LANGIT7.ID - Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikenal sebagai kiai nyentrik yang memiliki selera humor tinggi. Orang yang mendengar humor Gus Dur bisa tertawa terpingkal-pingkal. Mulai dari rakyat jelata hingga banyak kepala negara telah berhasil dibuat tertawa oleh Gus Dur.
Humor Gus Dur tak hanya mengundang tawa, tapi juga mengajarkan banyak hikmah tentang kehidupan. Tak jarang ia menyampaikan materi bersifat dakwah namun dikemas dalam bentuk humor.
Gus Dur tutup usia pada 30 Desember 2009 lalu pada usia 69 tahun. Namun, kelakar dan guyonan Gus Dur selalu dikenang, seperti jasa besarnya untuk negeri ini, baik saat menjadi presiden maupun ketika menjadi guru bangsa dari Nahdlatul Ulama (NU).
Baca Juga: 5 Fakta Unik Tentang Gus Dur, Kuasai 6 Bahasa Asing hingga Tak Punya DompetBerikut 7 guyonan Gus Dur yang lucu namun penuh makna:
1. Pelatih Timnas Korea Selatan Dikutip dari buku Tertawa Bersama Gus Presiden Dur, dalam sebuah kompetisi sepak bola Piala Dunia 2002 Korea Selatan mencetak prestasi luar biasa dengan mengalahkan tim Italia di babak perdelapan final.
Menurut Gus Dur, ternyata prestasi Korsel itu tidak terlepas dari 'sumbangan' NU, karena pelatihnya bernama Guus Hiddink. Sebutan 'Gus" merupakan (panggilan) untuk anak-anak 'darah biru' di Jawa timur, baik anak kiai di pondok pesantren atau anak-anak priyayi Jawa. Asal-usulnya dari kata 'Raden Bagus', yaitu sebutan untuk priyayi kecil, diubah menjadi 'Den Bagus' dan Akhirnya 'Gus' saja.
Sementara Guus Hiddink adalah pelatih sepakbola kelas dunia yang berasal dari Belanda, tetapi namanya ditulis dengan dua huruf U. Humor satu ini pernah menjadi salah satu favorit Gus Dur, karena dia dikenal sosok yang suka terhadap sepak bola.
2. Alasan Meninggalkan Istana Negara Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur pernah bercerita tentang perbincangannya dengan Luhut Binsar Pandjaitan tentang pelengserannya dari kursi presiden. Saat itu, dia bercerita kepada Luhut tentang hukum dalam islam yang mengatur jika seseorang diusir dari rumahnya dia harus melawan, kalau perlu menggunakan kekerasan.
Namun, Gus Dur tak ingin mengambil jalan kekerasan. Dia lalu meminta bantuan Luhut untuk mengurus surat perintah pengosongan Istana Negara dari kantor Kelurahan Gambir. Ini karena Istana Negara bertempat di Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat.
Lantaran pengosongan istana negara adalah kehendak pemerintah setempat yang sah, maka Gus Dur tak perlu melawan sama sekali. Kewajiban mempertahankan 'rumah' pun gugur. Dia keluar dari istana tanpa gejolak. Dia tak menjadikan pelengseran dirinya sebagai beban.
Dalam perbincangan dengan Maman Imanulhaq yang ditulis dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur (2010), Gus Dur ditanya Maman alasan membuat surat perintah dari lurah Gambir.
"Supaya nanti ketika ditanya di hadapan Allah, kenapa kamu meninggalkan Istana Negara? tinggal saya jawab, 'monggo ditanya saja ke Lurah Gambir'" seloroh Gus Dur.
3. NU Lama dan NU Baru Suatu ketika pada bulan Ramadhan, Gus Dur mendatangi rumah Presiden Soeharto untuk buka puasa bersama. Dia ditemani Kiai Asrowi.
Setelah berbuka dan shalat Maghrib, Gus Dur ingin pergi ke tempat lain dan melewatkan waktu shalat Tarawih bersama. Pak Harto pun meminta kepada Gus Dur agar Kiai Asrowi tetap tinggal untuk memimpin shalat Tarawih bersama.
Gus Dur pun mengiyakan permintaan Pak Harto tersebut. Namun, menurut Gus Dur, sang Kiai harus diberi penjelasan dulu apakah shalat Tarawih akan dilaksanakan dengan cara NU Lama atau NU Baru.
Pak Harto pun bingung karena tak mengetahui perbedaan NU lama dan NU baru. Dia lalu bertanya, "Memang kalau NU lama gimana?"
Gus Dur menjawab, "Kalau NU lama, tarawih dan witirnya itu 23 rakaat."
"Kalau NU baru?" tanya Pak Harto.
