LANGIT7.ID, Jakarta - Lembaga Biologi Molekuler Eijkman baru saja dilebur ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peleburan ini menyebabkan seratusan peneliti dan staf tak lagi bisa bekerja karena terbentur urusan administrasi. Jika dilihat kilas baliknya, dalam beberapa tahun terakhir Eijkman telah memiliki banyak kontribusi tidak hanya di skala nasional namun juga global.
Diketahui, lembaga riset yang sudah diakui secara internasional itu pertama kali didirikan pada 1888. Lembaga itu didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan nama Central Geneeskundig Laboratorium atau Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat. Pada 1938, nama Eijkman digunakan untuk mengganti Geneeskundig Laboratorium. Nama itu diambil dari dokter sekaligus peneliti Belanda, Christiaan Eijkman. ia adalah penerima penghargaan Nobel bidang kedokteran pada 1929 atas konsep penemuan vitamin, saat meneliti penyakit beri-beri di Batavia.
Baca Juga: Sejarah Eijkman, Lembaga Riset Biologi Molekuler yang Kini Dilebur ke BRIN
Kiprah Lembaga Eijkman, terlebih di masa pandemi Covid-19 begitu berdampak bagi masyarakat. Berikut LANGIT7.ID telah merangkum 7 riset Eijkman yang bermanfaat bagi masyarakat beberapa tahun terakhir.
1. Emerging Virus Research Unit (EVRU) Emerging Virus Research Unit (EVRU) adalah Unit Virology yang baru didirikan di Eijkman Institute yang berfokus pada studi virus endemik dan emerging yang beredar di Indonesia. Unit yang diresmikan pada 2012 ini melakukan penelitian dan penyediaan data prevalensi virus baru dan emerging (etiologi penyakit) khususnya yang berisiko pandemik.
EVRU merupakan laboratorium unit level 2 sekaligus lab kultur jaringan. Selain itu, laboratorium BSL-3, ruang laboratorium pengujian serologi, PCR waktu nyata dan fasilitas pengurutan tersedia di lokasi.
Dengan sekuensing mendalam dan uji referensi standar tinggi di lokasi, EVRU tetap menjadi fasilitas unik untuk memimpin penelitian patogen baru, pelatihan, dan mendukung kesehatan masyarakat di Indonesia.
EVRU bekerja sama dengan mitra lokal dan memberikan pelatihan kepada ilmuwan, dokter hewan dan dokter Indonesia dalam melakukan penelitian lapangan, laboratorium, dan klinis patogen yang ingin menerapkan kapasitas Indonesia untuk diagnosis lokal, surveilans, penelitian, dan respons terhadap infeksi zoonosis yang muncul.
2. Genome Diversity and Diseases Laboratory Genome Diversity and Diseases Laboratory merupakan tempat bagi berbagai kegiatan penelitian, yang berkisar pada studi fundamental dan terapan dari DNA mitokondria dan nuklir.
DNA mitokondria adalah materi genetik yang diturunkan secara maternal yang penting untuk analisis filogeni dan identifikasi spesies. Sedangkan DNA inti menyimpan informasi genetik individu penting dari kedua orang tua yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Di lab itu, Eijkman mengkolaborasikan keduanya untuk studi populasi dan studi asosiasi penyakit. Dulu dikenal sebagai lab transduksi energi dan keanekaragaman manusia, lab itu telah berkembang selama bertahun-tahun untuk mengikuti teknik, kemajuan teknologi, dan aplikasi studi DNA yang lebih luas yang tersedia di lapangan.
Ada tiga kelompok penelitian di lab yang mengerjakan proyek penyakit terkait gaya hidup, antropologi molekuler, dan genetika satwa liar.
Para peneliti Eijkman bekerja dengan berbagai sampel biologis dari darah, serum, jaringan plasenta, tulang berusia 2000 tahun, hingga sumber DNA yang tak terduga. Mereka juga bekerja sama dengan unit forensik DNA dalam membangun database database populasi manusia dan satwa liar Indonesia.
3. Malaria and Vector Resistance Laboratory Selama berabad-abad, malaria telah menjadi masalah utama di banyak negara di dunia. Meskipun penyakit ini dapat dicegah dan diobati, evolusi konstan parasit malaria dan vektor nyamuknya merupakan tantangan yang selalu ada dalam pertempuran melawan penyakit itu.
Insektisida, vaksin dan pengembangan obat berada dalam perlombaan ketat konstan melawan munculnya insektisida dan resistensi obat. Strategi menyeluruh sangat penting untuk mencapai pengendalian dan eliminasi malaria yang efektif.
Fokus penelitian Laboratorium Resistensi Malaria dan Vektor di Institut Eijkman ada lima yakni:
- Mekanisme molekuler yang mendasari resistensi Plasmodium terhadap obat antimalaria
- Penemuan obat antimalaria melalui bahan alam
- Mekanisme molekuler yang mendasari resistensi nyamuk terhadap insektisida
- Taksonomi molekuler nyamuk Anopheles
- Pendekatan baru dalam pengendalian malaria
4. Laboratorium Bakteriologi Molekuler Infeksi Streptococcus pneumoniae (S. pneumoniae atau pneumococcus) adalah penyebab utama pneumonia bakteri, meningitis, dan sepsis pada anak-anak di seluruh dunia. Diperkirakan 1,6 juta orang meninggal karena infeksi ini setiap tahun, satu juta di antaranya adalah anak-anak.
