Para ahli menjelaskan bagaimana FOMO (Fear of Missing Out), bukti sosial, dan budaya performa telah mengubah makanan ataupun camilan biasa menjadi pengalaman berharga yang harus didapat meski ikut dalam antrean panjang, dan ini terjadi secara global.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga Prof Rudi Purwono mengingatkan bahwa diskon akhir tahun dan tren media sosial kerap memicu perilaku konsumtif atau Fear of Missing Out (FOMO).
Nama aplikasi Strava belakangan ini menjadi ramai diperbincangkan. Bukan hanya viral lantaran aplikasinya saja, melainkan juga karena maraknya jasa joki Strava
Dalam sepekan terakhir, marak aksi hadang truk yang dilakukan sekelompok remaja demi konten di media sosial terutama TikTok. Parahnya, aksi nekat tersebut memakan korban jiwa. Begini perspektif psikologi memandang fenomena ini.
Seiring berjalannya waktu, masalah finansial ini memunculkan beberapa istilah. Bahkan menjadi populer di kalangan Gen Z, sebut saja FOMO, YOLO dan generasi sandwich.
Istilah Fomo atau Fear of Missing Out ternyata memiliki dampak buruk bagi generasi muda. Jika dibiarkan, sindrom ini akan merusak kemampuan mengambil keputusan.
Ada 4 tips terhindar dari FOMO atau fear of missing out. Gaya hidup tersebut dapat membawa keburukan, bahkan membuat seseorang mengalami kerugian materiil.
Ustadzah Mamah Dedeh, mengingatkan umat Islam untuk tidak bermewah-mewahan hanya untuk memenuhi gaya hidup. Kadar keimanan sangat penting untuk menekan hasrat.
Seorang korban pinjol menceritakan pengalamannya saat terjerat utang dan bunga pinjaman online. Motifnya karena ingin ikut tren judi online berkedok investasi.
Arti FOMO populer belakangan ini karena banyak orang berusaha memenuhi gaya hidup berlebihan. FOMO berasal dari kata fear of missing out atau takut tertinggal.
Sindrom FOMO bisa melahirkan seseorang berusaha mengikuti sesuatu yang sedang tren. Hal inilah yang dimanfaatkan dunia bisnis untuk menciptakan strategi baru.