LANGIT7.ID - Vaksin Covid-19 dari Pfizer termasuk yang mendapat persetujuan WHO untuk disebarluaskan karena menawarkan perlindungan cukup terhadap virus.
Seperti vaksin lain, vaksin ini juga menimbulkan efek samping umum yang kerap dilaporkan, seperti kelelahan, nyeri atau pegal di area suntikan, mual, hingga sedikit demam.
Meski ada pula reaksi serius namun sangat jarang, yakni penggumpalan darah usai divaksi AstraZeneca dan Johnson & Johnson, namun jumlahnya sangat kecil.
Kabar terkini soal efek samping datang dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) yang melaporkan ada efek samping serius yang jarang ditemukan. Sebuah studi terbaru menemukan kaitan antara Bell’s Palsy dengan vaksin Pfizer.
Penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal BMJ Case Reports dengan merinci kasus seorang pasien berusia 61 tahun.
Ia dirawat di ruang gawat darurat setelah mulai mengeluarkan air liur, kehilangan kemampuan menutup mata kanannya, dan sisi kanan dahinya tidak bisa bergerak sekitar lima jam setelah menerima dosis pertama vaksin Pfizer.
Usai CT Scan dan tes darah dilakukan, dokter kemudian mendiagnosis pria ini mengalami Bell’s Palsy
Bell’s Palsy adalah istilah medis untuk kondisi kelumpuhan otot wajah yang biasanya bersifat sementara. Steroid adalah salah satu yang sering direkomendasikan untuk pengobatan kondisi ini.
Laporan mencatat dua hari setelah menerima dosis kedua vaksin Pfizer, pasien yang sama harus kembali dirawat di rumah sakit, juga dengan kasus kelumpuhan wajah. Kali ini, kondisinya lebih parah di bagian sisi kiri.
"Terjadinya kondisi ini tak lama setelah dosis vaksin diberikan, sangat menunjukkan bahwa Bell's palsy dikaitkan dengan vaksin Pfizer - BioNTech, meskipun hubungan sebab akibat tidak dapat ditetapkan," ujar Abigail Burrows, penulis utama studi dari Royal Surrey County Hospital NHS, Yayasan Trust, dilansir Best Life Online, Kamis (22/7).
Dengan dua kasus Bell’s palsy terkait vaksin Pfizer dicatat, peneliti melaporkan kemungkinan ini terkait riwayat kesehatan pasien, diantaranya adalah tekanan darah tinga, kolestrol tinggi, dan diabetes tipe 2, serta kelebihan berat badan.
"Ke depan, pasien telah disarankan mendiskusikan vaksin mRNA dengan dokter mereka berdasarkan kasus per kasus.
"Konsultasi dan anjuran vaksin mesti mempertimbangkan risiko versus manfaat setiap vaksin," jelas tim peneliti.
Sebenarnya ini bukanlah kasus Bell's palsy pertama yang dilaporkan sebagai efek samping potensial dari vaksin Covid-19. Selama uji klinis fase tiga, empat sukarelawan yang menerima vaksin mRNA Pfizer - BioNTech melaporkan kelumpuhan wajah.
Bukan hanya Pfizer, tiga sukarelawan yang menggunakan vaksin Moderna juga melaporkan kondisi tersebut, serta satu orang dari kelompok plasebo uji coba.
Namun, beberapa ahli mengingatkan bahwa studi menunjukkan cukup bukti untuk menghubungkan vaksin Pfizer dengan kelumpuhan wajah.
"Bell's palsy bukanlah kondisi yang langka, dan kebetulan yang sangat disayangkan bahwa pasien memiliki dua kejadian serupa usai vaksinasi," kata Kevin McConway, profesor emeritus statistik terapan di The Open University yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Menurut McConway, meski Bell's palsy pada satu pasien ini disebabkan oleh vaksin, namun satu kasus tidak bisa menjadi landasan menyimpulkan seberapa besar potensi itu terjadi setelah vaksinasi.
Penulis penelitian juga menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 bukanlah yang pertama berpotensi dikaitkan dengan kelumpuhan wajah.
"Pada 2004, vaksin influenza intranasal yang tidak aktif terbukti secara signifikan meningkatkan risiko Bell's palsy dan dihentikan,” ujar tim peneliti.
Tim peneliti mengungkap peningkatan insiden Bell's palsy juga terlihat setelah vaksin meningokokus , meskipun hubungan sebab akibat belum dibuktikan secara ilmiah.
(arp)