Pandangan Agama Amat Kaya Persatukan Etnis-etnis di Indonesia
Muhajirin
Selasa, 19 April 2022 - 16:00 WIB
Ilustrasi (foto: istimewa)
Guru Besar Universitas Paramadina, Prof Abdul Hadi WM, mengatakan, narasi agama sangat kaya untuk mempersatukan etnis-etnis yang ada di Indonesia.
Hal itu bisa dilihat dari semboyan Bhineka Tunggal Ika yang tidak lahir begitu saja. Semboyan itu merupakan pengakuan bahwa masyarakat Indonesia berbhineka secara etnis, budaya, dan agama.
Sebagian besar bangsa Indonesia punya ras Austronesia. Berbeda dengan masyarakat di Amerika atau malaysia. Indonesia punya rumpun yang sama meski terdiri dari berbagai etnis.
“Kemerdekaan Indonesia juga diikat tali persatuan, diikat juga oleh bahasa nasional yang sama, yang berhasil mempersatukan masyarakat,” kata Hadi dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (18/4/2022).
Baca juga: Dosen Universitas Andalas: Pemimpin Harus Miliki Semangat Menuntut Ilmu
Indonesia juga diikat oleh persamaan nasib, agama dan sejarah, termasuk pernah dijajah Belanda 100 tahunan. Berbeda dengan Malaysia yang tidak merasa bersatu, maka ada politik multikultural.
“Agama di Indonesia juga menjadi alat mempersatukan dan bukan alat pemecah belah. Pesan-pesan dalam Al Quran juga mempersatukan,” ucap Hadi.
Hal itu bisa dilihat dari semboyan Bhineka Tunggal Ika yang tidak lahir begitu saja. Semboyan itu merupakan pengakuan bahwa masyarakat Indonesia berbhineka secara etnis, budaya, dan agama.
Sebagian besar bangsa Indonesia punya ras Austronesia. Berbeda dengan masyarakat di Amerika atau malaysia. Indonesia punya rumpun yang sama meski terdiri dari berbagai etnis.
“Kemerdekaan Indonesia juga diikat tali persatuan, diikat juga oleh bahasa nasional yang sama, yang berhasil mempersatukan masyarakat,” kata Hadi dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (18/4/2022).
Baca juga: Dosen Universitas Andalas: Pemimpin Harus Miliki Semangat Menuntut Ilmu
Indonesia juga diikat oleh persamaan nasib, agama dan sejarah, termasuk pernah dijajah Belanda 100 tahunan. Berbeda dengan Malaysia yang tidak merasa bersatu, maka ada politik multikultural.
“Agama di Indonesia juga menjadi alat mempersatukan dan bukan alat pemecah belah. Pesan-pesan dalam Al Quran juga mempersatukan,” ucap Hadi.