LANGIT7.ID - Produksi vaksin Covid-19 dari berbagai negara dengan waktu singkat tak lepas dari riset, penelitian, dan pengembangan para pakar berkompten di bidangnya. Salah satu peneliti muslim yang terlibat dalam proses R&D vaksin AstraZeneca adalah dari Indonesia, yakni Indra Rudiansyah, mahasiswa S3 di Oxford.
Indra memulai perjalanan doktoralnya sebagai mahasiswa program DPhil in Clinical Medicine di Oxford pada tahun 2018. Tugas utamanya adalah mendesain berbagai jenis kandidat vaksin malaria serta melakukan uji coba ke hewan (uji praklinis).
“It takes time, kita harus melihat respon imun seperti apa yang muncul setelah proses vaksinasi. Banyak parameter yang harus dilihat, inilah yang menjadi topik disertasi saya,” kata Indra seperti dilansir
Hot Courses jauh sebelum AstraZeneca diproduksi massal.
Hanya saja, langkah Indra terhenti ketika pemerintah Inggris memberlakukan kebijakan lockdown untuk memperlambat transmisi Covid-19. Penelitian Indra terpaksa ditunda.
Proyeknya mengalami hiatus selama enam bulan dari Maret hingga Juli. Ia hanya bisa melakukan pertemuan, diskusi jurnal, dan progres riset secara virtual.
Syahdan, dalam satu kesempatan Indra menyambut tawaran bergabung di tim riset dan pengembangan vaksin Covid-19. Kebetulan Indra telah memiliki sertifikasi Human Tissue Authority (HTA) dan Good Clinical Practice (GCP).
Itu adalah 2 sertifikasi wajib yang harus ia miliki untuk bisa melakukan uji klinis (uji coba terhadap manusia) vaksin malaria. “Karena saya punya sertifikasi untuk bekerja dengan sampel manusia, saya mendapat tugas di bagian imunologi untuk melakukan uji klinis vaksin COVID-19,” jelasnya.
Tak Terpikir Jadi Peneliti VaksinIndra mengaku tidak pernah menyangka akan menjadi peneliti vaksin, apalagi terkait penyakit pandemi seperti Covid-19. Pada saat memilih jurusan S1 di tahun 2009, ia sebenarnya lebih tertarik menekuni dunia perminyakan.
Hasil berkata lain. Ia luput meraih kursi di jurusan yang diidamkannya dan akhirnya masuk ke pilihan keduanya: jurusan mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kendati begitu, dia sudah berminat dengan bidang ilmu hayati (life science) sejak SMA. “Ketika kuliah S1, saya berharap dapat mendalami studi mikrobiologi lingkungan serta hubungannya dengan energi atau remediasi lingkungan,” kata Indra.
Keinginannya terwujud. Dia berhasil menyelesaikan tugas akhirnya tentang gas metana dalam lapisan batu bara (coal bed methane) yang memanfaatkan mikroba untuk mengonversikan batu bara lignit menjadi gas metana.
Indra konsisten berkarya di jalur serupa ketika melanjutkan program S2 fast track (satu tahun) jurusan Bioteknologi di ITB. Ia berfokus di bidang microbial enhanced oil recovery (MEOR) untuk meneliti peningkatan perolehan minyak dengan mikroba, yang merupakan proyek kerja sama antara tim MEOR ITB dengan Pertamina.
Senang dengan Dunia VaksinKendati fokus di sektor energi semasa S2, Indra sebenarnya sudah mulai mengembangkan ketertarikan pada sektor terapan mikrobiologi dalam dunia medis. Ketertarikannya terutama terkait ilmu bioteknologi pada pengembangan vaksin
Indra akhirnya mencoba mewujudkan keinginannya untuk berkecimpung di sektor tersebut saat mencari pekerjaan. Ia berhasil diterima di perusahaan vaksin Bio Farma, di mana ia mengembangkan karirnya sebagai Product Development Specialist selama 4 tahun (2014-2018).
Dalam perusahaan inilah Indra pertama kali memperoleh pengalaman bekerja dengan virus. Ia terlibat dalam riset sekaligus pengembangan vaksin rotavirus dan novel polio.
Pengalaman di proyek riset dan pengembangan vaksin menginspirasi Indra untuk melanjutkan studi doktoral di bidang yang sama. “Walaupun mendapatkan keterampilan kerja di lab, saya masih merasa perlu menggali pengetahuan lebih dalam,” ucapnya. Oleh karena itu, ia memberanikan diri mendaftar program S3.
Pengalaman Pendaftaran Program S3Pada proses pendaftaran, Indra berkonsultasi dengan pimpinannya di Bio Farma. “Waktu itu saya tertarik dengan HIV. Namun ketika baca-baca tentang malaria, saya jadi tahu bahwa teknologi pengembangan vaksin malaria ternyata bisa diaplikasikan di bidang lain, sehingga sangat bermanfaat untuk pengembangan vaksin-vaksin penyakit lain,” jelas Indra.
Memang, riset soal vaksin malaria di Indonesia masih jarang. Oleh karena itu, akan menjadi kesempatan besar baginya untuk terjun dan menjadi ahli di bidang ini.
Saat itu, Indra telah terlebih dahulu meraih beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI. Indra pun lantas mencari tahu soal kampus-kampus top di bidang penelitian vaksin malaria. Ia juga sempat mendaftar ke Johns Hopkins University, AS, tapi peruntungannya bukan di sana.
Setelah membaca jurnal-jurnal ilmiah, Indra menemukan bahwa University of Oxford di Inggris merupakan salah satu institusi paling maju dalam hal penelitian vaksin malaria. Dia kemudian berinisiatif menghubungi tiga principal investigator (PI) atau pemimpin riset di Oxford via e-mail.
“Yang satu tidak balas, satu lagi lab-nya sudah penuh, satu lagi balas dan akhirnya saya sekarang bekerja dengan beliau,” kenang Indra.
Saat ini Indra bekerja dengan Adrian Hill, PI dan Direktur Jenner Institute yang berada di bawah Departemen Clinical Medicine di Oxford. "Institut ini memang fokus ke penelitian vaksin,” katanya.
(arp)