Sejarah Al-Qur’an, Allah Jamin Orisinalitas Bacaan dan Tulisannya
Muhajirin
Rabu, 20 April 2022 - 23:00 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, Al-Qur’an memiliki banyak nama. Setiap nama merupakan representasi makna Al-Qur’an itu sendiri. Di antara nama itu adalah Al-Qur’an dan Al-Kitab.
Nama Al-Qur’an menunjukkan sifat Qur’an yang dibacakan di lisan atau untuk menunjukkan bacaannya. Al-Qur’an berarti bacaan. Sementara, Al-Kitab merupakan isyarat dari Al-Qur’an bahwa di kemudian hari ayat-ayat suci itu akan tertulis dalam sebuah mushaf, dengan tulisan yang teratur dan kesempurnaannya dijaga.
Ini merupakan bukti Al-Qur’an itu mukjizat. Ada banyak ayat yang menyinggung Al-Kitab dalam Al-Qur’an seperti Surah Al-Baqarah ayat ke-2. Namun, pada zaman Rasulullah, Al-Qur’an masih dalam bentuk bacaan. Para sahabat mengandalkan hafalan.
Ada tulisan tapi dalam bentuk catatan pribadi, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai mushaf. Tulisan-tulisan itu pun tidak bisa dikategorikan sebagai mushaf, karena ditulis di atas batu, pelepah kurma, dan tulang kering.
Baca juga: Menag: Spirit Al-Qur'an Bawa Indonesia Jadi Bangsa yang Harmoni
“Tapi tidak bisa disebut kitab, karena kitab itu kalau sudah disusun, di antara dua jilid, berisi tulisan Al-Qur’an. Itu disebut dengan mushaf, susunannya disebut dengan kitab,” kata UAH di Akhyar TV, dikutip Rabu (20/4/2022).
Ketika Rasulullah wafat, Umar bin Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk menuliskan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Umar khawatir karena banyak qari dan penghafal Al-Qur’an yang syahid. Usulan itu diterima. Abu Bakar lalu membuat tim khusus untuk menuliskan Al-Qur’an.
Nama Al-Qur’an menunjukkan sifat Qur’an yang dibacakan di lisan atau untuk menunjukkan bacaannya. Al-Qur’an berarti bacaan. Sementara, Al-Kitab merupakan isyarat dari Al-Qur’an bahwa di kemudian hari ayat-ayat suci itu akan tertulis dalam sebuah mushaf, dengan tulisan yang teratur dan kesempurnaannya dijaga.
Ini merupakan bukti Al-Qur’an itu mukjizat. Ada banyak ayat yang menyinggung Al-Kitab dalam Al-Qur’an seperti Surah Al-Baqarah ayat ke-2. Namun, pada zaman Rasulullah, Al-Qur’an masih dalam bentuk bacaan. Para sahabat mengandalkan hafalan.
Ada tulisan tapi dalam bentuk catatan pribadi, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai mushaf. Tulisan-tulisan itu pun tidak bisa dikategorikan sebagai mushaf, karena ditulis di atas batu, pelepah kurma, dan tulang kering.
Baca juga: Menag: Spirit Al-Qur'an Bawa Indonesia Jadi Bangsa yang Harmoni
“Tapi tidak bisa disebut kitab, karena kitab itu kalau sudah disusun, di antara dua jilid, berisi tulisan Al-Qur’an. Itu disebut dengan mushaf, susunannya disebut dengan kitab,” kata UAH di Akhyar TV, dikutip Rabu (20/4/2022).
Ketika Rasulullah wafat, Umar bin Khattab mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar untuk menuliskan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Umar khawatir karena banyak qari dan penghafal Al-Qur’an yang syahid. Usulan itu diterima. Abu Bakar lalu membuat tim khusus untuk menuliskan Al-Qur’an.