Pesantren Kreatif iHAQi, Ajari Santri Hadapi Tantangan Zaman
Muhajirin
Jum'at, 11 Maret 2022 - 16:00 WIB
Pesantren iHAQI Bandung (foto: Republika)
Pesantren tidak lagi berkonsentrasi pada kuning saja, namun juga bisa beradaptasi dengan zaman. Inilah konsep SMP Kreatif iHAQi Boarding School yang dipimpin Ustadz Erick Yusuf.
Pesantren modern ini berlokasi di Cilacap, Bandung, Jawa Barat itu mengimplementasikan konsep personality index Islam. Lewat konsep itu, bukan hanya nilai akademik siswa yang dinilai, tetapi juga nilai-nilai keislaman.
Tiap tahun, pesantren yang pertama kali beroperasi pada 2017 itu rutin mengadakan program bea santri untuk program pesantren digital entrepreneurship. Program itu untuk memfasilitasi para santri, khususnya santri yatim dan dhuafa.
Baca juga: DMI: Pondok Pesantren Harus Jadi Lokomotif Perubahan
Materi yang diajarkan dalam program itu meliputi kurikulum pesantren, kurikulum digital, dan kurikulum entrepreneurship. Kapasitas program bea santri ini terbatas, yakni hanya 10 santri saja yang memiliki hafalan Al-Qur'an minimal satu juz. Pelaksanaannya yakni mondok di pesantren selama satu tahun.
"Selain ada pembelajaran tatap muka di pesantren, ada juga kegiatan tambahan meliputi workshop dan fieldtrip sebagai penunjang program bea santri tersebut," kata Erick Yusuf melalui keterangan tertulis, Jumat (11/3/2022).
Pembelajaran digital diberikan kepada para santri agar mereka bisa menjawab tantangan di masa kini dan masa depan, didukung dengan kurikulum entrepreneurship yang akan memberikan wawasan kepada santri. Mereka akan memiliki jiwa entrepreneur seperti mengelola usaha dengan skill khusus.
Pesantren modern ini berlokasi di Cilacap, Bandung, Jawa Barat itu mengimplementasikan konsep personality index Islam. Lewat konsep itu, bukan hanya nilai akademik siswa yang dinilai, tetapi juga nilai-nilai keislaman.
Tiap tahun, pesantren yang pertama kali beroperasi pada 2017 itu rutin mengadakan program bea santri untuk program pesantren digital entrepreneurship. Program itu untuk memfasilitasi para santri, khususnya santri yatim dan dhuafa.
Baca juga: DMI: Pondok Pesantren Harus Jadi Lokomotif Perubahan
Materi yang diajarkan dalam program itu meliputi kurikulum pesantren, kurikulum digital, dan kurikulum entrepreneurship. Kapasitas program bea santri ini terbatas, yakni hanya 10 santri saja yang memiliki hafalan Al-Qur'an minimal satu juz. Pelaksanaannya yakni mondok di pesantren selama satu tahun.
"Selain ada pembelajaran tatap muka di pesantren, ada juga kegiatan tambahan meliputi workshop dan fieldtrip sebagai penunjang program bea santri tersebut," kata Erick Yusuf melalui keterangan tertulis, Jumat (11/3/2022).
Pembelajaran digital diberikan kepada para santri agar mereka bisa menjawab tantangan di masa kini dan masa depan, didukung dengan kurikulum entrepreneurship yang akan memberikan wawasan kepada santri. Mereka akan memiliki jiwa entrepreneur seperti mengelola usaha dengan skill khusus.