Pada lansia, pneumonia yang disebabkan oleh mikroorganisme ini merupakan masalah kesehatan yang utama. Insiden penyakit pneumokokus invasif sangat bervariasi menurut usia, latar belakang genetik, status sosial ekonomi, status kekebalan, dan lokasi geografis.
Polisakarida kapsul dikenal sebagai faktor virulensi utama S. pneumoniae. Lebih dari 93 serotipe telah diidentifikasi berdasarkan struktur kimia yang berbeda dari polisakarida ini. Keragaman ini menentukan kemampuan serotipe untuk bertahan hidup di aliran darah dan sangat mungkin menyebabkan penyakit invasif, terutama pada saluran pernapasan.
Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa antibodi terhadap polisakarida sangat penting untuk perlindungan terhadap penyakit pneumokokus. Saat ini, data epidemiologi dan distribusi serotipe penyakit pneumokokus di Indonesia masih terbatas.
Laboratorium Bakteriologi Molekuler mengkaji penyakit pneumokokus di Indonesia, seperti perkembangan epidemiologi, bakteriologi, klinis, molekuler, imunologi dan vaksin.
5. Dengue Research UnitDemam berdarah adalah salah satu penyakit virus yang ditularkan oleh nyamuk paling umum di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus dengue dan ditularkan ke manusia melalui gigitan vektor nyamuk Aedes.
Setiap tahun, sekitar 50 juta infeksi terjadi di sekitar 100 negara di daerah tropis dan subtropis di dunia dengan potensi penyebaran lebih lanjut. Penyakit ini menyerang sekitar 2,5 miliar orang yang tinggal di Asia Tenggara, Pasifik, dan Amerika.
Dengue menyebabkan manifestasi klinis yang bervariasi, mulai dari demam yang tidak terdiferensiasi (Demam Dengue, DF) hingga bentuk penyakit yang lebih parah, demam berdarah dengue (DBD) dan sindrom syok dengue (DSS).
Indonesia adalah negara kepulauan yang sering terkena penyakit ini. Demam berdarah terjadi di 34 provinsi di negara ini setiap tahun dan wabah besar berkala terjadi secara teratur.
Meskipun endemisitas penyakit, saat ini hanya ada data terbatas tentang epidemiologi penyakit yang tersedia. Laboratorium ini menyelidiki dinamika penyakit demam berdarah di Indonesia, melihat banyak aspek penyakit seperti epidemiologi, klinis, virologi, dan imunologi.
Para peneliti di unit ini juga tertarik pada genetika vektor nyamuk demam berdarah, diagnosa demam berdarah, dan pengembangan vaksin. Dalam pengembangan vaksin, kami terlibat dalam uji klinis vaksin dengue di Indonesia.
Unit penelitian DBD telah aktif berkolaborasi dengan mitra penelitian nasional dan internasional dari akademisi, lembaga penelitian, dan perusahaan farmasi. Lab kami mematuhi dan disertifikasi untuk Good Clinical Laboratory Practice (GCLP). GCLP adalah sistem mutu internasional untuk laboratorium yang melakukan analisis sampel dari uji klinis.
Selain itu, unit ini juga berpartisipasi dalam program penjaminan mutu eksternal (EQA) internasional untuk diagnostik molekuler dengue, yang diselenggarakan oleh QCMD, Inggris.
6. DNA Sequencing LaboratoryFasilitas Sequencing DNA dari Eijkman Institute menyediakan layanan sekuensing DNA untuk peneliti internal maupun masyarakat umum. Fasilitas ini dilengkapi dengan Applied Biosystem 3130 dan 3130xl Genetic Analyzer untuk Sanger sequencing dan analisis fragmen (genotyping).
Para peneliti melakukan analisis berdasarkan prosedur operasi standar dan siap membantu dalam pemecahan masalah. Unit DNA Sequencing juga dilengkapi dengan mesin Next Generation Sequencing (Ion Torrent PGM) yang dioperasikan oleh staf EVRU.
7. Red Blood Cells Membrane and Enzyme Disorders Unit Gangguan Membran dan Enzim Sel Darah Merah mempelajari varian genetik yang mempengaruhi fungsi dan integritas membran dan enzim sel darah merah manusia, serta kondisi hematologi bawaan lainnya.
Unit ini berfokus pada prevalensi dan keragaman genetik defisiensi G6PD di Indonesia, dan faktor risiko molekuler hiperbilirubinemia lainnya di Indonesia.
Para peneliti juga bekerja untuk mendeteksi defisiensi G6PD, sferositosis sel darah merah, dan kelainan bawaan lainnya seperti Prader-Willi Syndrome (PWS) dan/atau Angelman Syndrome (AS), dan Distrofi Otot Duchene (DMD).
Selain 7 daftar di atas, sebenarnya masih banyak lagi hasil riset Eijkman yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
(jqf)