Robert Crane, Eks Penasihat Presiden AS Jadi Mualaf setelah Memusuhi Islam
Muhajirin
Jum'at, 21 Januari 2022 - 16:30 WIB
Robert Dickson Crane (foto: istimewa)
Robert Dickson Crane alias Faruk Abdulhak merupakan mantan penasihat Amerika Serikat, Nixon, yang menjadi mualaf dan masuk ke dalam daftar 500 muslim berpengaruh di dunia.
Pria kelahiran 1929 itu sebenarnya telah menduduki jabatan penting di pemerintahan AS, seperti Wakil Direktur Dewan Keamanan AS dan Wakil Direktur Dewan Keamanan AS sebelum menjadi penasihat presiden. Ia juga seorang akademisi, penulis, dan aktivis dengan segudang karya.
Suatu Jumat pada 1980
Mengutip islammessage.com, Crane pernah mendapat misi ke Bahrain. Di negara itu, ia bersama sang istri ingin berkunjung ke salah satu satu istana tua, sebuah kota keraton yang bisa dicapai setelah melalui jalan semrawut. Namun kota itu pernah menjadi pusat perdagangan pertama dalam sejarah dunia.
Nahas, Crane tersesat. Sangat banyak persimpangan jalan di sana. Saat mulai kehilangan harapan dan cuaca mulai memanas, ia bertemu salah seorang pria lokal. Pria itu lalu mengundang mereka ke rumahnya, dan memberikan jamuan terbaik.
Sikap ramahnya membuat Crane terkejut karena baru pertama kali bertemu muslim yang 'baik'. Mereka lalu mengobrol. Namun menariknya, pria itu tak pernah membicarakan Islam dan menyinggung agama Crane.
Pembicaraan berpusat pada isu-isu seputar politik, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Peristiwa itu menyimpan kesan mendalam bagi Crane. Ia akhirnya tertarik untuk meneliti Islam.
Pria kelahiran 1929 itu sebenarnya telah menduduki jabatan penting di pemerintahan AS, seperti Wakil Direktur Dewan Keamanan AS dan Wakil Direktur Dewan Keamanan AS sebelum menjadi penasihat presiden. Ia juga seorang akademisi, penulis, dan aktivis dengan segudang karya.
Suatu Jumat pada 1980
Mengutip islammessage.com, Crane pernah mendapat misi ke Bahrain. Di negara itu, ia bersama sang istri ingin berkunjung ke salah satu satu istana tua, sebuah kota keraton yang bisa dicapai setelah melalui jalan semrawut. Namun kota itu pernah menjadi pusat perdagangan pertama dalam sejarah dunia.
Nahas, Crane tersesat. Sangat banyak persimpangan jalan di sana. Saat mulai kehilangan harapan dan cuaca mulai memanas, ia bertemu salah seorang pria lokal. Pria itu lalu mengundang mereka ke rumahnya, dan memberikan jamuan terbaik.
Sikap ramahnya membuat Crane terkejut karena baru pertama kali bertemu muslim yang 'baik'. Mereka lalu mengobrol. Namun menariknya, pria itu tak pernah membicarakan Islam dan menyinggung agama Crane.
Pembicaraan berpusat pada isu-isu seputar politik, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Peristiwa itu menyimpan kesan mendalam bagi Crane. Ia akhirnya tertarik untuk meneliti Islam.