home wirausaha syariah

Gus Baha ungkap Alasan mengapa Umat Islam Harus Kaya Raya

Kamis, 14 April 2022 - 00:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) tidak mempermasalahkan jika ada orang Islam yang memilih hidup kaya raya. Pun demikian tak boleh mencela umat Islam yang memilih hidup sederhana. Dua status itu baik dan melahirkan kebaikan jika disandang oleh seorang yang shaleh.

Gus Baha mencontohkan kehidupan Imam Malik yang merupakan sosok alim namun kaya raya. Dia terbiasa dengan pakaian mewah, sorban yang menjuntai, kendaraan ganti jenis kuda dan unta mahal, serta aksesoris duniawi lain. Bahkan, saat meninggal dunia, dia mewariskan harta banyak seperti karpet, bantal bulu, dan lain-lain yang saat dijual mencapai 500 dinar.

Suatu ketika, Imam Syafi’i bertanya kepada Imam Malik perihal tentang orang-orang shaleh. Imam Syafi’i kala itu masih duduk berguru kepada Imam Malik. Sontak Imam Malik menyebut nama Imam Abu Hanifah. Hanya saja, saat itu Imam Hanafi sudah meninggal dunia.

Baca juga: Gus Baha: Bahaya Bertasawuf Jika Tidak Dibarengi Fikih

Imam Malik lalu menyebut murid Imam Abu Hanifah yakni Muhammad bin Hasan As-Syaibani. “Ilmu-ilmu Abu Hanifah diwarisi kepada Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani’,” kata Imam Malik.

ImamSyafi’i lalu berangkat ke Irak menemui Asy-Syaibani. Saat tiba di rumah yang bersangkutan, Imam Syafi’i kaget. Dia mendapati seorang ulama kaya raya. Bahkan, kala itu Asy-Syaibani tengah sibuk menghitung uang dan emas di ruang tamu.

Imam Syafi’i merasa aneh dengan pemandangan itu. Dia menyebut ulama-ulama terdahulu memilih hidup miskin karena hisab harta sangat lama. Namun, ini berbeda dengan Asy-Syaibani.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
gus baha syariat islam amalan sunnah pendapat ulama
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya