Tak Bisa Lepas dari Sosmed, Awas Terjangkit Sindrom Fomo
Fifiyanti Abdurahman
Kamis, 10 Maret 2022 - 13:07 WIB
Sindrom fomo kerap dialami oleh generasi milenial, Gen Y, dan Gen Z
FOMO atau Fear of Missing Out merupakan perasaan cemas atau kekhawatiran akan ketinggalan informasi atau tren yang sedang terjadi. Biasa perilaku fomo ini dilandasi oleh ketakutan akan cap tidak gaul dalam lingkungan sosial.
Perilaku ini biasanya terjadi karena terlalu mengikuti informasi ataupun eksistensi di media sosial, sehingga jika ia sedikit saja kehilangan informasi maka akan timbul rasa ketakutan, cemas dan lainnya di dalam diri mereka.
Baca juga: Sosiolog: Perilaku Konsumtif Harus Diimbangi Kemampuan Finansial
Psikolog Rumah Konseling, Muhammad Iqbal mengatakan fomo kebanyakan terkena terjadi pada generasi milenial, generasi Y untuk kelahiran 80-an dan 90-an yang mereka sudah mengenal media sosial sejak awal. Sederhananya, mereka adalah generasi-generasi yang aktif di media sosial.
"Gejalanya, mereka tidak bisa lepas dari HP, tidak bisa lepas dari sosial media, bahkan mereka sedikitpun tidak bisa jika tidak update status dan mereka lebih peduli dengan kehidupan di media sosial daripada kehidupan nyata," ujar Iqbal kepada Langit7, Rabu (9/3/2022).
Akibatnya, tambah Iqbal, mereka akan membandingkan diri dengan orang lain. Bila dilihat dari sisi kesehatan, perilaku fomo bisa mempengaruhi kesehatan mental, sehingga mudah stres dan kehidupan sosialnya bermasalah.
Menurut Iqbal, kebanyakan yang terkena sindrom fomo ini merupakan masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah. Dimana mereka selalu mengikuti figur publik di Instagram, sehingga terobsesi dengan kehidupan idolanya.
Perilaku ini biasanya terjadi karena terlalu mengikuti informasi ataupun eksistensi di media sosial, sehingga jika ia sedikit saja kehilangan informasi maka akan timbul rasa ketakutan, cemas dan lainnya di dalam diri mereka.
Baca juga: Sosiolog: Perilaku Konsumtif Harus Diimbangi Kemampuan Finansial
Psikolog Rumah Konseling, Muhammad Iqbal mengatakan fomo kebanyakan terkena terjadi pada generasi milenial, generasi Y untuk kelahiran 80-an dan 90-an yang mereka sudah mengenal media sosial sejak awal. Sederhananya, mereka adalah generasi-generasi yang aktif di media sosial.
"Gejalanya, mereka tidak bisa lepas dari HP, tidak bisa lepas dari sosial media, bahkan mereka sedikitpun tidak bisa jika tidak update status dan mereka lebih peduli dengan kehidupan di media sosial daripada kehidupan nyata," ujar Iqbal kepada Langit7, Rabu (9/3/2022).
Akibatnya, tambah Iqbal, mereka akan membandingkan diri dengan orang lain. Bila dilihat dari sisi kesehatan, perilaku fomo bisa mempengaruhi kesehatan mental, sehingga mudah stres dan kehidupan sosialnya bermasalah.
Menurut Iqbal, kebanyakan yang terkena sindrom fomo ini merupakan masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah. Dimana mereka selalu mengikuti figur publik di Instagram, sehingga terobsesi dengan kehidupan idolanya.