LANGIT7.ID, Jakarta - Hampir semua orang pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sikap ini bukan sesuatu yang baik untuk dipelihara. Jika dibiasakan, sikap itu dapat menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan sosial serta kesehatan mental.
Praktisi kesehatan mental Tanah Air, Adjie Santosoputro, mengatakan, sejak dulu, pikiran manusia memang gemar membandingkan. Manusia cenderung berpikir
what should be (apa yang seharusnya) bukan
what it is (apa adanya).
Hal itu bisa dipahami, sebab pikiran manusia terlatih demikian. Berbagai hal yang dialami pada masa lalu, masa kecil-remaja, mengondisikan pikiran untuk membandingkan.
Baca juga: Akrab Medsos, Gen Z dan Milenial Mudah Terkena Penyakit Mental“Pikiran kita jadi berlandaskan membandingkan. Cenderung mengarah ke ‘
what should be’, sebagai pelarian dari ‘
what it is’. Membandingkan, bisa jadi merupakan upaya pikiran untuk melarikan diri dari se-apaada-nya diri kita. Kita sadari itu dulu,” kata Adjie melalui akun
Twitter-nya, Jumat (18/3/2022).
Pria yang menempuh pendidikan psikologi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu menilai saat muncul pikiran membandingkan adalah hal yang wajar. Tidak perlu denial dan tak perlu dilawan.
Melawan pikiran yang membandingkan berarti juga terjebak dalam pembandingan. Perlawanan itu berlandaskan pembandingan antara membandingkan itu buruk dengan tidak membandingkan itu baik.
“Ketika muncul pikiran membandingkan, sadari aja. ‘
Ooo ini pikiranku baru membandingkan’. Dengan begitu, kita jadi keluar dari ‘pasir hisap pikiran’. Dari mode pikiran ke mode kesadaran. Pelan-pelan pikiran membandingkan itu akan surut sendiri. Beda kalau dilawan dgn pikiran.
Bagaimana Jika Orang Tua atau Pasangan yang Membandingkan?Tidak ada orang yang mampu mengatur mulut orang lain. Itu diluar kendali masing-masing manusia. Lagipula, ketika orang lain membandingkan, pikiran kita sendiri yang mencerna. Jadi, yang dihadapi bukan ucapan orang lain, tapi pikiran sendiri.
Untuk mengendurkan jeratan pikiran membandingkan, perlu disadari setiap orang Punya jatah rute perjalanan hidup yang berbeda-beda. Misal, si A dari rumah di Jogja-Surabaya naik pesawat. Si B dari rumah di Semarang-minimart depan komplek naik sepeda. Tidak ada gunanya membandingkan kecepatan pesawat dan sepeda.
Baca juga: Test Anxiety Disorder, Tak Cepat Diatasi Bisa Jadi Lingkaran Setan“Karena jatah rute perjalanan hidup yang beda-beda, maka apa yang terjadi selama perjalanan juga beda-beda. Ada yang umur sekian, udah ngalamin. Ada juga yang bertahun-tahun melewati umur sekian, baru ngalamin. Ada yang di hidupnya dapat jatah mengalami. Ada juga yang tidak. Jadi gak bisa dibandingkan,” ucap Adjie.
Perlu diperhatikan, jika menginginkan hidup orang lain, ketika hidup sudah seperti orang itu, bisa jadi justru lebih banyak masalah. Lebih menderita dan ingin hidup seperti sebelumnya saja.
“Yang kita inginkan, bisa jadi bukan yang kita butuhkan. Semoga kita semua bisa menerima kenyataan se-apaada-nya,” tutur Adjie.
(jqf)