LANGIT7.ID - , Jakarta - Sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim, Indonesia menjadi salah satu target pasar potensial untuk industri modest fashion dunia. Tak hanya sebagai target konsumen, tapi juga berpeluang untuk menciptakan pakaian muslim yang bisa dipasarkan secara global.
Stylish moslem wear Amy Atmanto mengatakan Indonesia saat ini berada di urutan ketiga dunia sebagai negara berbelanja di dunia modest fashion, dengan total belanja sebanyak USD21 miliar.
Baca juga: Amy Atmanto: Akhir Tahun Jadi Awal Pergerakan Positif Industri Fesyen Tanah AirData State of Global Islamic Economy tersebut pun menempatkan Uni Emirat Arab di posisi kedua dengan total belanja USD23 miliar. Dan di posisi teratas ditempati Turki dengan perolehan belanja hingga USD29 miliar.
Sayangnya dari potensi tersebut, masih didominasi produk dari luar atau multinasional yang membuka cabangnya di Indonesia.
Untuk dapat mengisi industri ini ada banyak cara bisa dilakukan pelaku kreatif Tanah Air, salah satunya dengan mengikuti tren pasar atau malah membuat trend setter sendiri.
Berbicara tren, Amy menyoroti 2022 menjadi tahun yang lebih kondusif. Dimana pelaku UMKM mulai bergairah untuk menyediakan pasar retail. Untuk gaya, model plisket masih jadi tren di tahun depan. Mulai dari jilbab, blus, hingga gamis akan tetap bermain di detail plisket.
"Akan banyak nanti tahun depan model plisket atau lipit-lipit, dengan bahan yang lembut."
Sedangkan untuk pemilihan bahan, Amy berpendapat, "Bahan jenis shiny atau mengkilap juga akan menjadi tren di tahun 2022 dengan model-model tertentu," terang Amy.
Selain itu, Amy menambahkan tren fesyen bakal diramaikan dengan warna-warna pastel yang menawarkan keteduhan, hangat, lembut dan bersih.
"Warna-warna pastel yang hangat atau lembut, warna-warna kalem akan lebih banyak diminati, karena bersifat lebih bersih. Sedangkan warna-warna yang cerah untuk event tertentu saja." imbuhnya.
Mengingat masih dalam masa pandemi, Amy melihat gaya belanja konsumen tidak langsung naik drastis, namun berjalan perlahan.
"Harga di bawah 500 ribu nanti akan banyak diminati," kata Amy.
Kondisi ini dikarenakan konsumen belum berani mengeluarkan banyak uang untuk sektor sandang, namun tetap ingin memiliki koleksi yang baru.
Dengan posisinya sebagai negara potensial untuk industri modest fashion dunia, menciptakan optimisme Indonesia bisa untuk bersaing di ranah global. Mengedepankan ciri khas budaya Indonesia, bisa jadi keunikan tersendiri dibanding negara lain dalam industri yang sama.
"Kita bisa menguasai pasar global dan menciptakan tren dunia. Banyak faktor yang mendukungnya, kita punya tenun, batik, sulam, bordir. Selain itu pelaku UMKM kita banyak, pekerja juga banyak, kita kaya akan budaya, kearifan lokal dan kekayaan alam." Papar Amy.
Indonesia yang kaya akan sumberdaya manusia dan alam sangat berpotensi untuk menjadi trendsetter dunia. Saat ini sudah mulai bermunculan produk lokal yang mengambil unsur budaya kearifan lokal sebagai model dari koleksinya. Beberapa mengambil latar belakang budaya di suatu daerah, seperti Papua, Kalimantan, Minang, dan sebagainya.
"Contoh yang paling hits di dunia modest saat ini ada adalah Eturia Scarves & Button Scarves. Produk ini bercerita tentang Karo heritage dan ada juga cerita tentang Kapal Lampung." papar Amy.
Kekayaan tersebut harus diolah untuk menjadi produk yang unik dan menjual. Karena itu Amy yakin, Indonesia bisa berkompetisi di industri modest fashion dengan bekal tersebut.
Baca juga: Outlook 2022, Teten : KemenKopUKM Fokus Redesign Struktur Ekonomi"Mulai tahun 2022 Indonesia bisa menjadi trendsetter dunia dengan desain kearifan lokalnya serta branding yang baik." Tutupnya.
Melihat peluang tersebut, Amy mengajak para pengusaha lokal yang bergelut di dunia modest fashion untuk bisa mengisi tempat di Indonesia, bahkan ekspor ke seluruh dunia.
(est)