Ramadhan Bukan Alasan untuk Bermalas-malasan dan Rebahan
Muhajirin
Senin, 11 April 2022 - 14:23 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Founder @BegerakDariRumah, Febryan Kiswanto, menilai Ramadhan merupakan ajang meningkatkan produktivitas. Ramadhan tidak boleh menjadi alasan untuk malas-malasan dengan dalih ‘tidur adalah ibadah’.
Pria yang akrab disapa Cak Feb itu menegaskan, logika ‘tidur itu ibadah’ mesti diganti. Setiap muslim harus berfikir, jika tidur saja ibadah apalagi kalau produktif. Terlebih, Allah menjanjikan ganjaran berlipat ganda pada bulan suci ini.
Ramadhan bukan lagi momen melatih diri untuk berbaik baik. Tapi Ramadhan adalah bulan perlombaan atau kompetisi. Seperti kompetisi pada umumnya, latihan dilakukan sebelum hari H. Tenaga dikerahkan untuk melatih fisik dan mental, sehingga saat hari H tiba, sudah siap untuk bertempur.
Baca juga: Hindari Kebiasaan Ini, Bisa Merusak Kualitas Puasa
Sama halnya dengan Ramadhan. 11 bulan sebelumnya adalah ajang latihan untuk memaksimalkan kemampuan memanen keberkahan. Rasulullah dan para sahabat juga demikian. Mereka berlatih jauh hari sebelum Ramadhan tiba.
“Sebelum kompetisi kita sudah latihan, jadi kalau hari ini puasa, maka bulan sebelumnya sudah latih puasa dulu. Melatih untuk kompetisi, sehingga tidak merasa terbebani dengan puasa itu sendiri, kita bisa bertarung, dan memberikan yang terbaik,” kata Cak Feb dalam Sowan Virtual LANGIT7, dikutip Senin (11/4/2022).
Saat sudah berlatih dengan baik, seperti terbiasa puasa sunnah dan sedekah, maka Ramadhan sudah siap 100 persen untuk bertarung. Ramadhan siap untuk bersedekah lebih banyak. Puasa tak lagi jadi alasan untuk malas, tapi justru meningkatkan produktivitas.
Pria yang akrab disapa Cak Feb itu menegaskan, logika ‘tidur itu ibadah’ mesti diganti. Setiap muslim harus berfikir, jika tidur saja ibadah apalagi kalau produktif. Terlebih, Allah menjanjikan ganjaran berlipat ganda pada bulan suci ini.
Ramadhan bukan lagi momen melatih diri untuk berbaik baik. Tapi Ramadhan adalah bulan perlombaan atau kompetisi. Seperti kompetisi pada umumnya, latihan dilakukan sebelum hari H. Tenaga dikerahkan untuk melatih fisik dan mental, sehingga saat hari H tiba, sudah siap untuk bertempur.
Baca juga: Hindari Kebiasaan Ini, Bisa Merusak Kualitas Puasa
Sama halnya dengan Ramadhan. 11 bulan sebelumnya adalah ajang latihan untuk memaksimalkan kemampuan memanen keberkahan. Rasulullah dan para sahabat juga demikian. Mereka berlatih jauh hari sebelum Ramadhan tiba.
“Sebelum kompetisi kita sudah latihan, jadi kalau hari ini puasa, maka bulan sebelumnya sudah latih puasa dulu. Melatih untuk kompetisi, sehingga tidak merasa terbebani dengan puasa itu sendiri, kita bisa bertarung, dan memberikan yang terbaik,” kata Cak Feb dalam Sowan Virtual LANGIT7, dikutip Senin (11/4/2022).
Saat sudah berlatih dengan baik, seperti terbiasa puasa sunnah dan sedekah, maka Ramadhan sudah siap 100 persen untuk bertarung. Ramadhan siap untuk bersedekah lebih banyak. Puasa tak lagi jadi alasan untuk malas, tapi justru meningkatkan produktivitas.