Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 Juli 2026
home masjid detail berita

Struktur Peradaban: Akar Materialisme Barat dan Teosentrisme Islam

miftah yusufpati Jum'at, 05 Juni 2026 - 08:42 WIB
Struktur Peradaban: Akar Materialisme Barat dan Teosentrisme Islam
Warisan rohani yang ditinggalkan Nabi Muhammad merupakan satu-satunya alternatif yang rasional untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kehancuran moral akibat hegemoni materialisme Barat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sistem tata nilai yang mengendalikan dunia modern hari ini bersumber dari dua kekuatan peradaban besar yang memiliki genetik historis berbeda: Islam dan Barat.

Cetak biru kedua kebudayaan ini memperlihatkan perbedaan prinsipil yang saling bertolak belakang dalam memandang hakikat kehidupan, rumusan etika, serta arah pembangunan manusia. Ketidakselarasan tersebut bukan sekadar variasi kebudayaan yang bersifat superfisial, melainkan sebuah pertentangan epistemologis yang bersumber dari trauma sejarah dan cara pandang terhadap otoritas ketuhanan.

Kebudayaan Islam menempatkan wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai dasar dari seluruh bangunan peradaban. Sistem ini mengintegrasikan metode ilmiah, kaidah logika, dan kemampuan rasio dengan pemikiran metafisika serta iman yang subjektif.

Hubungan antara ketentuan agama dan ilmu pengetahuan bersifat inheren dan tidak dapat dipisahkan. Konsep integral ini tertuang secara rigid dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya historiografi standar yang ditulis oleh sejarawan asal Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.

Haekal memberikan argumen bahwa Islam berhasil menyatukan nalar logis dan rasa spiritual ke dalam satu ikatan yang kokoh, sehingga kemajuan sains tidak perlu mengorbankan keyakinan teologis manusia.

Kondisi tersebut berbeda secara diametral dengan konstruksi kebudayaan Barat modern. Akar pemikiran Barat dibentuk oleh trauma konflik kekuasaan yang berkepanjangan antara otoritas agama (gereja) dan kekuasaan temporal (negara) pada Abad Pertengahan.

Kemenangan mutlak kekuasaan sekuler memaksa institusi agama keluar dari ruang publik dan membatasi perannya hanya di wilayah domestik individu.

Pemisahan institusional ini berdampak sistemik pada cara berpikir masyarakat Barat secara keseluruhan, yang kemudian memicu polarisasi antara perasaan dan pikiran manusia, serta menciptakan jurang pemisah antara pemikiran metafisik dan ketentuan ilmu positif (knowledge of reality).

Reduksi Materialisme

Dampak paling signifikan dari sekularisasi Barat adalah lahirnya dominasi filsafat materialisme. Pikiran materialistik ini bertindak sebagai fondasi utama bagi pembentukan sistem ekonomi kapitalisme dan sosialisme.

Dalam perkembangannya, kebudayaan Barat cenderung mereduksi seluruh eksistensi kemanusiaan, sejarah, seni, filsafat, hingga moralitas ke dalam parameter keuntungan ekonomi semata.

Aliran filsafat utilitarianisme di Barat, misalnya, merumuskan standar etika berdasarkan asas kemanfaatan materi kolektif. Kebajikan tidak lagi dinilai berdasarkan kepatuhan pada hukum Tuhan, melainkan pada kalkulasi untung-rugi secara ekonomi. Mengenai masalah spiritual dan keyakinan agama, kebudayaan Barat mengategorikannya sebagai urusan privat yang opsional.

Kebebasan kepercayaan diagungkan sedemikian rupa bukan untuk menghormati agama, melainkan untuk memberikan jalan bagi kebebasan ekonomi yang diatur ketat oleh undang-undang positif sekuler. Seluruh instrumen negara, termasuk kekuatan militer, dimobilisasi hanya untuk melindungi kepentingan pasar dan kepemilikan modal.

Kritik tajam terhadap reduksi materialisme ini juga disuarakan oleh pemikir besar Islam asal Iran, Murtadha Mutahhari, dalam bukunya yang berjudul Masyarakat dan Sejarah (1984). Mutahhari menyatakan bahwa materialisme historis yang mengagungkan faktor ekonomi sebagai satu-satunya penggerak peradaban adalah sebuah kekeliruan besar.

Menurut Mutahhari, manusia memiliki dimensi fitrah rohani yang independen dari kebutuhan perut. Memaksa sejarah manusia tunduk pada hukum ekonomi hewani hanya akan menghasilkan masyarakat yang terasing dari kemanusiaannya sendiri (alienasi).

Haekal dalam analisisnya menilai bahwa kebudayaan yang menjadikan kehidupan ekonomi sebagai dasar utama dan mengabaikan nilai spiritual tidak akan pernah mencapai kebahagiaan yang dicita-citakan.

Pola ini dinilai menjadi pemicu utama timbulnya penderitaan berat, depresi mental, serta konflik bersenjata berskala global pada abad-abad belakangan.

