LANGIT7.ID, Jakarta - Tim nasional (timnas) Indonesia masuk ke babak final AFF 2020 dan akan melawan Thailand. Ini adalah final ke-6 untuk Indonesia. Memanng, dari lima laga final di ajang AFF, Indonesia belum bisa merengkuh juara. Indonesia adalah pemegan rekor terbanyak untuk posisi runner-up di ajang sepak bola terbesar di Asia Tenggara. Sedangkan Thaland sudah delapan kali masuk ke babak final lima di antaranya mejadi juara. Tentu banyak yang bertanya bagaimana peluang Indonesia di babak final?
Pemain Timnas Indonesia Egy Maulana Vikri pun mengakui kualitas Thailand masih di atas. Namun pada babak final mental yang akan lebih banyak bicara. Tentang mental Indonesia Indonesia adalah yang terbaik. Melawan Vietnam dan Malaysia menjadi bukti bagaiamana Indonesia yang dianggap underdog justru berhasil menahan imbang dan menang 4-1 atas Harimau Malaya (julukan timnas Malaysia).
Masuk ke babak semi final, Indonesia bisa bangkit meski sempat tertinggal dan nyaris gagal masuk final jika penaliti Singapura di menit akhir tidak bisa digagalkan penjaga gawang Nadeo Argawinata.
Kelebihan lain yang dimiliki Indonesia adalah produktivitas gol. Dari semua tim yang berlaga, timnas Indonesia adalah yang paling produktif. Total 18 gol yang dilesakkan para pemain Garuda. Sebanyak 13 gol dihasilkan di babak penyisihan grup B dan 5 lainnya ketika mengjungkalkan Singapura di babak semi final. Bahkan hampir semua pemain timnas Indonesia mempunyai naluri menyerang secara spartan.
Pun fisik pemain Indonesia juga sudah cukup mumpuni karena selain diisi para pemain muda juga gemblengan Shin Tae-yong (STY) yang terus memberikan Latihan fisik berat kepada Evan Dimas dkk. Dengan beberapa kelebihan di atas, timnas Indonesia tidak boleh lengah.
Karena keberhasilan membawa piala AFF kali ini akan ditentukan 2x45 menit dengan format dua leg tanpa memerhatikan gol tandang. Catatan statistik dan ataupun rekor pertemuan akan sirna ketika memsuki babak final pada sebuah kompetisi.
Baca juga:
Jelang Indonesia vs Singapura, Statistik Skuad Garuda Kurang MoncerPelatih STY mempunyai catatan baik ketika melawan yang secara statistik dan rekor lebih moncer. Pada Piala Dunia 2018, pasukan STY saat itu yaitu Korea Selatan berhasil mengalahkan juara Piala Dunia 2014, Jerman dengan skor 2-0. Kekalahan ini juga membuat Jerman tersingkir di babak fase grup di Piala Dunia 2018.
Sekali lagi timnas Indonesia tak bisa lengah. Terutama pada jumlah kemasukan yang dialami yaitu tujuh gol. Tentu ini lebih banyak dibandingkan Thailand yang hanya kemasukan satu gol. Jika dilihat dari tujuh gol yang masuk ke gawang Indonesia ada dua hal yang harus diwaspadai yaitu skema bola mati lawan dan transisi dari menyerang ke bertahan.
Dari tujuh gol yang tercipta enam di antaranya tercipta karena dua kondisi itu, empat dari bola mati dan satu dari serangan cepat lawan. Ketika lawan Kamboja, Indonesia kebobolan dua gol dari skema bola mati.
Pertama dari sepak pojok dan kedua dari tendangan bebas. Begitu juga ketika melawan Singapura di semi final leg ke-2. Satu gol dari sepak pojok dan satu gol tendangan bebas yang bersarang di pojok kanan atas gawang Nadeo, Sedangkan dua gol lain menunjukkan bagaimana lubang pertahanan Indonesia ketika asyik menyerang.
Pertama ketika melawan Laos di mana satu pemain bertahan timnas Indonesia harus berhadapan dengan dua pemain Laos. Satu lagi gol Singapura di semi final leg pertama. Bagaimana Elka Baggott gagal menjebak offside karena sudah sulit mengcover dua penyerang Singapura.
Thailand memilki kecepatan dan kemampuan memanfaatkan situasi skema bola mati. Ini yang harus diwaspadai timnas Indonesia pada babak final nanti.
Jangan membuat pelanggaran di depan kotak penalti atau bahkan di kotak penalti dan balance defend yang harus diperhatikan saat menyerang. Karena Indonesia mempunyai kemampuan menyerang yang baik perlu diimbangi balance defend yang baik ketika ada serangan balik*
Catatan : Djaka Susila (Pemred Langit7.id dan Penikmat Sepak Bola)(sof)