Hari Anak Nasional, Dampak Belajar Daring Pada Anak Perlu Dievaluasi
Muhajirin
Jum'at, 23 Juli 2021 - 12:28 WIB
ilustrasi anak belajar daring (foto: langit7.id/istock)
Dosen Tetap Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara, Aan Widiyono, menilai pemanfaatan gadget bagi anak ibarat sebagai bilah pisau bermata dua dalam pembelajaran.
“Jika dimanfaatkan sesuai peruntukannya dan pemakaiannya tidak berlebihan, gadget dapat menjadi sarana media pembelajaran online untuk berkomunikasi dan menyalurkan materi. Namun, jika pemanfaatan secara berlebihan dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan dan kesehatan anak,” Kata Aan, dilansir dari laman NU Online, Jumat (23/7/2021).
Selain itu, pengaruh positif belajar daring bagi anak dalam memanfaatkan internet dapat membuat anak lebih mendalami teknologi sejak usia dini dan pembelajaran lebih fleksibel. Belajar dapat dilakukan di mana saja dengan menggunakan sistem daring, dapat hemat biaya transportasi, materi dapat di-save dan diputar ulang jika kurang dipahami, anak dapat menggali pengetahuan dan sumber informasi secara luas.
Namun, Aan menilai pembelajaran daring saat ini belum bisa disebut ideal karena masih terdapat berbagai hambatan di lapangan. Hambatan itu berkaitan dengan dengan kesiapan SDM, regulasi yang berubah di tingkat pemerintah daerah, kurikulum yang belum baku, dan keterbatasan sarana dan prasarana dengan penerapan teknologi dan jaringan internet.
Aan menuturkan belajar daring memberikan manfaatsekaligus hambatan bagi anak. Kenyataan di lapangan masih ditemukan penyalahgunaan gadget dalam pembelajaran yang mengakibatkan kecanduan dengan gejala perasaan mudah gelisah, mudah marah, hingga muncul beberapa masalah dalam kesehatan.
Masalah lain terkait masalah psikologi anak. Menurut Aan kecanduan gadget dapat mengganggu kesehatan mental anak seperti anak sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan, risiko depresi, kepribadian bipolar, kurang rasa perhatian, hingga gelisah.
Belajar daring juga bisa membuat anak antisosial. masalah ini dapat terlihat dari asyiknya bermain gadget, sehingga anak kurang memperhatikan nasihat orang tua dan rasa empati yang berkurang. Kondisi lain yang dapat diamati seperti anak menjadi malas sehingga bangun lebih siang.
“Jika dimanfaatkan sesuai peruntukannya dan pemakaiannya tidak berlebihan, gadget dapat menjadi sarana media pembelajaran online untuk berkomunikasi dan menyalurkan materi. Namun, jika pemanfaatan secara berlebihan dapat memberikan dampak buruk bagi perkembangan dan kesehatan anak,” Kata Aan, dilansir dari laman NU Online, Jumat (23/7/2021).
Selain itu, pengaruh positif belajar daring bagi anak dalam memanfaatkan internet dapat membuat anak lebih mendalami teknologi sejak usia dini dan pembelajaran lebih fleksibel. Belajar dapat dilakukan di mana saja dengan menggunakan sistem daring, dapat hemat biaya transportasi, materi dapat di-save dan diputar ulang jika kurang dipahami, anak dapat menggali pengetahuan dan sumber informasi secara luas.
Namun, Aan menilai pembelajaran daring saat ini belum bisa disebut ideal karena masih terdapat berbagai hambatan di lapangan. Hambatan itu berkaitan dengan dengan kesiapan SDM, regulasi yang berubah di tingkat pemerintah daerah, kurikulum yang belum baku, dan keterbatasan sarana dan prasarana dengan penerapan teknologi dan jaringan internet.
Aan menuturkan belajar daring memberikan manfaatsekaligus hambatan bagi anak. Kenyataan di lapangan masih ditemukan penyalahgunaan gadget dalam pembelajaran yang mengakibatkan kecanduan dengan gejala perasaan mudah gelisah, mudah marah, hingga muncul beberapa masalah dalam kesehatan.
Masalah lain terkait masalah psikologi anak. Menurut Aan kecanduan gadget dapat mengganggu kesehatan mental anak seperti anak sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan, risiko depresi, kepribadian bipolar, kurang rasa perhatian, hingga gelisah.
Belajar daring juga bisa membuat anak antisosial. masalah ini dapat terlihat dari asyiknya bermain gadget, sehingga anak kurang memperhatikan nasihat orang tua dan rasa empati yang berkurang. Kondisi lain yang dapat diamati seperti anak menjadi malas sehingga bangun lebih siang.