"Kalau NU baru diskon 60 persen, jadi tarawih sama witirnya cuma tinggal 11 rakaat." jawab Gus Dur dengan santai.
4. Gus Dur Sakit Gigi Gus Dur sudah beberapa hari sakit gigi. Cenat-cenut. Duduk tetap sakit, berbicara sakit, mendengarkan musik juga masih sakit.
"Siapa bilang sakit hati lebih berat daripada sakit gigi?" kata Gus Dur kepada seorang stafnya.
"Lha kan iya lebih baik sakit gigi daripada sakit hati Gus?" jawa seorang stafnya.
"Lebih baik sakit hati saja," kata Gus Dur.
"Lah, kenapa Gus?".
"Saya ini lagi sakit gigi....!" kata Gus Dur agak berteriak. Staf Gus Dur tak berani bertanya lagi.
5. Becak tak Boleh Masuk Gus Dur pernah bercerita kepada salah seorang menterinya, Mahfud MD, tentang orang Madura yang banyak akal dan cerdik. Ceritanya bermula saat ada seorang tukang becak asal Madura kepergok seorang polisi memasuki kawasan bertuliskan 'becak dilarang masuk'.
Polisi pun langsung datang menyemprit tukang becak yang melanggar aturan itu. "Apa kamu tidak melihat gambar itu? Becak tak boleh masuk jalan ini," kata polisi itu membentak.
"Oh saya lihat pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada orangnya. Becak saya kan ada orangnya, berarti boleh masuk," jawab si tukang becak.
"Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan becak dilarang masuk!" bentak pak polisi lagi.
"Tidak pak, saya tidak bisa baca. Kalau saya bisa baca, ya saya pasti jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini," bantah si tukang becak sambil cengengesan.
6. Gus Dur Halalkan Ikan Curian Saat masih muda, Gus Dur belajar di Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam atau Pesantren API, Tegalrejo, Magelang pada 1957-1959.
Gus Dur bersama beberapa teman merancang skenario pencurian ikan di kolam milik sang guru, Kiai Chudlori. Pada waktu itu, Gus Dur menyuruh teman-temannya untuk mencuri ikan di kolam, sementara ia mengawasi di pinggir kolam.
Gus Dur tak ikut serta masuk kolam, ia hana di pinggirnya saja, dengan dali untuk mengawasi jika sewaktu-waktu Kiai Chudlori keluar dan melewati kolam.
Tak lama kemudian, Kiai Chuldlori yang selalu keluar rumah setiap pukul 01.00 WIB untuk menunaikan shalat malam di masjid melintas di dekat kolam.
Saat itu juga, teman-teman Gus Dur yang tengah asyik mengambil ikan, langsung disuruh kabur. Sementara Gus Dur tetap berdiri di pinggir kolam dengan memegang ikan hasil curian.
"Tadi ikan milik Pak Kiai telah dicuri oleh santri-santri bengal dan saya berhasil mengusir para pencuri itu. Ikan hasil curiannya berhasil saya selamatkan," kata Gus Dur kepada sang kiai.
Kiai Chudlori lalu menghadiahkan ikan tersebut kepada Gus Dur untuk dimasak bersama teman-temannya. Ikan itu pun langsung dimasak dan dinikmati Gus Dur bersama teman-teman bengalnya.
Teman-teman bengal yang disuruh mencuri tadi mengajukan protes kepada Gus Dur. Namun, bukan Gus Dur kalau tidak bisa berdalih yang lebih penting adalah hasilnya.
"Ah kamu juga ikut makan ikannya. Lagi pula, ikan ini kan sudah halal," kata Gus Dur.
7. Saat Gus Dur DibohongiGus Dur diketahui rutin tidur malam pukul 01.00 WIB. Saat malam hari, Gus Dur sering bertanya kepada keluarga atau stafnya, "jam berapa sekarang?". Jika belum sampai waktu yang ditentukan, dia tidak akan tidur.
Nah, untuk menjaga kesehatan Gus Dur agar tidak tidur terlalu malam, pihak keluarga pun bersekongkol. Jadi, kalau Gus Dur tanya jam berapa, semua sepakat menjawab jam 01.00.
Kejadian itu berlangsung beberapa kali. Gus Dur pun akhirnya sadar. "Wah selama ini saya dikibulin."
Tanpa sepengetahuan keluarga, Gus Dur membeli jam tangan yang ketika dipencet bisa berbunyi.
Suatu malam, pukul 23.00, Gus Dur bertanya, "sudah jam berapa sekarang?" Kompak semua bilang, "Jam satu Gus!"
Sambil tersenyum, Gus Dur langsung memencet jam tangan dan bisa didengar semua: "sekarang jam 11 malam," kata jangan tangan itu dalam bahasa Inggris.
(jqf)