Masa Pertumbuhan Rasulullah Sebagai Model Pendidikan Anak
Muhajirin
Selasa, 22 Februari 2022 - 14:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Nabi Muhammad SAW merupakan manusia pilihan. Status kerasulan tidak bisa dicapai dengan usaha-usaha manusia, melainkan dipilih langsung oleh Allah. Beliau sejak awal sudah dipersiapkan lalu dijaga agar memiliki karakter kuat.
Di samping itu, Nabi tumbuh layaknya anak-anak pada umumnya. Dalam kandungan 9 bulan, menyusu 2 tahun, dan bermain layaknya anak-anak lain. Ia bukan malaikat yang turun ke bumi. Sehingga kehidupan Nabi sedari kecil, remaja, hingga dewasa bisa menjadi suri teladan terbaik dalam pendidikan anak.
Anak lahir dan tumbuh cenderung menerima dan meniru lingkungan sekitar. Ini sudah disepakati oleh pakar parenting. Lingkungan sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak, mulai dari balita, mumayyiz, hingga baligh.
Lingkungan anak saat balita sangat penting sebagai bekal memasuki masa pertumbuhan mumayyiz, ketika anak berusia 10-11 tahun. Masa itu, anak sudah bisa sedikit demi sedikit membedakan antara kebaikan dan keburukan.
Fase mumayyiz pun sangat penting agar mendapatkan bekal kuat saat masuk usia baligh. Usia baligh artinya anak sudah masuk tahap kemandirian. Ini karena ia tak lagi bertanggung jawab pada manusia, tapi kepada Allah secara langsung. Segala amal perbuatan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.
Di fase ini, anak sudah masuk ke lingkungan sosial yang semakin luas. Dia tak hanya bergaul dengan teman-teman sebaya, tapi juga bertemu dengan orang-orang dewasa. Dia mulai berperan di tengah masyarakat, membangun kepribadian sebagai bekal beraktualisasi untuk membuktikan keahlian dengan memberikan manfaat kepada sekitar.
"Nah, ketika upaya memberi manfaat itu tidak ada pamrih, maka akan sampai derajat tertinggi, hingga sampai ke tingkat ihsan. Maka dari sini perlu model, dan Rasulullah adalah model terbaik dalam hal ini," kata pakar sejarah nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal YouTube SCI, Selasa (22/2/2022).
Di samping itu, Nabi tumbuh layaknya anak-anak pada umumnya. Dalam kandungan 9 bulan, menyusu 2 tahun, dan bermain layaknya anak-anak lain. Ia bukan malaikat yang turun ke bumi. Sehingga kehidupan Nabi sedari kecil, remaja, hingga dewasa bisa menjadi suri teladan terbaik dalam pendidikan anak.
Anak lahir dan tumbuh cenderung menerima dan meniru lingkungan sekitar. Ini sudah disepakati oleh pakar parenting. Lingkungan sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak, mulai dari balita, mumayyiz, hingga baligh.
Lingkungan anak saat balita sangat penting sebagai bekal memasuki masa pertumbuhan mumayyiz, ketika anak berusia 10-11 tahun. Masa itu, anak sudah bisa sedikit demi sedikit membedakan antara kebaikan dan keburukan.
Fase mumayyiz pun sangat penting agar mendapatkan bekal kuat saat masuk usia baligh. Usia baligh artinya anak sudah masuk tahap kemandirian. Ini karena ia tak lagi bertanggung jawab pada manusia, tapi kepada Allah secara langsung. Segala amal perbuatan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.
Di fase ini, anak sudah masuk ke lingkungan sosial yang semakin luas. Dia tak hanya bergaul dengan teman-teman sebaya, tapi juga bertemu dengan orang-orang dewasa. Dia mulai berperan di tengah masyarakat, membangun kepribadian sebagai bekal beraktualisasi untuk membuktikan keahlian dengan memberikan manfaat kepada sekitar.
"Nah, ketika upaya memberi manfaat itu tidak ada pamrih, maka akan sampai derajat tertinggi, hingga sampai ke tingkat ihsan. Maka dari sini perlu model, dan Rasulullah adalah model terbaik dalam hal ini," kata pakar sejarah nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal YouTube SCI, Selasa (22/2/2022).