LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Menteri Agama (Menag)
Nasaruddin Umar mengajak umat Islam untuk menjadikan
Idulfitri sebagai momentum memperkuat empati dan kepedulian sosial.
Tidak hanya itu, menurut Menang,
Ramadhan bukan hanya sekadar ritual menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter yang lebih peduli dan berempati.
"Puasa adalah proses mengasah kepekaan sosial. Di balik rasa lapar dan dahaga, tersimpan pesan kuat tentang empati kepada sesama dan kepedulian pada mereka yang kekurangan," demikian disampaikan Menag dalam pesan Idulfitri 1 Syawal 1447 H dalam keterangan tertulis.
Baca juga: Pesan Idulfitri Trump dan Putin, Soroti Kebebasan Beragama hingga Nilai Moral Umat IslamMenag menjelaskan, gema takbir yang berkumandang menandai berakhirnya Ramadan sekaligus menjadi simbol kemenangan spiritual, yaitu kemampuan menjaga nilai-nilai Ramadhan sampai sebelas bulan mendatang.
"Kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita pada rutinitas, tetapi keberhasilan menjaga nyala api kesalehan," imbuhnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Idulfitri adalah momentum untuk menyemai kebaikan dan meraih keberkahan. Keberkahan, kata Menag, hanya hadir pada hati yang terbuka dan pada mereka yang aktif menebar manfaat bagi lingkungan sekitar.
Baca juga: Pemerintah Resmi Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu, 21 MaretKarena itu, Menag mengajak umat Islam untuk tidak membiarkan semangat Ramadan berakhir seiring datangnya Idulfitri. Nilai-nilai disiplin, kejujuran, dan kepedulian yang telah dilatih selama Ramadan harus terus dijaga dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
"Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan, kedamaian, dan kerukunan bagi bangsa Indonesia," ujar Menag.
(lsi)