Santri Dinilai Punya Kemampuan Complex Problem Solving Era 4.0
Muhajirin
Selasa, 08 Maret 2022 - 20:00 WIB
Ilustrasi (foto: Tempo)
Pola pendidikan pesantren dinilai mampu menjadikan santri memiliki kemampuan complex problem solving yang dibutuhkan pada era industri 4.0 dan industri masa depan.
Complex problem solving merupakan skill yang terkait dengan kemampuan memecahkan masalah yang asing dan solusinya belum ditemukan dalam dunia nyata.
Dari 10 skill yang dibutuhkan era industri masa depan, presentase kebutuhan tertinggi adalah complex problem solving (36 persen), social skill (19 persen), dan process skill (18 persen).
Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat menghadiri Haflah Ikhtitamiddurus dan Alfiyyah Ibnu Malik di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, pada Senin (7/3/2022).
Baca juga: Menko PMK: Santri Harus Seimbangkan Ilmu Agama dan Umum
Dia menilai, pendidikan di pondok pesantren mengajarkan para santri mampu memecahkan permasalahan yang kompleks dengan cara-cara kreatif. Selain pendekatan science juga pendekatan religiusitas seperti istikharah.
Complex problem solving merupakan skill yang terkait dengan kemampuan memecahkan masalah yang asing dan solusinya belum ditemukan dalam dunia nyata.
Dari 10 skill yang dibutuhkan era industri masa depan, presentase kebutuhan tertinggi adalah complex problem solving (36 persen), social skill (19 persen), dan process skill (18 persen).
Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat menghadiri Haflah Ikhtitamiddurus dan Alfiyyah Ibnu Malik di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, pada Senin (7/3/2022).
Baca juga: Menko PMK: Santri Harus Seimbangkan Ilmu Agama dan Umum
Dia menilai, pendidikan di pondok pesantren mengajarkan para santri mampu memecahkan permasalahan yang kompleks dengan cara-cara kreatif. Selain pendekatan science juga pendekatan religiusitas seperti istikharah.