Perang Rusia-Ukraina Beresiko Hambat Pertumbuhan Ekonomi
Redaksi
Selasa, 08 Maret 2022 - 13:33 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/iStock.
Perang Rusia dan Ukraina dinilai akan meningkatkan resiko krisis energi dan ancaman Inflasi. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang sudah mencapai $122 per barel (7 Maret 2022) akan berdampak pada biaya produksi yang meningkat di sisi produksi.
Menurut ekonom Indef Dr Eisha M Rachbini, perang Rusia-Ukraina juga menyebabkan disrupsi global supply chain, yang dapat berdampak pada kenaikan harga pengiriman komoditas. Perang ini akan memberikan tekanan pada pemulihan ekonomi dunia, terutama di sisi penawaran, dan sisi permintaan.
"Sehingga, resiko ke depan, ancaman inflasi dapat menurunkan daya beli masyarakat, serta dapat beresiko menghambat pertumbuhan ekonomi," kata Eisha dalam diskusi Universitas Paramadina di kanal Twitter space Didik J Rachbini bertajuk 'Beban Fiskal dan Perang Rusia Ukraina', dikutip Selasa (8/3/2022).
Baca Juga:Dampak Perang Rusia-Ukraina, Indef: Asumsi Makro Ekonomi Melesat dari Target
Lebih lanjut, Eisha mengatakan, dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina secara tidak langsung mempengaruhi stabilitas makro ekonomi dengan adanya kenaikan harga komoditas, termasuk minyak mentah, maka bisa menyebabkan inflasi, karena dapat mendorong kenaikan biaya energi, juga biaya produksi dan harga-harga barang. Di saat daya beli belum dapat pulih seperti sebelum covid-19, menjaga daya beli masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah.
"Jika kenaikan harga ke depan persistent dan sangat terasa sekali terhadap daya beli masyarakat, maka subsidi berfungsi sebagai bantalan agar masyarakat tidak jatuh lebih dalam kemiskinan," ujarnya.
Peran pemerintah dapat memberikan bantalan (safe guard) untuk masyarakat yang memang perlu dibantu (masyarakat kurang mampu) ketika shock terjadi (kenaikan harga). Artinya, subsidi pemerintah akan naik. Kenaikan harga minyak dunia, dan komoditas mempengaruhi anggaran pemerintah.
Menurut ekonom Indef Dr Eisha M Rachbini, perang Rusia-Ukraina juga menyebabkan disrupsi global supply chain, yang dapat berdampak pada kenaikan harga pengiriman komoditas. Perang ini akan memberikan tekanan pada pemulihan ekonomi dunia, terutama di sisi penawaran, dan sisi permintaan.
"Sehingga, resiko ke depan, ancaman inflasi dapat menurunkan daya beli masyarakat, serta dapat beresiko menghambat pertumbuhan ekonomi," kata Eisha dalam diskusi Universitas Paramadina di kanal Twitter space Didik J Rachbini bertajuk 'Beban Fiskal dan Perang Rusia Ukraina', dikutip Selasa (8/3/2022).
Baca Juga:Dampak Perang Rusia-Ukraina, Indef: Asumsi Makro Ekonomi Melesat dari Target
Lebih lanjut, Eisha mengatakan, dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina secara tidak langsung mempengaruhi stabilitas makro ekonomi dengan adanya kenaikan harga komoditas, termasuk minyak mentah, maka bisa menyebabkan inflasi, karena dapat mendorong kenaikan biaya energi, juga biaya produksi dan harga-harga barang. Di saat daya beli belum dapat pulih seperti sebelum covid-19, menjaga daya beli masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah.
"Jika kenaikan harga ke depan persistent dan sangat terasa sekali terhadap daya beli masyarakat, maka subsidi berfungsi sebagai bantalan agar masyarakat tidak jatuh lebih dalam kemiskinan," ujarnya.
Peran pemerintah dapat memberikan bantalan (safe guard) untuk masyarakat yang memang perlu dibantu (masyarakat kurang mampu) ketika shock terjadi (kenaikan harga). Artinya, subsidi pemerintah akan naik. Kenaikan harga minyak dunia, dan komoditas mempengaruhi anggaran pemerintah.