LANGIT7.ID - , Jakarta - Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia yang angkanya setiap tahun terus bertambah. Di tahun 2021 saja diperkirakan 20 juta orang terdiagnosa kanker dan 10 juta diantaranya meninggal dunia.
Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa dekade ke depan. Namun, semua kanker dapat diobati dan banyak cara untuk pencegahan juga kesembuhan.
Baca juga: Angka Kematian Tinggi, Lebih dari 30 Ribu Orang di Indonesia Didiagnosa Kanker ParuMelansir dari World Health Organization (WHO), perawatan dan pengobatan kanker saat ini masih belum merata. Perbedaan paling jelas terlihat di antara negara-negara berpenghasilan tinggi dan rendah.
Dilaporkan bahawa lebih dari 90 persen negara berpenghasilan tinggi menyediakan pengobatan yang komprehensif namun negara berpenghasilan rendah hanya mampu menyediakn 15 persen.
Dari survei yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) ditemukan bahwa layanan kanker mencangkup skema pembiayaan kesehatan pemerintah terbesar di suatu negara di sekitar 37% negara berpenghasilan rendah dan menengah, dibandingkan dengan setidaknya 78% negara berpenghasilan tinggi.
Artinya diagnosis kanker berpotensi mendorong keluarga ke dalam kemiskinan. Terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan pandemi Covid-19 memperburuk kondisi tersebut.
Meskipun begitu, WHO telah berusaha memberikan alat perawatan kanker berkualitas tinggi kepada negara-negara yang masih belum terjangkau.
Upaya ini dilakukan dengan memfokuskan pada kanker payudara, yang sekarang menjadi kanker paling umum, kanker serviks, yang dapat dihilangkan, dan kanker anak.
Baca juga: Hilangkan Bau Mulut, Paru-paru Hitam dan Cegah Kanker dari Satu Buah IniFokus untuk masing-masing inisiatif ini adalah negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana keuntungan kesehatan masyarakat terbesar akan dibuat.
Karena itu, dalam menyambut hari Kanker Sedunia yang pada tanggal 4 Februari, WHO mengangkat tema "Close The Care Gap". Makna dari tema tersebut adalah pemerataan akses pelayanan kanker yang bermutu.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan kondisi geografis dan lainnya, Indonesia berpotensi memunculkan kesenjangan dalam memberikan dan mendapatkan layanan kanker.
(est)