LANGIT7.ID, Jakarta - Islam merupakan agama yang mengedepankan adab dalam segala hal, termasuk dalam bercanda. Tidak ada larangan dalam bersenda gurau. Namun, ada batasan-batasan yang harus diperhatikan agar tidak menimbulkan perselisihan.
Dalam riwayat, ada sahabat yang selalu membuat Rasulullah tertawa, yakni Nu'aiman. Ia dikenal sebagai sahabat yang usil tapi kehadirannya selalu membuat hati semua orang riang. Bahkan, Nu'aiman akan surga juga sambil tertawa.
Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah pun kerap bercanda. Dalam sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, suatu ketika perempuan tua datang kepada Rasulullah.
"Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah supaya memasukkanku ke dalam surga," kata nenek itu.
"Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh orang sudah tua renta," jawab Rasulullah.
Wanita tua itu pun berpaling sambil menangis. Lalu, Rasulullah SAW bersabda, "Beritahu dia kalau dia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua renta. Sebab, Allah Ta'ala berfirman, 'Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, lagi sebaya umurnya. (QS. Al-Waqiah: 35-37).'"
Nenek itu pun tersenyum.
Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, "Wahai Rasulullah! Apakah engkau juga bersenda gurau bersama kami?"
Rasulullah menjawab, "Benar. Hanya saja, saya selalu berkata benar." (HR Ahmad).
Dari riwayat tersebut bisa disimpulkan Islam tidak melarang seseorang bercanda. Hanya saja, ada adab yang perlu diperhatikan. Di antara tuntunan bercanda itu ialah:
Pertama, tidak berlebihan. Sebab, canda yang berlebihan akan menjatuhkan kehormatan dalam pandangan manusia. Kehormatan dan harga diri manusia dalam Islam sama dengan kehormatan darah dan hartanya.
Kesadaran orang untuk tidak mencuri harta atau mencelakai orang lain, belum cukup tanpa kesadaran menjaga kehormatan orang. "Setiap muslim dengan muslim lain diharamkan darah, harta, dan harga dirinya" (HR Muslim).
Kedua, bukan cacian dan cemoohan. Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)." (QS. Al-Hujurat: 11).
Ketiga, tidak menjadikan candaan sebagai kebiasaan. Kesungguhan dan keseriusan adalah karakter pribadi muslim, sedang kelakar hanya sekadar jeda, rehat dari kepenatan.
Keempat, isi candaan bukan dusta dan tidak dibuat-buat. "Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa, celakalah!" (HR Abu Dawud).
Kelima, tidak menjadikan aspek agama sebagai bahan candaan. Allah Ta'ala berfirman,
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah, Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kami minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.
Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa." (QS at-Taubah: 65-66).
(jqf)