Berhenti Bandingkan Diri Anda dengan Orang Lain, Begini Caranya
Muhajirin
Jum'at, 18 Maret 2022 - 15:54 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Hampir semua orang pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sikap ini bukan sesuatu yang baik untuk dipelihara. Jika dibiasakan, sikap itu dapat menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan sosial serta kesehatan mental.
Praktisi kesehatan mental Tanah Air, Adjie Santosoputro, mengatakan, sejak dulu, pikiran manusia memang gemar membandingkan. Manusia cenderung berpikir what should be (apa yang seharusnya) bukan what it is (apa adanya).
Hal itu bisa dipahami, sebab pikiran manusia terlatih demikian. Berbagai hal yang dialami pada masa lalu, masa kecil-remaja, mengondisikan pikiran untuk membandingkan.
Baca juga: Akrab Medsos, Gen Z dan Milenial Mudah Terkena Penyakit Mental
“Pikiran kita jadi berlandaskan membandingkan. Cenderung mengarah ke ‘what should be’, sebagai pelarian dari ‘what it is’. Membandingkan, bisa jadi merupakan upaya pikiran untuk melarikan diri dari se-apaada-nya diri kita. Kita sadari itu dulu,” kata Adjie melalui akun Twitter-nya, Jumat (18/3/2022).
Pria yang menempuh pendidikan psikologi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu menilai saat muncul pikiran membandingkan adalah hal yang wajar. Tidak perlu denial dan tak perlu dilawan.
Melawan pikiran yang membandingkan berarti juga terjebak dalam pembandingan. Perlawanan itu berlandaskan pembandingan antara membandingkan itu buruk dengan tidak membandingkan itu baik.
Praktisi kesehatan mental Tanah Air, Adjie Santosoputro, mengatakan, sejak dulu, pikiran manusia memang gemar membandingkan. Manusia cenderung berpikir what should be (apa yang seharusnya) bukan what it is (apa adanya).
Hal itu bisa dipahami, sebab pikiran manusia terlatih demikian. Berbagai hal yang dialami pada masa lalu, masa kecil-remaja, mengondisikan pikiran untuk membandingkan.
Baca juga: Akrab Medsos, Gen Z dan Milenial Mudah Terkena Penyakit Mental
“Pikiran kita jadi berlandaskan membandingkan. Cenderung mengarah ke ‘what should be’, sebagai pelarian dari ‘what it is’. Membandingkan, bisa jadi merupakan upaya pikiran untuk melarikan diri dari se-apaada-nya diri kita. Kita sadari itu dulu,” kata Adjie melalui akun Twitter-nya, Jumat (18/3/2022).
Pria yang menempuh pendidikan psikologi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu menilai saat muncul pikiran membandingkan adalah hal yang wajar. Tidak perlu denial dan tak perlu dilawan.
Melawan pikiran yang membandingkan berarti juga terjebak dalam pembandingan. Perlawanan itu berlandaskan pembandingan antara membandingkan itu buruk dengan tidak membandingkan itu baik.