Perkenalkan Indra Rudiansyah, Salah Satu Peneliti Vaksin AstraZeneca
Ahmad zuhdi
Kamis, 29 Juli 2021 - 10:00 WIB
Indra Rudiansyah Foto: Hot Courses
Produksi vaksin Covid-19 dari berbagai negara dengan waktu singkat tak lepas dari riset, penelitian, dan pengembangan para pakar berkompten di bidangnya. Salah satu peneliti muslim yang terlibat dalam proses R&D vaksin AstraZeneca adalah dari Indonesia, yakni Indra Rudiansyah, mahasiswa S3 di Oxford.
Indra memulai perjalanan doktoralnya sebagai mahasiswa program DPhil in Clinical Medicine di Oxford pada tahun 2018. Tugas utamanya adalah mendesain berbagai jenis kandidat vaksin malaria serta melakukan uji coba ke hewan (uji praklinis).
“It takes time, kita harus melihat respon imun seperti apa yang muncul setelah proses vaksinasi. Banyak parameter yang harus dilihat, inilah yang menjadi topik disertasi saya,” kata Indra seperti dilansir Hot Courses jauh sebelum AstraZeneca diproduksi massal.
Hanya saja, langkah Indra terhenti ketika pemerintah Inggris memberlakukan kebijakan lockdown untuk memperlambat transmisi Covid-19. Penelitian Indra terpaksa ditunda.
Proyeknya mengalami hiatus selama enam bulan dari Maret hingga Juli. Ia hanya bisa melakukan pertemuan, diskusi jurnal, dan progres riset secara virtual.
Syahdan, dalam satu kesempatan Indra menyambut tawaran bergabung di tim riset dan pengembangan vaksin Covid-19. Kebetulan Indra telah memiliki sertifikasi Human Tissue Authority (HTA) dan Good Clinical Practice (GCP).
Itu adalah 2 sertifikasi wajib yang harus ia miliki untuk bisa melakukan uji klinis (uji coba terhadap manusia) vaksin malaria. “Karena saya punya sertifikasi untuk bekerja dengan sampel manusia, saya mendapat tugas di bagian imunologi untuk melakukan uji klinis vaksin COVID-19,” jelasnya.
Indra memulai perjalanan doktoralnya sebagai mahasiswa program DPhil in Clinical Medicine di Oxford pada tahun 2018. Tugas utamanya adalah mendesain berbagai jenis kandidat vaksin malaria serta melakukan uji coba ke hewan (uji praklinis).
“It takes time, kita harus melihat respon imun seperti apa yang muncul setelah proses vaksinasi. Banyak parameter yang harus dilihat, inilah yang menjadi topik disertasi saya,” kata Indra seperti dilansir Hot Courses jauh sebelum AstraZeneca diproduksi massal.
Hanya saja, langkah Indra terhenti ketika pemerintah Inggris memberlakukan kebijakan lockdown untuk memperlambat transmisi Covid-19. Penelitian Indra terpaksa ditunda.
Proyeknya mengalami hiatus selama enam bulan dari Maret hingga Juli. Ia hanya bisa melakukan pertemuan, diskusi jurnal, dan progres riset secara virtual.
Syahdan, dalam satu kesempatan Indra menyambut tawaran bergabung di tim riset dan pengembangan vaksin Covid-19. Kebetulan Indra telah memiliki sertifikasi Human Tissue Authority (HTA) dan Good Clinical Practice (GCP).
Itu adalah 2 sertifikasi wajib yang harus ia miliki untuk bisa melakukan uji klinis (uji coba terhadap manusia) vaksin malaria. “Karena saya punya sertifikasi untuk bekerja dengan sampel manusia, saya mendapat tugas di bagian imunologi untuk melakukan uji klinis vaksin COVID-19,” jelasnya.