LANGIT7.ID - Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) mengingatkan, salah satu karunia terbesar Allah Ta'ala kepada seorang hamba adalah kemampuan memperbaiki diri setiap hari.
Kesadaran ini penting dilakukan saat memasuki momen pergantian tahun baru. Kerap diri terlena dengan euforia gempita kembang api dan sebagainya, sehingga lupa jika maut bisa datang kapan saja. Terdapat banyak jalan tafakur yang bisa dilalui.
Namun, jalan tafakur mesti diawali dari diri sendiri, mulai dari yang paling terkecil, dan mulai saat ini. Tidak ada kata tunda-menunda dalam kamus seorang muslim. Tiap kali hari usai, luangkan sejenak mengingat semua dosa diri.
"Jujur katakan kepada hati apapun dosa yang telah dilakukan. Lalu luangkan dzikir dan istighfar untuk memohon ampun kepada Sang Penguasa alam semesta. Mengingat-ingat dosa merupakan jalan pertama untuk perbaikan diri," kata melalui kanal youtube Aa Gym Official, dikutip Jumat (31/12/2021).
Jalan kedua, seorang muslim perlu bercermin. Ibarat seorang wanita di hadapan cermin. Ia akan melihat setiap detil kekurangan dalam penampilan, lalu memperbaikinya. Demikian pula seorang muslim seharusnya berbuat. Cermin akan menampakkan keburukan diri.
Pantulan keburukan dari cermin itulah yang diikuti dengan kesadaran penuh, sebagai bahan tafakur kepada-Nya.
Baca Juga: Jelang Momen Pergantian Tahun, Bagaimana Resolusi dalam Islam?
Ketiga, tafakur memperbaiki diri ini memerlukan seorang guru. Guru adalah orang yang paling jujur dalam menampakkan setiap keburukan kita sendiri. Terlebih jika guru itu memiliki kualitas akhlak yang lebih dari kita dan kualitas keilmuan yang lebih baik.
Hal terpenting dari seorang guru adalah kualitas keikhlasan dalam membimbing seorang murid. Motivasi guru semacam ini selalu berorientasi pada kebaikan murid. Ia akan meluangkan waktu, pikiran, dan memberikan hatinya untuk sang murid.
"Semakin tinggi tingkat keikhlasan seorang guru, maka semakin kuat daya gugat dan daya ubahnya bagi seorang murid. Maka penting sekali bagi kita untuk meminta kepada Allah seorang guru yang tauhidnya bagus, bersih hatinya, dan benar-benar mau mendidik tanpa pamrih, tidak hanya memberikan ilmu tapi juga memberikan pikiran dan hatinya," tutur Aa Gym.
Guru semacam ini juga tak pernah lupa untuk mendoakan kebaikan untuk sang murid. Jadi, keberadaan guru merupakan salah satu kunci perubahan dalam diri seseorang.
Keempat, memanfaatkan orang-orang yang tidak menyukai kita. Sesuatu yang paling melelahkan dalam hidup ini jika menginginkan semua orang menyukai kita. Rasulullah saja sebagai manusia paling baik akhlaknya, masih dimusuhi dan dibenci.
Suka dan benci adalah sunnatullah. Satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Pribadi seorang muslim tidak melihat para pembenci sebagai ancaman. Justru, ancaman jika tidak mampu mengakui kekurangan, keburukan, dan memperbaiki diri.
"Nah, di antara karunia Allah itu adalah orang yang tidak menyukai kita. Kita jernih-jernih saja, karena sebenarnya mereka tidak membahayakan, perkatannya, tulisannya, apapun yang dilakukan itu tidak membahayakan," kata Aa Gym.
Para pembenci adalah aset bagi orang Islam jika disikapi dengan benar. Tiap kritikan bahkan ejekan sekalipun adalah baik jika ditanggapi dengan kebaikan. Bukankah derajat seorang muslim akan semakin tinggi jika membalas keburukan dengan kebaikan?.
"Apa yang membuat kita tidak bisa memanfaat orang itu? karena kita menganggap mereka bukan aset perubahan pada diri kita. Kita hanya melihat mereka sebagai ancaman yang merugikan kita," tutur Aa Gym.
Seorang tidak pernah hina dina jika dicaci-maki. Walau seluruh dunia menghina, tapi jika Allah menghendaki kemuliaan, pasti hinaan itu tak berefek sama sekali. Keburukan orang terhadap kita adalah ilmu.
"Kalau ada orang menjelekkan kita, kita bisa tafakkur, jangan-jangan itu adalah informasi dari Allah terhadap keburukan saya. Mungkin saya pernah jelekin orang. Itu jadi bahan tafakur diri, daripada sibuk memikirkan oang yang berkata jelek kepada kita. Lebih baik tafakur bahwa Allah menakdirkan ada orang berbuat seperti itu," ucap Aa Gym.
Kelima, tafakuri lingkungan sekitar. Ada ilmu dan bahan tafakur pada keluarga, masyarakat sekitar, bahkan pada pohon-pohon yang diterpa angin. Setiap kelebihan dan kekurangan orang lain adalah ilmu yang membukakan jalan untuk selalu mengingat kepada-Nya.
"Tiap kebaikan yang kita lihat, itu pasti datangnya dari Allah. Jadi setiap saat kita dalam keadaan tafakkur, karena tidak ada kejadian kebetulan, bahkan kita bisa belajar dari anak, dari kelebihan dan kekurangannya. Kebaikan itu milik Allah. Siapapun yang berbuat kebaikan, itu pasti atas bimbingan Allah Ta'ala," terang Aa Gym.
(jqf)