Penyebab Sindrom Fomo, Berawal dari Ketergantungan Media Sosial
Mahmuda attar hussein
Jum'at, 20 Mei 2022 - 06:00 WIB
Ilustrasi media sosial. (Foto: Istimewa).
IstilahFomo atau Fear of Missing Out ternyata memiliki dampak buruk bagi generasi muda. Jika dibiarkan, sindrom ini akan merusak kemampuan mengambil keputusan.
Dalam buku "Fear of Missing Out" karya Patrick J. McGinnis, Fomo semakin mudah merebak luas karena adanya media sosial. Hal ini dikarenakan banyak orang yang menggunakan media sosial untuk flexing atau pamer.
Banyak hal sering dipamerkan orang di media sosialnya, mulai dari jalan-jalan, beli barang baru, bertemu sosok penting atau terkenal, dan lainnya. Dari sinilah muncul istilah-istilah gaul yang paling sering diucapkan anak Jaksel, seperti travelling, healing, flexing, staycation, barang branded, dan lainnya.
Baca Juga: 4 Tips Terhindar dari FOMO, Nomor 3 Harus Mulai Dipaksakan
Jika tidak diwaspadai, hal ini akan menyebabkan seseorang mulai berlomba-lomba mengejar sesuatu yang sedang tren, baik itu membeli barang ataupun jalan-jalan ke tempat wisata.
Patrick dalam bukunya mengungkapkan, media sosial menjadi penyebab utama menyebarnya Fomo. Menurutnya, hidup seseorang akan lebih baik jika tidak menggunakan media sosial.
Sebab, berselancar di media sosial secara tidak langsung menyebabkan seseorang sibuk memikirkan hidup orang lain. Namun dia juga mengungkapkan, tidak menggunakan media sosial bukan berarti menutup peluang untuk tidak Fomo.
Dalam buku "Fear of Missing Out" karya Patrick J. McGinnis, Fomo semakin mudah merebak luas karena adanya media sosial. Hal ini dikarenakan banyak orang yang menggunakan media sosial untuk flexing atau pamer.
Banyak hal sering dipamerkan orang di media sosialnya, mulai dari jalan-jalan, beli barang baru, bertemu sosok penting atau terkenal, dan lainnya. Dari sinilah muncul istilah-istilah gaul yang paling sering diucapkan anak Jaksel, seperti travelling, healing, flexing, staycation, barang branded, dan lainnya.
Baca Juga: 4 Tips Terhindar dari FOMO, Nomor 3 Harus Mulai Dipaksakan
Jika tidak diwaspadai, hal ini akan menyebabkan seseorang mulai berlomba-lomba mengejar sesuatu yang sedang tren, baik itu membeli barang ataupun jalan-jalan ke tempat wisata.
Patrick dalam bukunya mengungkapkan, media sosial menjadi penyebab utama menyebarnya Fomo. Menurutnya, hidup seseorang akan lebih baik jika tidak menggunakan media sosial.
Sebab, berselancar di media sosial secara tidak langsung menyebabkan seseorang sibuk memikirkan hidup orang lain. Namun dia juga mengungkapkan, tidak menggunakan media sosial bukan berarti menutup peluang untuk tidak Fomo.