LANGIT7.ID, Jakarta - Dosen Studi Keamanan Internasional Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), Irawan Jati menilai invasi Rusia terhadap Ukraina bukan hal baru. Konflik yang saat ini terjadi di Eropa Timur itu disebut sebagai sisa-sisa perang dingin.
Irawan mengatakan bahwa apa yang saat ini dilakukan Rusia bukan merupakan hal yang baru karena pernah terjadi di 2014. Saat itu Rusia mencoba menganeksasi kembali dan mengklaim Ukraina sebagai bagian sah dari Rusia.
Adapun dukungan yang diberikan Rusia kepada kelompok separatis Ukraina dinilai tidak terlepas dari konsep the enemy of my enemy is my friend yang diadopsi Rusia. Dengan demikian, Rusia dapat mempertahankan kedudukannya di wilayah timur, Luhansk dan Donetsk.
Baca Juga: Invasi Rusia ke Ukraina: PP Muhammadiyah Desak Segera Akhiri Perang“Rusia mencoba memaksimalkan potensi kelompok-kelompok separatis untuk mempertahankan dan memperkuat kedudukan mereka di negara-negara tersebut,” ujar Irawan Jati dikutip laman resmi UII, Jumat (4/3/2022).
Dosen Studi Kawasan Eropa Program Studi HI UII¸ Mohamad Rezky Utama menyampaikan bahwa situasi yang saat ini terjadi di Ukraina tidak terlepas dari ekspansi NATO. Ekspansi NATO ke Eropa Timur membahayakan Rusia karena hal ini berpotensi memindahkan rudal balistik yang awalnya ditempatkan di Rumania ke Ukraina dan berpotensi menjadi ancaman terbuka bagi Rusia.
Rezky menguraikan, sebelum 2014, Ukraina sangat dekat dengan Rusia dan menjadi buffer zone antara Rusia dan Eropa. Namun setelah revolusi 2014, pemerintah Ukraina berpindah haluan, dari sebelumnya dekat dengan Rusia beralih mendekati NATO.
Hal ini menyebabkan Belarusia menjadi satu-satunya buffer zone antara Rusia dan negara-negara Eropa. Invasi yang dilakukan Putin menjadi salah satu cara untuk mengembalikan Ukraina sebagai salah satu sekutu Rusia dengan mengganti rezim pemerintah Ukraina melalui dukungan kelompok separatis di Donetsk, Luhan, dan Krimea.
Baca Juga: INDEF: Meski Kecil, Dampak Perang Rusia-Ukraina Pengaruhi Ekonomi RIHal yang sama juga pernah dilakukan oleh Rusia dengan mendukung kelompok separatis Georgia setelah negara tersebut mulai memihak kepada Amerika Serikat dan Eropa Barat.
Terkait indikasi konflik yang mengarah ke perang dunia ketiga, keduanya sepakat bahwa potensi ke arah sana masih terlalu jauh. Salah satu indikatornya adalah bantuan militer yang diberikan negara-negara anggota NATO seperti Turki, Kanada, dan Spanyol lebih bersifat bantuan individu alih-alih atas nama organisasi.
“Hal ini ditambah dengan pernyataan Joe Biden (Presiden Amerika Serikat) yang tidak akan mengirimkan bantuan militer ke Ukraina,” ujar Irawan Jati.
Rezky Utama menambahkan, faktor penghambat lainnya adalah Uni Eropa dan NATO masih cukup berhati-hati dalam mengambil langkah untuk menghindari perang dunia ketiga. Sebab, tindakan yang tidak cermat dapat menjadikan Eropa menjadi teater perang dunia lagi.
Baca Juga: Al-Azhar Mesir Serukan Dialog, Selesaikan Konflik Rusia-UkrainaAncaman sanksi ekonomi dan embargo untuk mendorong Rusia menghentikan perang tidak banyak berpengaruh. Rusia merupakan suatu wilayah yang cukup sustain sehingga dianggap masih bisa survive menghadapi embargo.
Saat ini, Rusia yang menjadi pemasok utama gas untuk negara-negara di kawasan Eropa yang membuat sanksi ekonomi bisa berbalik merugikan negara-negara di kawasan Eropa. Pendekatan diplomasi dipandang menjadi salah satu solusi meskipun cukup bertele-tele.
Hal ini disebabkan legitimasi militer negara-negara di sekitar Rusia belum cukup kuat sehingga apabila memaksakan penyelesaian konflik lewat cara militer malah akan mengarah pada invasi yang lebih besar. Penyelesaian konflik melalui PBB belum bisa dilakukan karena Rusia masih memiliki hak veto di United Nations Security Council (Dewan Keamanan PBB) yang bisa menghambat langkah-langkah penyelesaian konflik.
“NATO dan EU harus turun tangan dan terlibat dalam perjanjian damai untuk menyelesaikan konflik kedua negara ini,” kata Rezky.
Baca Juga: Wawancara Pakar: Umat Jangan Terpancing Sentimen Islam di Konflik Rusia-Ukraina(zhd)