LANGIT7.ID, Jakarta - Robert Dickson Crane alias Faruk Abdulhak merupakan mantan penasihat Amerika Serikat, Nixon, yang menjadi mualaf dan masuk ke dalam daftar 500 muslim berpengaruh di dunia.
Pria kelahiran 1929 itu sebenarnya telah menduduki jabatan penting di pemerintahan AS, seperti Wakil Direktur Dewan Keamanan AS dan Wakil Direktur Dewan Keamanan AS sebelum menjadi penasihat presiden. Ia juga seorang akademisi, penulis, dan aktivis dengan segudang karya.
Suatu Jumat pada 1980Mengutip
islammessage.com, Crane pernah mendapat misi ke Bahrain. Di negara itu, ia bersama sang istri ingin berkunjung ke salah satu satu istana tua, sebuah kota keraton yang bisa dicapai setelah melalui jalan semrawut. Namun kota itu pernah menjadi pusat perdagangan pertama dalam sejarah dunia.
Nahas, Crane tersesat. Sangat banyak persimpangan jalan di sana. Saat mulai kehilangan harapan dan cuaca mulai memanas, ia bertemu salah seorang pria lokal. Pria itu lalu mengundang mereka ke rumahnya, dan memberikan jamuan terbaik.
Sikap ramahnya membuat Crane terkejut karena baru pertama kali bertemu muslim yang 'baik'. Mereka lalu mengobrol. Namun menariknya, pria itu tak pernah membicarakan Islam dan menyinggung agama Crane.
Pembicaraan berpusat pada isu-isu seputar politik, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. Peristiwa itu menyimpan kesan mendalam bagi Crane. Ia akhirnya tertarik untuk meneliti Islam.
Ini menjadi inspirasi sangat langka, sebab Crane dikenal sebagai sosok yang sangat menentang Islam. Dalam satu ceramahnya, dia bahkan berkata:
“Saya muak dengan agama ini dan saya tidak pernah berpikir untuk mempelajarinya. Agama ini sangat primitif. Saya mengusulkan Nixon kepada Islam sebagai aliansi melawan komunisme. Bahkan jika itu mual, itu berguna melawan komunisme.”
Namun peristiwa Bahrain itu mengubah pandangan Crane. Pada 1980, ia menghadiri sebuah konferensi di New Hampshire, AS yang diadakan tokoh-tokoh muslim dari seluruh dunia. Ia hadir bukan sekadar mendengar, tapi juga ingin belajar tentang Islam kepada mereka.
Pada hari pertama, Crane mengikuti acara itu. Ia sangat senang karena berkesempatan bertanya banyak hal. Hari itu hari Jumat. Semua peserta konferensi telah berkumpul untuk ibadah Jumat.
Crane sempat kecewa karena berpikir telah melewatkan kesempatan penting.
Namun, karena tidak ingin menyakiti perasaan siapa pun, ia memutuskan untuk tetap berada di kamar hingga akhir salat. Ketika salat Jum'at dimulai, gerakan sujud para jama'ah mengejutkannya. Shalat itu dipimpin pemimpin Gerakan Islam Sudan, ulama terkenal Hasan Turabi.
"Saya menyadari bahwa dia (Turabi) sedang bersujud kepada Tuhan. Kemudian, saya berpikir bahwa orang yang bersujud kepada Allah ini sepuluh kali lebih baik dari saya,” kata Crane sambil menjelaskan momen itu. Dia merasa harus melakukan sujud. Lalu, ia pun masuk Islam pada saat itu, sesudah sujud pertama di Jumat sore.
“Faktanya, Tuhan telah mengarahkan saya ke Islam pada usia 5 tahun dan kemudian pada usia 21 tahun. Tapi saya tidak tahu sampai saya bertemu dengan pria Bahrain yang mengatakan kepada saya bahwa ada orang lain yang melihat hal-hal yang ditunjukkan kepada saya juga, dan bahwa saya sedang menyembah 'Allah'. Saya telah memahaminya pada usia 50 tahun," katanya.
Masuk Dalam Daftar 500 Muslim Paling Berpengaruh di DuniaDari 1983 hingga 1986, Crane adalah Direktur Dakwah Islamic Center di Massachusetts Avenue di DC. Ia mulai menjadi bagian integral dari komunitas muslim dan menjadi direktur publikasi di International Institute of Islamic Thought (IIIT), dan juga membantu Dewan Muslim Amerika dalam pekerjaan mereka.
Kedua lembaga ini adalah lembaga yang efektif di Amerika Serikat dan didirikan di bawah kepemimpinan Ikhwanul Muslimin. Pada 1994, Crane membuka wadah pemikirnya sendiri, yakni Pusat Pembaruan Peradaban, di Santa Fe.
Dia dipanggil oleh Qatar Foundation pada 2011. Di Qatar, dia memberikan kuliah tentang bagaimana politik dilakukan di Washington. Dia tinggal di sana dan mengambil tempat penting di sebuah pusat penelitian besar di Universitas Hammad bin Khalif.
Di antara aktivitas Crane di masa lalu, ada satu yang sangat penting: berdiri bersama umat Islam dalam kekacauan pasca-9/11. Baik dalam publikasi maupun pernyataannya, ia menentang Islamofobia.
Crane menulis banyak buku dan publikasi ilmiah yang membahas tentang perjalanan hidup, topik umum seperti pluralisme agama, urusan antar-agama, ilmu sosial Islam, hak asasi manusia dalam Islam, kesulitan yang dihadapi Muslim di Amerika dan dunia, hingga isu-isu spesifik seperti masa depan Arab Saudi, peran Muslim dalam kebijakan luar negeri Amerika, penyebaran Ikhwanul Muslimin di wilayah pasca-Arab Spring terjadi 2013-2014, Kosovo, dan Chechnya.
Islammessage menutup pemaparan tentang Crane yang masuk masuk dalam daftar 500 Muslim paling berpengaruh di dunia. Itu tak terlepas dari perjalanan Crane memeluk Islam hingga karya-karyanya dalam bentuk tulisan maupun pergerakan.
(jqf)