Direktur IDEAS: Ramadhan Bulan Berbagi, Bukan Menaikkan Konsumsi
Muhajirin
Kamis, 07 April 2022 - 01:00 WIB
Ilustrasi (foto: istimewa)
Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono, menjelaskan, kenaikan konsumsi masyarakat muslim pada bulan Ramadhan merupakan anomali. Hal tersebut dikarenakan Ramadhan merupakan bulan berbagi antarsesama.
Continuum Data Indonesia mencatatkan indeks konsumsi masyarakat pada periode Ramadhan 2021 mengalami peningkatan sebesar 17 persen. Riset itu dikumpulkan dari 1,2 juta pembicaraan dari 934.671 akun media sosial, pada periode 1 April hingga 25 April 2021.
Baca juga: Kemiskinan Turun Namun Pengangguran Bertambah Menjadi 9,1 Juta
Tren belanja yang meningkat saat Ramadhan juga tercermin dalam Survei Penjualan Eceran yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI). Pada Mei 2019, hasil survei BI menunjukkan adanya peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 8,9%.
Pada bulan yang bertepatan dengan bulan Ramadan ini ada peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini ditopang oleh penjualan subkelompok sandang, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok suku cadang dan aksesori.
Gairah konsumsi masyarakat juga tercermin dari laju inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi Mei 2019 lalu sebesar 0,68%. Angka ini melonjak dibandingkan April 2019 yang sebesar 0,44%.
Menurut Yusuf, fenomena kenaikan konsumsi masyarakat, terutama umat muslim di bulan Ramadhan, sesungguhnya adalah anomali. Dengan puasa, konsumsi seharusnya turun, terutama bahan kebutuhan pokok.
Continuum Data Indonesia mencatatkan indeks konsumsi masyarakat pada periode Ramadhan 2021 mengalami peningkatan sebesar 17 persen. Riset itu dikumpulkan dari 1,2 juta pembicaraan dari 934.671 akun media sosial, pada periode 1 April hingga 25 April 2021.
Baca juga: Kemiskinan Turun Namun Pengangguran Bertambah Menjadi 9,1 Juta
Tren belanja yang meningkat saat Ramadhan juga tercermin dalam Survei Penjualan Eceran yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI). Pada Mei 2019, hasil survei BI menunjukkan adanya peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 8,9%.
Pada bulan yang bertepatan dengan bulan Ramadan ini ada peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini ditopang oleh penjualan subkelompok sandang, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok suku cadang dan aksesori.
Gairah konsumsi masyarakat juga tercermin dari laju inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi Mei 2019 lalu sebesar 0,68%. Angka ini melonjak dibandingkan April 2019 yang sebesar 0,44%.
Menurut Yusuf, fenomena kenaikan konsumsi masyarakat, terutama umat muslim di bulan Ramadhan, sesungguhnya adalah anomali. Dengan puasa, konsumsi seharusnya turun, terutama bahan kebutuhan pokok.