Hukum Islam sudah diletakkan dasarnya sejak periode Makkah: keadilan sosial, perlindungan hak milik, penghormatan pada anak yatim dan perempuan, serta larangan penindasan.
Amirul mukminin berkenan menjadikannya sebagai pendamping dan memanfaatkan ilmunya ketika menghadapi kesulitan, memakai pandangannya setiap kali membutuhkan dan menjadikan dia sebagai utusannya untuk bernegoisasi dengan raja-raja di muka bumi.
Said bin Musayyab adalah seorang tabiin yang zuhud. Beliau menolak pinangan al-Walid,putra Khalifah Abdul Malik untuk putrinya, dan justru memilih duda miskin sebagai menantu.
Rufai bin Mihraan berjuluk Abu al-Aliyah adalah ulama, penghafal Al-Quran dan muhadditsin (ahli hadis). Beliau termasuk tabiin yang paling tahu tentang Kitabullah, paling paham terhadap hadis Nabi SAW.
Dialah Ashamah bin Abjar yang dikenal dengan sebutan An-Najasyi. Ketika beliau wafat, Nabi SAW melakukan salat ghaib untuknya, salat yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya.
Sejak awal sang ayah sudah melihat tanda-tanda ketakwaan dan hidayah Allah pada diri Salim. Tercermin pada akhlak islami yang kokoh di atas Al-Quran melebihi saudara-saudaranya yang lain.
Imam Qatadah dikenal sebagai Hafizhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadis).