LANGIT7.ID, Jakarta - Di tengah pandemi Covid-19 yang belum diketahui ujungnya, perang Rusia-Ukraina mengakibatkan tingkat ketidakpastian ekonomi semakin tinggi. Para pelaku ekonomi dunia lebih memilih melakukan aksi wait and see sehingga perekonomian global mengalami kemandegan.
Demikian disampaikan peneliti Indef, Dr Agus Herta dalam diskusi Universitas Paramadina di kanal Twitter space Didik J Rachbini bertajuk 'Beban Fiskal dan Perang Rusia Ukraina'.
"Perang Rusia-Ukraina ini menjadi A Disrupted Global Recovery di tengah tingginya harapan masyarakat dunia terhadap pemulihan ekonomi yang terjadi pada tahun 2022," kata Dr Agus dalam keterangannya, Selasa (8/3/2022).
Baca Juga: Menakar Potensi Invasi Rusia ke Ukraina Sulut Perang Dunia KetigaLebih lanjut, dosen Universitas Mercu Buana ini menyatakan, perang Rusia-Ukraina juga membawa dampak signifikan terhadap APBN tahun 2022. Beberapa asumsi makro ekonomi yang dibuat ketika proses penyusunan APBN, meleset dan jauh dari target yang ditetapkan.
"Harga minyak dunia dalam asumsi APBN hanya ditetapkan sebesar US$63 per barel. Padahal sampai dengan tanggal tujuh Maret 2022, harga minyak Brent sudah ditransaksikan seharga US$ 128,76 per barel," katanya.
Hal yang menarik, jelas Agus, adalah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Di tengah perang Rusia-Ukraina, volatilitas pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak seekstrim volatilitas harga minyak bumi. Dalam APBN 2022, pemerintah bersama DPR telah menetapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp14.350 per dolar.
"Kita tahu, sampai dengan tujuh Maret 2022, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada di kisaran Rp14.380 per dolar. Hal ini menjadi pertanda kuat bahwa dolar Amerika Serikat sudah tidak lagi menjadi safe haven asset bagi para pelaku ekonomi," ujarnya.
Baca Juga: 80 WNI Berhasil Dievakuasi dari Ukraina Menggunakan Pesawat Garuda Indonesia"Para pelaku ekonomi lebih memilih emas sebagai safe haven asset-nya. Hal ini terlihat dari harga emas yang sudah naik lebih dari 8,5 persen dalam satu bulan terakhir," imbuhnya.
Menurut Agus, kenaikan harga migas dunia ini akan memberatkan APBN kita, terutama berkaitan dengan besaran subsidi energi yang telah ditetapkan terutama subsidi LPG 3Kg. Di tengah naiknya harga gas dunia yang berimbas pada naiknya harga gas non-subsidi, banyak masyarakat yang akan beralih pada LPG 3Kg hal ini akan mengakibatkan subsidi LPG 3Kg akan membengkak.
"Subsidi energi berupa subsidi listrik untuk masyarakat menengah bawah juga akan meningkat seiring naiknya harga minyak dunia. Hal ini terjadi karena sebagian produksi listrik di Indonesia masih menggunakan solar dan batubara sebagai bahan bakar mesin pembangkit listriknya," ujar dia.
Baca Juga: Kaukasus Hingga Volga: Gerbang Islam Masuk RusiaVolatilitas nilai tukar yang tidak terlalu liar, tambah Agus, sepertinya tidak akan terlalu memengaruhi nilai utang pemerintah. Namun utang pemerintah akan mengalami tekanan seiring dengan semakin beratnya beban pengeluaran pemerintah melalui subsidi dan pembangunan infrastruktur.
"Langkah realokasi dan refocussing anggaran dinilai tidak akan cukup di tengah masih tingginya pembiayaan untuk penanggulangan pandemi dan pemulihan ekonomi," kata Agus.
Baca Juga: Lebih Dari 1.500 UMKM Bakal Ramaikan Ajang MotoGP Mandalika(zhd)