Meriam Bambu, Tradisi Ramadhan Anak Betawi yang Tak Eksis Lagi
Fajar adhitya
Sabtu, 30 April 2022 - 13:03 WIB
Di Jakarta, tradisi meriam bambu atau meriam sundut terinspirasi dari meriam-meriam tempur milik Belanda pada masa penjajahan. Foto: Langit7.id/iStock.
Bleduran adalah nama permainan tradisional meriam sundut pada bulan Ramadhan oleh anak-anak Betawi zaman dahulu. Dalam tradisi lain, Bleduran juga dikenal sebagai Dhul di Solo, Dugderan, Bumbung atau Long Bambu di Jawa Tengah, Bebeledugan di Jawa Barat, atau Bunggo untuk sebagian wilayah di kawasan timur Indonesia.
Di Jakarta, tradisi meriam bambu atau meriam sundut terinspirasi dari meriam-meriam tempur milik Belanda pada masa penjajahan. Permainan ini umumnya dilakukan oleh remaja laki-laki hingga dewasa karena memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi.
Meriam bambu dibuat dari sebatang bambu dengan kualitas dan ukuran tertentu yang dilubangi bagian dalam, serta bagian pangkal permukaan untuk tempat bahan peledak berupa karbit atau minyak tanah dan memantik api. Cara kerjanya persis seperti meriam.
Baca Juga:Sejarah Tradisi Lebaran di Indonesia, Sudah Ada Sejak Abad ke-7 Masehi
“Jenis bambu untuk membikin bleduran biasanya bambu petung atau betung. Selain berdiameter lebih besar, bambunya lebih tebal. Oleh sebab itu kami memilih jenis bambu ini," tulis Ketua Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra dikutip laman Kebudayaan Betawi.
"Jenis bambu lain pun tetap dapat dipakai untuk membuat bleduran, namun kualitas suaranya kurang jegar-jegur (tidak berdentum). Bisa-bisa suaranya cempreng mirip petasan ceplikan (petasan cabe),” imbuhnya.
Di Jakarta, tradisi meriam bambu atau meriam sundut terinspirasi dari meriam-meriam tempur milik Belanda pada masa penjajahan. Permainan ini umumnya dilakukan oleh remaja laki-laki hingga dewasa karena memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi.
Meriam bambu dibuat dari sebatang bambu dengan kualitas dan ukuran tertentu yang dilubangi bagian dalam, serta bagian pangkal permukaan untuk tempat bahan peledak berupa karbit atau minyak tanah dan memantik api. Cara kerjanya persis seperti meriam.
Baca Juga:Sejarah Tradisi Lebaran di Indonesia, Sudah Ada Sejak Abad ke-7 Masehi
“Jenis bambu untuk membikin bleduran biasanya bambu petung atau betung. Selain berdiameter lebih besar, bambunya lebih tebal. Oleh sebab itu kami memilih jenis bambu ini," tulis Ketua Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra dikutip laman Kebudayaan Betawi.
"Jenis bambu lain pun tetap dapat dipakai untuk membuat bleduran, namun kualitas suaranya kurang jegar-jegur (tidak berdentum). Bisa-bisa suaranya cempreng mirip petasan ceplikan (petasan cabe),” imbuhnya.