LANGIT7.ID, Jakarta -
Founder @BegerakDariRumah, Febryan Kiswanto, menilai Ramadhan merupakan ajang meningkatkan produktivitas. Ramadhan tidak boleh menjadi alasan untuk malas-malasan dengan dalih ‘tidur adalah ibadah’.
Pria yang akrab disapa Cak Feb itu menegaskan, logika ‘tidur itu ibadah’ mesti diganti. Setiap muslim harus berfikir, jika tidur saja ibadah apalagi kalau produktif. Terlebih, Allah menjanjikan ganjaran berlipat ganda pada bulan suci ini.
Ramadhan bukan lagi momen melatih diri untuk berbaik baik. Tapi Ramadhan adalah bulan perlombaan atau kompetisi. Seperti kompetisi pada umumnya, latihan dilakukan sebelum hari H. Tenaga dikerahkan untuk melatih fisik dan mental, sehingga saat hari H tiba, sudah siap untuk bertempur.
Baca juga: Hindari Kebiasaan Ini, Bisa Merusak Kualitas PuasaSama halnya dengan Ramadhan. 11 bulan sebelumnya adalah ajang latihan untuk memaksimalkan kemampuan memanen keberkahan. Rasulullah dan para sahabat juga demikian. Mereka berlatih jauh hari sebelum Ramadhan tiba.
“Sebelum kompetisi kita sudah latihan, jadi kalau hari ini puasa, maka bulan sebelumnya sudah latih puasa dulu. Melatih untuk kompetisi, sehingga tidak merasa terbebani dengan puasa itu sendiri, kita bisa bertarung, dan memberikan yang terbaik,” kata Cak Feb dalam
Sowan Virtual LANGIT7, dikutip Senin (11/4/2022).
Saat sudah berlatih dengan baik, seperti terbiasa puasa sunnah dan sedekah, maka Ramadhan sudah siap 100 persen untuk bertarung. Ramadhan siap untuk bersedekah lebih banyak. Puasa tak lagi jadi alasan untuk malas, tapi justru meningkatkan produktivitas.
“Akhirnya kita tidak lemas. Perut lapar, haus itu sudah tidak berlaku karena kita sudah berlatih sebelumnya,” tutur Cak Feb. Terlebih, Allah berjanji melipatgandakan setiap kebaikan yang dilakukan pada bulan ini. Maka saya merugi jika tidak dimanfaatkan.
Baca juga: Dokter Ungkap Fakta Ilmiah Puasa Bisa Sehatkan TubuhSelain itu, kata Cak Feb, pekerjaan tidak boleh menjadi alasan seseorang malas-malasan. Pekerjaan itu sendiri adalah ibadah. Cara pandang itu harus diubah, sehingga setiap pekerjaan dilakukan diniatkan untuk mendapat ridha Allah.
Kita hanya perlu manajemen waktu menyiasati pekerjaan rutinitas dan ibadah. Bisa tidur lebih awal, tidak lagi nongkrong sana-sini agar bisa bangun cepat. Paling baik jika mampu tahajud di sepertiga malam.
Setelah itu, sahur dan isi sela-sela sahur dengan shalat subuh dengan dzikir atau tilawah Al-Qur’an. Usai shalat fajar pun begitu. Tak perlu tidur, bisa memanfaatkan untuk membaca Al-Qur’an sambil menunggu jadwal berangkat kerja.
Saat berkendara bisa sambil mendengar tausiah atau pun murottal. Ada banyak bisa dilakukan. Jika pada bulan bisa pulang kerja masih berbincang-bincang santai, maka Ramadhan tidak lagi. Selesai kerja langsung pulang untuk bersiap menghidupkan malam.
“Kalau kita sudah tahu aktivitas rutin, itu sudah tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melakukan ibadah lain. Jadi, manajemen waktu saja, bisa kurangi jam begadang. Kalau pulang Kerja biasa masih nongkrong, maka paksakan diri pulang dan tidur lebih awal,” kata Cak Feb.
(jqf)