Ketika hubungan antarmasyarakat hanya didasarkan pada kompetisi memperebutkan sekerat roti, manusia akan terjebak dalam hukum rimba. Setiap individu melihat sesamanya sebagai kompetitor atau lawan yang harus disingkirkan secara licik, bukan sebagai saudara. Etik yang bekerja di bawah sadar manusia materialis adalah etik hewani yang berbasis pada agresi kekuatan fisik dan finansial.

Gejala Sistemik Peradaban Barat

Manifestasi dari etik hewani tersebut mewujud dalam bentuk persaingan dan pertentangan mutlak yang menjadi karakteristik utama kebudayaan Barat.

Karakter kompetitif ini melekat kuat baik dalam sistem ekonomi individualistis (kapitalisme) maupun sistem kolektif (sosialisme). Dalam paradigma individualisme Barat, persaingan dipandang sebagai dogma yang suci.

Buruh diposisikan bersaing dengan sesama buruh untuk memperebutkan upah minimum, sedangkan pemilik modal saling menjatuhkan dalam memperebutkan pangsa pasar. Hubungan antara buruh dan majikan pun dikondisikan sebagai relasi dua musuh yang saling mengeksploitasi.

Para ideolog Barat berargumen bahwa persaingan destruktif ini adalah mesin penggerak kemajuan, pembagian kerja yang efisien, serta instrumen untuk mencapai neraca keadilan dalam distribusi kekayaan.

Namun, fakta empiris menunjukkan bahwa ekosistem kompetisi tanpa batas ini melahirkan kesenjangan sosial yang ekstrem, kehancuran ekologis, dan krisis kemanusiaan. Altruisme, cinta kasih, prinsip akhlak terpuji, dan persaudaraan universal kehilangan relevansinya dalam struktur masyarakat yang digerakkan oleh profit margin.

Kritik Cendekiawan Muslim

Pandangan Haekal mengenai kerapuhan peradaban Barat yang berbasis materi murni mendapatkan konfirmasi ilmiah dari para pemikir Islam kontemporer di era digital.

Dalam sebuah presentasi ilmiah yang diunggah melalui kanal YouTube Cambridge Muslim College (2024), Prof. Dr. Timothy Winter (juga dikenal sebagai Syaikh Abdal Hakim Murad), seorang akademisi Muslim dari Universitas Cambridge, mengulas tentang krisis eksistensial masyarakat Barat modern.

Winter memaparkan data mengenai tingginya angka bunuh diri, depresi klinis, dan kehancuran institusi keluarga di negara-negara maju.

Menurut Winter, fenomena ini terjadi karena Barat berhasil membangun infrastruktur fisik yang megah namun gagal menyediakan makna hidup (meaning of life) yang hanya bisa disuplai oleh spiritualitas teosentris. Kegagalan ini adalah akibat langsung dari pengusiran agama dari ruang publik.

Di samping itu, cendekiawan Muslim internasional Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya yang monumental, Islam and Secularism (1978), menjelaskan bahwa esensi dari krisis kebudayaan Barat adalah hilangnya konsep adab yang bersumber dari pengenalan terhadap tempat yang tepat bagi Tuhan dalam hierarki eksistensi.

Al-Attas menegaskan bahwa sains di Barat telah menjadi sekuler, sehingga kehilangan arah moral dan digunakan sebagai alat untuk mengeksploitasi alam serta manusia demi pemuasan syahwat ekonomi.

Al-Attas menawarkan solusi berupa islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, yaitu mengembalikan metode ilmiah ke dalam kerangka metafisika Islam agar sains dapat berjalan selaras dengan kesejahteraan spiritual manusia.

Integrasi Akhlak

Sebagai antitesis terhadap kebudayaan Barat yang eksploitatif, Islam menawarkan sebuah sistem ekonomi-politik yang meletakkan akhlak sebagai panglima tertinggi.

Dalam Islam, pasar tidak dibiarkan berjalan sendiri tanpa panduan moral sebagaimana dalam sistem laissez-faire, dan juga tidak dikontrol secara totaliter oleh negara seperti dalam komunisme.

Ekonomi Islam dikendalikan oleh hukum syariat yang melarang praktik ribawi, penimbunan barang (ihtikar), perjudian spekulatif (maysir), dan transaksi bodong (gharar).

Melalui instrumen Baitulmal, zakat, infak, dan wakaf, Islam mengubah orientasi manusia dari penumpukan modal privat menjadi distribusi kekayaan yang merata.

Sistem ini tidak mematikan motif ekonomi individu, namun mengikatnya dengan tanggung jawab sosial yang bersifat transendental. Perilaku ekonomi seorang Muslim diukur berdasarkan konsep falah, yaitu kebahagiaan yang mencakup dimensi duniawi dan ukhrawi.

Perbandingan komparatif antara dua peradaban ini membuktikan bahwa warisan rohani yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad merupakan satu-satunya alternatif yang rasional untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kehancuran moral akibat hegemoni materialisme Barat.

Integrasi antara sains dan iman, serta penundukan motif ekonomi di bawah hukum etika ketuhanan, adalah syarat mutlak untuk menciptakan perdamaian dunia yang substantif, bukan sekadar gencatan senjata yang rapuh di atas kertas pakta internasional.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan