Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Masa Pertumbuhan Rasulullah Sebagai Model Pendidikan Anak

Muhajirin Selasa, 22 Februari 2022 - 14:00 WIB
Masa Pertumbuhan Rasulullah Sebagai Model Pendidikan Anak
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Nabi Muhammad SAW merupakan manusia pilihan. Status kerasulan tidak bisa dicapai dengan usaha-usaha manusia, melainkan dipilih langsung oleh Allah. Beliau sejak awal sudah dipersiapkan lalu dijaga agar memiliki karakter kuat.

Di samping itu, Nabi tumbuh layaknya anak-anak pada umumnya. Dalam kandungan 9 bulan, menyusu 2 tahun, dan bermain layaknya anak-anak lain. Ia bukan malaikat yang turun ke bumi. Sehingga kehidupan Nabi sedari kecil, remaja, hingga dewasa bisa menjadi suri teladan terbaik dalam pendidikan anak.

Anak lahir dan tumbuh cenderung menerima dan meniru lingkungan sekitar. Ini sudah disepakati oleh pakar parenting. Lingkungan sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak, mulai dari balita, mumayyiz, hingga baligh.

Lingkungan anak saat balita sangat penting sebagai bekal memasuki masa pertumbuhan mumayyiz, ketika anak berusia 10-11 tahun. Masa itu, anak sudah bisa sedikit demi sedikit membedakan antara kebaikan dan keburukan.

Fase mumayyiz pun sangat penting agar mendapatkan bekal kuat saat masuk usia baligh. Usia baligh artinya anak sudah masuk tahap kemandirian. Ini karena ia tak lagi bertanggung jawab pada manusia, tapi kepada Allah secara langsung. Segala amal perbuatan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.

Di fase ini, anak sudah masuk ke lingkungan sosial yang semakin luas. Dia tak hanya bergaul dengan teman-teman sebaya, tapi juga bertemu dengan orang-orang dewasa. Dia mulai berperan di tengah masyarakat, membangun kepribadian sebagai bekal beraktualisasi untuk membuktikan keahlian dengan memberikan manfaat kepada sekitar.

"Nah, ketika upaya memberi manfaat itu tidak ada pamrih, maka akan sampai derajat tertinggi, hingga sampai ke tingkat ihsan. Maka dari sini perlu model, dan Rasulullah adalah model terbaik dalam hal ini," kata pakar sejarah nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal YouTube SCI, Selasa (22/2/2022).

Nabi Muhammad Saat Balita

Rasulullah sejak awal sudah mendapatkan perlindungan khusus dari Allah, sehingga pertumbuhannya menjadi contoh paling ideal yang dijalani seorang anak manusia. Beliau lahir dalam keadaan yatim, karena Abdullah sang ayah meninggal dunia.

Meski kehilangan sosok ayah, tapi Rasulullah tidak kehilangan fungsi dan peran ayah yang melindungi dan menyayangi. Sebab, lingkungan Muhammad sudah memberikan semua yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya.

Tidak ada orang di sekitar Nabi Muhammad yang tidak menyayanginya. Sebut saja ibunda Aminah, Ummu Aiman sang pelayan, Suaibah, kakek, hingga paman-paman beliau. Di luar Makkah, ada Bani Saad yang sangat menyangi beliau. Halimah, penyapi beliau juga sangat menyangi Nabi Muhammad.

"Rasulullah tidak pernah berada di tempat orang asing," kata Asep. Ini merupaka contoh lingkungan yang sangat luar biasa yang didapatkan seorang anak. Ini menjadi pelajaran penting, agar setiap orang tua menciptakan lingkungan baik untuk anak-anaknya.

Sampai pada titik paling sederhana, lingkungan Nabi sangat indah. Misal perkara nama. Ibunda Aminah (amanah) nama yang sangat baik, pelayannya Ummu Aiman bernama Barakah, yang menyusui Suaibah (balasan yang baik), ibu susunya Halimah dari kata hilm (tingkat kesabaran paling tinggi, sabar sekaligus memaafkan).

"Coba lingkungan Rasulullah itu luar biasa. Jadi, dari namanya udah enak, apalagi sifat orang-orangnya. Ini yang kita dapatkan. Ketika seorang anak tumbuh bisa dikatakan sepenuhnya bergantung pada dari lingkungannya, dia membaca, memperhatikan, meniru itu yang ditiru positif. Ini yang kita butuhkan," tutur Asep.

Usia Tamyiz Nabi Muhammad

Saat Nabi Muhammad memasuki usia tamyiz (10-11 tahun) pun telah mendapatkan pendidikan luar biasa. Tidak hanya dari sisi lingkungan saja. Pada saat sudah memiliki dasar membedakan nilai kebenaran dan keburukan, ia selalu berada di sekitar tokoh-tokoh hebat.

Sang kakek, Abdul Muthalib merupakan tokoh paling berpengaruh di Mekkah yang tak pernah tergantikan. Tidak ada satu pun tokoh Quraisy yang mampu menyaingi level ketokohan Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib sangat menyayangi Nabi. Hingga di sekitar Ka'bah ada tempat bernama Nadi (tempat ekslusif para tokoh). Di tempat itu ada karpet khusus untuk Abdul Muthalib, yang anak-anaknya saja tidak berani duduk di situ.

Suatu hari saat Abdul Muthalib sudah mulai buta ada keributan. Orang-orang merasa khawatir karena Nabi duduk di atas karpet khusus Abdul Muthalib. "Kalau dia, Muhammad biarkan, aku merasa Muhammad akan berbeda dari siapapun," begitu kata Abdul Muthalib.

"Bayangkan ketika seorang anak diposisikan di satu kondisi, tempat, yang dia tahu orang lain tidak bisa di situ, dan dia bisa, itu membangun kebanggan dan kepercayaan diri, karena tidak semua orang bisa. Itu luar biasa," ucap Asep.

Tak hanya itu, Abdul Muthalib selalu membawa Nabi Muhammad saat ada pertemuan antar tokoh semua kabilah di Mekkah. Pertemuan itu bukan sekadar membicarakan isu-isu kecil. Namun, pembicaraan mengarah pada isu besar dan kebijakan besar."(Nabi Muhammad) mendengar dan melihat isu besar saat massih kecil. Itu penting untuk pertumbuhan ketika anak sudah Tamyiz," kata Asep.

Pelajaran penting untuk para orang tua adalah perhatikan tontonan anak. Berikan konten berkualitas, karena anak akan meniru. Seperti Nabi Muhammad kecil yang sudah meniru gaya bicara para tokoh besar, cara bertutur kata, cara mengambil kebijakan, hingga gaya hidup mereka.

"Kalau konten anak-anak kita yang dia serap setiap hari adalah tik-tokan ecek-ecek, gadget juga ecek-ecek, orang tua juga obrolannya ecek-ecek, anak akan tumbuh jadi apa? Ada di level apa?" tutur Asep.

Atmosfir demikian terus berlanjut hingga saat Nabi Muhammad diasuh oleh sang paman, Abu Thalib. Soal cinta tak usah ditanya. Abu Thalib tak membiarkan anak-anaknya makan, meski makanan sudah tersedia di meja, kalau Muhammad masih main di luar rumah.

"Ini kan bisa diciptakan. Oke, anak-anak main gadget, tapi kontennya apa? itu yang akan menentukan. Atau lingkungan, buat klub atau komunitas yang konsen dengan pendidikan anak-anak. itu juga pengayaan yang sangat luar biasa. kita bisa rekayasa itu, sehingga anak punya teladan yang warna-warni dan berbobot," ucap Asep.

Nabi Muhammad Beranjak Dewasa

Saat beranjak dewasa, sekitar umur 12 tahun, Muhammad telah mendapatkan pendidikan lapangan luar biasa. Riwayat paling masyhur adalah saat ia ikut serta dalam kabilah dagang Abu Thalib ke Bushrah.

Kala itu, kata Asep, Nabi merengek ingin ikut. Akhirnya diikuti sertakan. Dari situ ada banyak pelajaran penting. Abu Thalib secara tidak langsung mengajari dan memperkenalkan Nabi satu cakrawala yang lebih luas.

"Nabi Muhammad akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai kabilah yang memiliki tradisi dan budaya berbeda, kultur berbeda. Pokoknya itu sebuah ekspansi cakrawala yang sangat luas bagi seorang anak, terutama isu perdagangan," kata Asep.

Abu Thalib juga sudah mengajari kemandirian, yakni berdagang. Sebab, kala itu keterampilan paling masyhur adalah berdagang. Sehingga Muhammad tumbuh sebagai pemuda dengan keterampilan dagang level tinggi dan diberi gelar Al-Amin.

Al-Amin bisa diibaratkan sebagai banker era saat ini. Dagang bisa diibaratkan dengan ragam keterampilan era modern, seperti ahli digital dan lain-lain. Nabi Muhammad remaja sudah mendapatkan itu.

"Ini contoh luar biasa dari Rasulullah. Rasulullah sudah dikenal Al-Amin sejak sebelum menikah dan memiliki keterampilan dagang yang luar biasa. Itu yang dibutuhkan anak muda sekarang," tutur Asep.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)