat cermat dalam memilih lokasi. Baghdad terletak di antara dua sungai yang sangat legendaris sebagai urat nadi ekonomi dan pertahanan, yaitu Sungai Tigris dan Eufrat. Pemilihan ini sangat penting bukan hanya untuk saat itu. Dari segi pertahanan, sungai itu sudah menjadi bagian dari pertahanan.

Artinya musuh dari luar jika ingin masuk ke kawasan Baghdad mau tidak mau harus menggunakan kapal-kapal. Jika menggunakan darat, musuh harus membangun jembatan. Itu sulit karena pasukan Abbasiyah pasti sudah memperhitungkan itu.

Dari sisi ekonomi, Baghdad juga sangat strategis. Kawasan itu dipenuhi sungai-sungai kecil pecahan dari Sungai Eufrat dan Tigris. Tentu saja lahan di kawasan itu sangat subur. Sehingga aspek ketahanan pangan bisa terpenuhi. Pemerintah tak perlu lagi mengandalkan pangan dari luar untuk menghidupi masyarakat.

Baca Juga: Mengenal Universitas Nizamiyah, Episentrum Kejayaan Peradaban Islam

Kemudian, jauh sebelum Islam datang di kawasan itu, sudah ada pasar musiman yang diadakan. Ini karena kawasan itu memang mempertemukan banyak jalur. Jika dilihat dari peta lama, dari arah timur akan menyambung dengan jalur sutra, itu akan bersambung ke daerah Uzbekistan sampai ke India dan Cina. Dari arah utara bisa menyambung dengan kawasan Asia Kecil, dulu masih Romawi. Arah kiri adalah Syam, juga masih bagian Romawi dan menyambung ke Afrika Utara, Mesir.

Dari arah Barat, akan menyambung dengan Jazirah Arab. Dari arah selatan akan menyambung ke Pelabuhan Basrah yang berada di Teluk Arab dan Teluk Persia. Di situ kapal-kapal Cina dan India ditambatkan.

“Dari sisi ini saja, untuk menjadi pusat pemerintahan Islam sangat wajar. Dari sisi ini saja sudah memenuhi syarat, artinya secara geografis bisa menjadi titik temu jalur transportasi dan perdagangan, dan juga tempat aman karena pertahanan kuat karena diapit dua sungai. Mudah dijangkau tapi strategis,” kata Asep.

Namun Al-Mansur saat mendapatkan informasi itu tak serta-merta memutuskan. Dia melakukan survei terlebih dahulu. Tidak asal membangun. Dia bermalam di kawasan tersebut untuk merasakan hawa malam. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan dia shalat ashar di kawasan itu saat puncak musim panas.

Setelah mensurvei, Al-Mansur lalu memutuskan untuk membangun pusat pemerintahan di Baghdad. Namun ia tak langsung membangun. Ia terlebih dahulu mendesain. Desain itu mempertimbangkan banyak hal. Mulai dari aspek pertahanan, ekonomi, sosial, hingga spiritual. Ini karena ia ingin kota itu menjadi ibu kota peradaban.

“Maka pertama kali, Al-Mansur melibatkan bukan hanya tokoh militer. Al-Mansur memanggil Abdullah bin Muhris, Imran bin Waddah, Syihab Bin Katsir, dan Al-Hajjaj bin al-Artha’. sementara Ath-Thabari menyebut bahwa ada dua nama yang menjadi konsultan awal yaitu Hajaj bin Artha dan Abu Hanifah bin Tsabit,” kata Asep.

Bahkan, disebutkan Abu Hanifah terlibat dalam pembangunan. Bukan sekadar konsultan bidang keagamaan, dia ikut membangun. Abu Hanifah berperan sebagai konsultan spiritual dan sosial. Lalu Al-Hajjaj memang seorang arsitek dan ahli hadits.

“Jadi, Baghdad itu didesain oleh ahli pertahanan, ahli pemerintahan, ulama hadits, ulama fikih (aspek sosial dan spiritual),” ucapnya.

Tahap Pembangunan

Pada tahap pelaksanaan, Al-Mansur mengeluarkan maklumat untuk memanggil semua ahli di bidang masing-masing dari berbagai kota. Mulai dari ahli arsitek, tukang bangunan, tukang ukur, tukang kayu, tukang besi, hingga tukang gali. Tenaga ahli itu berjumlah 100 ribu orang.

“Dan memang cepat pembangunannya, karena hanya 4 tahun. Mandor itu paling utama adalah orang-orang shaleh dan arsitek. Makanya Abu Hanifah ikut membangun, bahkan dia orang pertama yang punya alat pengukur bata, kemudian orang orang mengikutinya,” terangnya.

Baca Juga: Bayt Al-Hikmah, Jejak Kemajuan Sains di Masa Keemasan Islam

Setelah itu, Baghdad dibangun berbentuk bulat. Pemilihan bentuk itu sangat berkaitan dengan pertahanan. Bentuk bulat ini sangat luar biasa kuat dengan empat gerbang utama. Sehingga membelah kota menjadi empat bagian dibelah jalan. Gerbang utama menghadap ke Khurasan di Timur, Gerbang Barat menghadap ke Kufa, Gerbang Utara menghadap ke Syam, dan Gerbang Selatan menghadap Bashrah.

“Di situ ada sistem pertahanan yang sangat menarik. Pertama ada dinding bagian dalam, dinding bagian luar. Antara dinding itu dikosongkan, tidak boleh ada pertahanan, sehingga memudahkan mobilitas pasukan jika ada serangan,” jelas Asep.

Lalu, dinding bagian luar ada tanah kosong dan dibuat parit. Sementara titik nol kota ini dibangun kantor pemerintahan, istana, dan masjid. Area dekat titik nol dihuni orang-orang penting. Lalu di sisi paling luar dihuni oleh masyarakat biasa.

“Di luar itu ada juga pemukiman, tapi tetap mengikuti area utama, sehingga bulat dan semakin bulat. Bahkan bulatnya betul-betul bulat, seakan-akan dicetak. Ini luasnya kurang lebih sekitar 313 hektar. Artinya terpadu. Ini awalnya, kemudian semakin lama semakin berkembang,” kata Asep.

Dari situ Kota Baghdad tumbuh tidak hanya sebagai Ibu Kota Negara tapi juga Ibu Kota Dunia. Ketika Bani Abbasiyah semakin stabil, dari Al-Mansur hingga ke Harun Ar-Rasyid, Baghdad sudah menjadi magnet bagi seluruh potensi di dunia Islam. Baghdad akhirnya menjelma sebagai pusat peradaban Islam. Bayt Al-Hikmah dibangun sehingga menjadi pusat intelektual seluruh dunia.
(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 19 Januari 2022
Imsak
04:20
Shubuh
04:30
Dhuhur
12:07
Ashar
15:30
Maghrib
18:19
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. An-Nisa':59 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.