Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Mengenal Universitas Nizamiyah, Episentrum Kejayaan Peradaban Islam

Muhajirin Senin, 11 Oktober 2021 - 12:41 WIB
Mengenal Universitas Nizamiyah, Episentrum Kejayaan Peradaban Islam
Sisa bangunan Universitas Nizamiyah (foto: istimewa)
LANGIT7.ID - Peradaban Islam dibangun dengan ilmu pengetahuan. Meski pada masa awal tidak ada tempat khusus untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan budaya, Rasulullah membentuk kelompok belajar di Masjid.

Setelah Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia, majelis-majelis ilmu turut digelar di istana khalifah dan rumah para menteri. Area kerja dan pertanian diubah menjadi pusat ilmiah, budaya, dan sastra. Tradisi keilmuan Islam melahirkan banyak ilmuwan hebat.

Budaya belajar umat Islam mengakar tanpa strata sosial. Tuan maupun budak sibuk belajar. Beberapa tuan bahkan mengajari budaknya sastra, sejarah, dan berbagai cabang ilmu lain.

Zubaidah, istri Harun Ar-Rasyid, memiliki ratusan budak perempuan dan semuanya hafal Al-Qur’an. Dipagi hari mereka membaca Al-Qur’an, hingga suara mereka terdengar hingga ke sudut-sudut istana.

Kemudian pada tahap berikutnya, sekolah Islam, universitas, dan pusat penelitian didirikan. Beberapa sejarawan seperti Ibnu Al-Hakam percaya bahwa Universitas Nizamiyah di Baghdad merupakan perguruan tinggi pertama bagi umat Islam. Universitas itu didirikan oleh Nizam al-Mulk, Wazir atau Perdana Menteri dari Sultan Malik Syah, Khalifah dari Dinasti Seljuk.

Sejarawan juga mencatat pendirian Bayt Al-Hikmah pada masa Harun Ar-Rasyid. Tempat itu merupakan perpustakaan yang menjadi pusat aktivitas ilmiah.

Baca Juga: Bayt Al-Hikmah, Jejak Kemajuan Sains di Masa Keemasan Islam

Kendati begitu, banyak sejarawan yang percaya, sebelum Nizamiyah ada banyak perguruan tinggi dan universitas yang didirikan oleh umat Islam.
Sebuah kutipan dari British Encyclopedia menyatakan, "Ketika Ma'mun menjadi putra mahkota, dia mendirikan sebuah universitas di Khurasan dan untuk kuliah, dia mengundang profesor-profesor yang berpengalaman dan berpendidikan dari berbagai negara."

Chambers Encyclopedia menulis bahwa pada masa Ma'mun, universitas-universitas penting didirikan di Baghdad, Basrah dan Kufah.

Pada tahun 400 H, Hakim, Khalifah Fatimiyah, mendirikan sebuah perguruan tinggi besar di Mesir. Dia menyumbangkan banyak buku serta menunjuk ahli hukum dan profesor untuk mengajar.

Khalifah Mahmud dari Ghaznavi menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk pendirian universitas yang megah. Dia juga membangun perpustakaan besar yang dipenuhi dengan buku-buku berharga.

Proses Pendirian Universitas Nizamiyah

Nizam al-Mulk memiliki tekad kuat untuk menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas. Untuk mencapai cita-cita itu, dia membangun beberapa sekolah di desa-desa. Ia menghabiskan 6 ribu dinar emas untuk pembangunan sekolah tersebut.

Dia mewakafkan sepersepuluh dari kekayaannya untuk mendirikan perpustakaan dan perguruan tinggi Islam. Capaian tertinggi dari wakaf pendidikan itu adalah pendirian Universitas Nizamiyah di Baghdad.

Pembangunan universitas tersebut dimulai pada 487 H menelan biaya 200 ribu dinar emas. Pembangunan berlangsung hingga dua tahun yang selesai pada 489 H. Peresmian dilakukan secara besar-besar. Masyarakat Baghdad hingga keluarga khalifah menghadiri peresmian tersebut. itu menggambarkan antusiasme umat Islam terhadap ilmu pengetahuan sangat tinggi.

Abu Ishaq lalu ditunjuk sebagai rektor di universitas itu. Awalnya ia menolak. Namun permintaan datang bertubi-tubi kurang lebih sebulan tanpa henti. Ia akhirnya menerima jabatan itu. universitas itu sudah melahirkan banyak ulama terkemuka.

Ulama dan ilmuwan pada saat itu merasa sangat terhormat jika bisa menjadi dosen di Nizamiyah. Selama 200 tahun, dosen diseleksi secara ketat. Dosen harus berasal dari kalangan yang menguasai satu bidang keilmuan secara mendalam.

Abu Zakaria Tabrizi, seorang penulis terkenal pada masa itu, ditunjuk sebagai direktur perpustakaan pusat Nizamiyah.

Pada 589 H, Nasiruddin membangun perpustakaan besar di Baghdad. Ia menyumbang banyak buku. Ia juga memberikan tunjangan bulanan kepada para mahasiswa. Tunjangan bulanan ini menjadi salah satu keunggulan universitas tersebut.

Selain itu, orang miskin dan orang kaya bisa menyekolahkan di universitas ini. Tidak ada perbedaan. Kemudian ribuan mahasiswa lulus dengan sistem kualifikasi tinggi.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)