LANGIT7.ID, Sinjai - Generasi terbaik lahir dari hafidz Qur'an. Mereka tak sekadar membaca dan menghafal, makna yang terkandung di dalam kitab suci terejawantah dalam kehidupan sehari-hari. Tak heran jika para sahabat dibaiat sebagai generasi terbaik umat ini.
Kala peradaban Islam menjadi mercusuar intelektual dunia, Al-Qur'an menjadi rujukan utama sebagai sumber Ilmu. Siapa yang tak kenal Bayt Al-Hikmah, sebuah pusat ilmu pengetahuan pada era Bani Abbasiyah (750 M-1517 M). Qur'an pun menjadi tiang penguat para ilmuwan muslim masa itu.
Al-Qur'an sebagai sumber nilai itu yang hendak diterjemahkan Rumah Tahfidz Al-Furqan Bongki menjadi sebuah peradaban Qur'ani di Sinjai, Sulawesi Selatan. Daerah itu memang terkenal sebagai bumi Panritta Kitta (ulama). Ulama menjadi imam dalam kehidupan bermasyarakat.
Perjalanan peradaban Islam menjadi cahaya di tengah kegelapan itu berangkat dari pendidikan Qur'an sejak belia. Tak heran jika Al-Furqan fokus mendidik anak-anak usia dini. Wajah mungil nan lucu mereka seumpama secarik kertas putih, tanpa noda. Jika kitab suci menjadi interaksi pengawal hari, santri-santri cilik ini dipercaya akan membangun peradaban berbasis Qur'an saat dewasa kelak.
"Mereka adalah pemimpin masa depan, jadi Al-Furqan ingin mendidik anak-anak dengan Al-Qur'an sejak dini, sehingga bangsa ini dipimpin oleh penghafal Qur'an 30-50 tahun ke depan," kata As'ad.
Pernyataan As'ad sejalan dengan cita-cita Bupati Sinjai, Andi Seto Asapa. Ia menjadikan tahfidz Qur'an sebagai salah satu program unggulan di Tanah Bugis. Ia ingin membumikan Qur'an sebagai kajian utama masyarakat di bumi Panritta Kitta.
"Kami punya program pelatihan tahfidz setiap tahun di pondok pesantren. Selama tiga tahun kita cetak 20 penghafal Al-Qur'an, dan tahun ini kita tingkatkan menjadi 30 orang," kata Andi Seto saat menghadiri wisuda santri Al-Furqan Bongki, Ahad (9/1/2022).
Al-Furqan telah berdiri sejak 1993 silam. Berawal dari halaqah Qur'an untuk anak usia dini yang digagas oleh Ummi Rabiah. Motivasi awal pendirian Rumah Tahfidz ini tergolong unik, ibarat kesulitan yang berbuah berkah.
Ummi Rabiah merasa kesulitan mengajari anak-anaknya untuk mengenal huruf-huruf Al-Qur'an. Jiwa dakwahnya pun muncul. Ia berpikir untuk membuat halaqah Qur'an dalam format TK/TPA. Tak butuh waktu lama, halaqah itu digandrungi masyarakat sekitar. Mereka mengirim anak-anaknya untuk belajar Qur'an di tempat itu.
Hingga 28 tahun berlalu, Al-Furqan telah bertransformasi menjadi rumah tahfidz. Setiap tahun, ada ratusan santri cilik mendaftar. Rumah Ummi Rabiah yang disulap menjadi ruang belajar dipenuhi ratusan wajah-wajah ceria setiap hari.
Al-Furqan kini menjadi tempat untuk menanamkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur'an melalui interaksi membaca, menghafal dan mendidik perilaku yang berakhlak Al-Qur'an. Halaqah Qur'an di bawah naungan Yayasan Pendidikan Al-Furqan Bongki hadir sebagai partner keluarga dalam mengajarkan Al-Qur'an.
"Kami berkomitmen untuk mengambil peran dalam mewujudkan generasi Qur'an, khususnya di Kabupaten Sinjai," kata As'ad.
(jqf)