Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 Juli 2026
home masjid detail berita

Islam dan Sosialisme: Akar Konflik Kelas dan Agresi Global

miftah yusufpati Jum'at, 05 Juni 2026 - 08:45 WIB
Islam dan Sosialisme: Akar Konflik Kelas dan Agresi Global
Islam hadir memberikan jalan ketiga (the third way) yang berbasis pada keadilan absolut (al-adl) dan kebajikan kolektif (al-ihsan). Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Sistem ekonomi politik sekuler yang berkembang sejak abad ke-19 membagi dunia ke dalam dua kutub ideologi utama yang sama-sama bertumpu pada materi: kapitalisme dan sosialisme.

Di dalam rahim pemikiran Barat dan Timur, paham sosialisme marxis muncul dengan sebuah postulat yang sangat radikal mengenai masa depan peradaban manusia.

Aliran ini berpendapat bahwa sejarah umat manusia digerakkan oleh kontradiksi materi, di mana perjuangan kelas (class struggle) antar-komponen masyarakat merupakan suatu keniscayaan mekanis yang harus disudahi dengan jatuhnya kekuasaan politik ke tangan kaum buruh (diktator proletariat).

Pengambilalihan kontrol ini diposisikan bukan sebagai pilihan politik opsional, melainkan sebagai salah satu keharusan alamiah (historical determinism) yang tidak dapat dielakkan.

Namun, pengagungan terhadap konflik sebagai motor penggerak sejarah ini membawa dampak destruktif bagi tatanan global. Ketika persaingan dan perjuangan memperebutkan kapital dijadikan sebagai poros utama kehidupan, serta pertentangan antar-kelas dinilai wajar secara ilmiah, maka secara linier pertentangan antar-bangsa juga akan dipandang sebagai hal yang lumrah.

Logika marxisme secara tidak langsung memvalidasi manifestasi agresi internasional. Jika faksi buruh sah menghancurkan faksi borjuis di dalam negeri, maka faksi bangsa yang lebih kuat secara ekonomi juga merasa sah menjajah bangsa yang lebih lemah demi mengamankan pasokan sumber daya material.

Analisis kritis mengenai kegagalan sistemik dari tatanan dunia yang kompetitif ini dibahas secara rigid dalam buku Sejarah Hidup Muhammad. Karya historiografi standar yang memiliki bobot akademis tinggi ini ditulis oleh sejarawan terkemuka asal Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.

Haekal memberikan argumen bahwa konsepsi nasionalisme sekuler yang lahir dari rahim materialisme Barat telah memberikan pengaruh buruk yang menentukan terhadap jalannya sistem ekonomi global.

Selama konsepsi ini bertahan, upaya pencegahan perang dan penjaminan perdamaian dunia hanyalah sebuah utopia, mimpi manis yang bermadu, serta fatamorgana kosong yang tidak memiliki landasan empiris di lapangan.

Di Bawah Kedaulatan Akhlak

Sebagai antitesis yang radikal terhadap sosialisme dan kapitalisme Barat, kebudayaan Islam lahir di atas fondasi spiritual yang arahnya bertolak belakang secara total.

Islam tidak memulai konstruksi sosialnya dari penataan alat produksi atau pembagian kelas, melainkan dari sebuah revolusi kesadaran rohani.

Peradaban Islam mengajak setiap individu manusia untuk menyadari secara mendalam mengenai hakikat hubungannya dengan Tuhan, posisinya di dalam ekosistem alam semesta, serta tanggung jawab moralnya selaku khalifah di muka bumi.

Apabila kesadaran teologis ini telah mencapai derajat keimanan yang kokoh, iman tersebut secara otomatis akan menggerakkan manusia untuk melakukan pembinaan diri secara kontinu (tazkiyatun nafs), membersihkan hati dari penyakit keserakahan, serta mengisi pikiran dengan prinsip-prinsip kemanusiaan yang luhur.

Prinsip tersebut meliputi harga diri, persaudaraan universal, cinta kasih, kebajikan sosial, dan semangat berbakti tanpa pamrih. Berdasarkan urutan epistemologis inilah Islam mengonstruksi sistem ekonominya.

Buku Cetakan Kelima Pustaka Jaya (1980) tersebut menegaskan bahwa model bertahap ini merupakan inti dari wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Konstruksi peradaban Islam dimulai dari pembentukan kebudayaan rohani, di mana sistem kerohanian bertindak sebagai basis pendidikan dan pola-pola etik (akhlak).

Selanjutnya, prinsip-prinsip etik inilah yang mengendalikan secara ketat jalannya sistem ekonomi. Dalam yurisprudensi Islam, tidak ada toleransi bagi tindakan mengorbankan nilai-nilai moral, keadilan distributif, atau kejujuran demi mengejar pertumbuhan ekonomi, akumulasi modal privat, ataupun kejayaan politik kelompok tertentu.

Tanggapan Islam mengenai tata susunan masyarakat yang menempatkan moral di atas materi dinilai sangat selaras dengan kodrat alamiah (fitrah) manusia.

Sistem ini memberikan jaminan kebahagiaan yang seimbang antara dimensi material dan spiritual. Jika paradigma teosentris ini diinternalisasi ke dalam struktur sosial global menggantikan cara pandang materialisme Barat, maka orientasi hidup umat manusia akan mengalami perubahan arah yang fundamental.

