Hamas mengecam pernyataan Presiden Biden yang menuduh mereka mundur dari kesepakatan gencatan senjata. Mereka menyebut ini sebagai lampu hijau bagi Israel untuk melanjutkan perang. Hamas berkomitmen pada kerangka gencatan senjata sebelumnya dan mendesak AS untuk bersikap adil.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan rencana kunjungan ke Gaza dalam pidato di parlemen Turki. Ia menegaskan komitmen untuk Palestina bersatu dan mengkritik serangan Israel. Kunjungan ini terjadi di tengah konflik berkepanjangan dan upaya gencatan senjata yang belum berhasil. Abbas juga mengenang pemimpin Hamas yang tewas dan memuji dukungan Turki.
Hamas kehilangan kepercayaan pada AS sebagai mediator gencatan senjata di Gaza. Osama Hamdan, pejabat senior Hamas, menyatakan kelompok tersebut hanya akan berpartisipasi dalam pembicaraan jika fokus pada implementasi proposal Presiden Biden. Ketidakpercayaan ini muncul di tengah konflik yang telah berlangsung 10 bulan, menewaskan ribuan orang dan mengancam stabilitas regional. Hamas menuduh Israel tidak bernegosiasi dengan itikad baik, sementara Israel membantah tuduhan tersebut.
Ulama Syiah tertinggi Irak, Grand Ayatollah Ali Sistani, memperingatkan eskalasi regional di Timur Tengah setelah terbunuhnya pemimpin militan yang didukung Iran. Ia mendesak penghentian perang genosida di Gaza, di mana serangan Israel ke sekolah pengungsian menewaskan 90 orang. Pembunuhan pemimpin Hamas dan Hizbullah meningkatkan risiko konflik lebih luas. Sistani menyerukan dunia menentang kekejaman dan umat Islam bersatu mengakhiri perang.
Yahya Sinwar, tokoh militer garis keras, ditunjuk sebagai pemimpin baru Hamas di Gaza. Langkah ini menyatukan sayap politik dan militer kelompok tersebut, namun mempersulit prospek gencatan senjata. Sinwar, yang dianggap sebagai otak serangan 7 Oktober, diperkirakan akan memperkuat hubungan Hamas dengan Iran dan kelompok perlawanan lainnya di kawasan.
Pemimpin baru Hamas, Yahya Sinwar, menuai protes warga Israel. Dianggap sebagai perwujudan kekejaman Hamas, Sinwar diharapkan bernasib sama seperti pendahulunya. Pengangkatannya terjadi di tengah ketegangan tinggi pasca serangan 7 Oktober. Warga Israel menyoroti latar belakang Sinwar yang pernah dipenjara dan fasih berbahasa Ibrani sebagai ancaman potensial.
Israel sedang mengkaji tanggapan Hamas terhadap proposal gencatan senjata di Gaza. Proposal ini mencakup pembebasan sandera dan penarikan pasukan Israel secara bertahap. Hamas menyatakan sikap positif, namun menuntut akhir perang dan penarikan total Israel dari Gaza. Upaya mediasi oleh Mesir, Qatar, dan AS terus berlanjut di tengah konflik yang telah berlangsung 9 bulan.
Penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan, mengatakan bahwa mediator dari Qatar dan Mesir berencana untuk segera melibatkan militan Hamas. Mereka ingin melihat apakah ada cara untuk mendorong proposal gencatan senjata di Gaza yang ditawarkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden.
Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan bahwa serangan udara Israel di Rafah telah menewaskan dua sandera Israel yang ditahan di Gaza
Beberapa warga Gaza telah mengkritik kelompok militan Hamas, yang menguasai wilayah Palestina yang terkepung dan dilanda konflik, karena gagal mengakhiri perang dengan Israel yang telah menghancurkan kehidupan mereka.
Hamas menolak proposal gencatan senjata di Jalur Gaza yang diajukan oleh Presiden AS Joe Biden. Penolakan ini diterima Israel melalui perantara, dengan Hamas mengubah semua parameter utama dalam proposal tersebut.
Dewan Keamanan PBB mendukung proposal genjatan senjata Biden untuk Israel-Hamas di Gaza, mendesak Hamas menerima dan segera melaksanakannya tanpa syarat.
Seorang pejabat senior Hamas mendesak Amerika Serikat untuk menekan Israel agar mengakhiri perang di Gaza. Hamas pun siap menanggapi secara positif setiap inisiatif yang mengakhiri perang ini