Hari Kanker Sedunia
Angkat Isu Pemerataan Akses Pelayanan Kanker yang Bermutu
Fifiyanti Abdurahman
Jum'at, 04 Februari 2022 - 09:12 WIB
Ilustrasi tenaga medis dalam pelayanan kanker. Foto: LANGIT7/iStock
Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia yang angkanya setiap tahun terus bertambah. Di tahun 2021 saja diperkirakan 20 juta orang terdiagnosa kanker dan 10 juta diantaranya meninggal dunia.
Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa dekade ke depan. Namun, semua kanker dapat diobati dan banyak cara untuk pencegahan juga kesembuhan.
Baca juga: Angka Kematian Tinggi, Lebih dari 30 Ribu Orang di Indonesia Didiagnosa Kanker Paru
Melansir dari World Health Organization (WHO), perawatan dan pengobatan kanker saat ini masih belum merata. Perbedaan paling jelas terlihat di antara negara-negara berpenghasilan tinggi dan rendah.
Dilaporkan bahawa lebih dari 90 persen negara berpenghasilan tinggi menyediakan pengobatan yang komprehensif namun negara berpenghasilan rendah hanya mampu menyediakn 15 persen.
Dari survei yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) ditemukan bahwa layanan kanker mencangkup skema pembiayaan kesehatan pemerintah terbesar di suatu negara di sekitar 37% negara berpenghasilan rendah dan menengah, dibandingkan dengan setidaknya 78% negara berpenghasilan tinggi.
Artinya diagnosis kanker berpotensi mendorong keluarga ke dalam kemiskinan. Terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan pandemi Covid-19 memperburuk kondisi tersebut.
Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa dekade ke depan. Namun, semua kanker dapat diobati dan banyak cara untuk pencegahan juga kesembuhan.
Baca juga: Angka Kematian Tinggi, Lebih dari 30 Ribu Orang di Indonesia Didiagnosa Kanker Paru
Melansir dari World Health Organization (WHO), perawatan dan pengobatan kanker saat ini masih belum merata. Perbedaan paling jelas terlihat di antara negara-negara berpenghasilan tinggi dan rendah.
Dilaporkan bahawa lebih dari 90 persen negara berpenghasilan tinggi menyediakan pengobatan yang komprehensif namun negara berpenghasilan rendah hanya mampu menyediakn 15 persen.
Dari survei yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) ditemukan bahwa layanan kanker mencangkup skema pembiayaan kesehatan pemerintah terbesar di suatu negara di sekitar 37% negara berpenghasilan rendah dan menengah, dibandingkan dengan setidaknya 78% negara berpenghasilan tinggi.
Artinya diagnosis kanker berpotensi mendorong keluarga ke dalam kemiskinan. Terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan pandemi Covid-19 memperburuk kondisi tersebut.