Doktrin kompetisi yang eksploitatif akan runtuh dan digantikan oleh prinsip kerja sama (taawun) yang mampu mengobati krisis kemanusiaan modern secara komprehensif.

Pencarian Spriritul yang Keliru

Memasuki fase modernitas belakangan ini, baik peradaban Barat maupun Timur sebenarnya sedang berada dalam kondisi frustrasi sosiologis akibat kegagalan ideologi-ideologi sekuler.

Di satu sisi, runtuhnya eksperimen sosialisme totaliter di Uni Soviet membuktikan bahwa diktator proletariat hanya melahirkan birokrasi negara yang opresif.

Di sisi lain, kapitalisme lanjut (late capitalism) di Barat melahirkan kesenjangan sosial yang ekstrem, kehancuran lingkungan, dan kehampaan eksistensial bagi warganya. Manusia modern di Barat sedang terjangkit penyakit mammonisme, yaitu sebuah patologi sosiologis berupa penyembahan yang berlebihan terhadap harta benda dan kekayaan materi.

Penyakit mammonisme inilah yang menyeret negara-negara sekuler ke dalam kancah konflik geopolitik dan peperangan tanpa akhir demi memperebutkan hegemoni pasar dan energi.

Menyadari adanya kehampaan akut dalam dada mereka, masyarakat Barat dewasa ini gencar melakukan pencarian terhadap pegangan rohani yang baru guna menyelematkan diri dari jerat paganisme modern.

Namun, ironisnya, sebagian besar pencari spiritual dari Barat tersebut mengalihkan pandangan mereka jauh ke wilayah India atau Asia Timur untuk mempelajari mistisisme kuno yang sering kali bersifat eskapis (melarikan diri dari realitas sosial).

Haekal menyayangkan fenomena salah arah ini. Kaum Muslimin sendiri banyak yang tidak menyadari bahwa solusi atas krisis spiritual dan ekonomi Barat sebenarnya telah tersedia secara lengkap dan dekat di dalam Al-Quran.

Konsep keseimbangan hidup, keadilan sosial tanpa kebencian kelas, serta contoh aplikasi tata kelola negara yang bersih telah dicontohkan dengan sangat indah melalui keteladanan nyata (uswatun hasanah) Nabi Muhammad selama memimpin daulah Madinah.

Islam tidak melarang kepemilikan harta seperti sosialisme, namun juga tidak membiarkan eksploitasi manusia atas manusia seperti kapitalisme.

Determinisme Marxis

Argumentasi Haekal mengenai kekeliruan fatal dalam konsep keharusan alamiah perjuangan kelas marxisme diperkuat oleh kajian para pemikir besar Islam dunia.

Cendekiawan Muslim internasional asal Bosnia, Alija Izetbegovic, dalam bukunya yang monumental, Islam Between East and West (1984), menjelaskan secara rinci bahwa kegagalan materialisme sosialisme terjadi karena mereka memandang manusia semata-mata sebagai produk lingkungan ekonomi (homo economicus).

Izetbegovic menegaskan bahwa dengan mereduksi manusia menjadi sekadar hewan penyedot materi yang dikendalikan oleh hukum alam, sosialisme secara inheren telah mematikan kebebasan berkehendak dan tanggung jawab moral individu. Akibatnya, sistem ekonomi yang mereka bangun justru menciptakan perbudakan gaya baru di bawah kendali elit partai.

Kritik yang senada juga dipaparkan oleh ekonom Islam terkemuka, Prof. Dr. Muhammad Umer Chapra, dalam kuliah umumnya yang didokumentasikan oleh Islamic Research and Training Institute (IRTI).

Chapra berpendapat bahwa penghapusan hak milik pribadi oleh sosialisme demi menyudahi konflik kelas adalah sebuah kebijakan yang melawan fitrah kemanusiaan.

Islam menyelesaikan ketimpangan ekonomi bukan dengan cara memicu perang kelas yang destruktif, melainkan melalui penegakan instrumen hukum yang fungsional seperti zakat, infak, sedekah, penghapusan riba, dan optimalisasi lembaga Baitulmal.

Sistem ini mendistribusikan kekayaan secara paksa dari sektor hulu tanpa harus melumpuhkan insentif individu untuk bekerja keras di sektor hilir.

Di era digital, relevansi kritik Islam terhadap sosialisme Barat ini terus disuarakan oleh para ulama kontemporer melalui jaringan global.

Dalam sebuah rekaman diskusi ilmiah yang disiarkan di platform YouTube melalui kanal resmi The Usuli Institute (2024), Prof. Dr. Khaled Abou El Fadl memberikan sebuah ulasan tajam mengenai ketahanan sistem tata negara Islam.

El Fadl menyatakan bahwa ketika ideologi Barat terjebak dalam dikotomi tak berujung antara kebebasan pasar modal versi kapitalisme atau kontrol represif negara versi sosialisme, Islam hadir memberikan jalan ketiga (the third way) yang berbasis pada keadilan absolut (al-adl) dan kebajikan kolektif (al-ihsan).

Al-Fadl menegaskan bahwa krisis ekonomi global saat ini tidak akan pernah selesai jika para pengambil kebijakan hanya memikirkan restrukturisasi teknis perbankan tanpa menyentuh akar masalahnya, yaitu hilangnya dimensi spiritualitas dan etika ketuhanan dalam aktivitas pasar bebas global.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan