LANGIT7.ID - , Jakarta - Generasi Z atau
Gen Z merupakan generasi yang saat ini sedang di fase produktif. Di mana mereka mulai meniti karir dan mencari prestasi yang bisa dibanggakan dalam hidupnya.
Namun, Gen Z juga identik dengan permasalahan keuangan. Memiliki gaya pengelolaan keuangan yang berbeda, khususnya terkait simpanan dan dana proteksi.
Seiring berjalannya waktu, masalah finansial ini memunculkan beberapa istilah. Bahkan menjadi populer di kalangan Gen Z, sebut saja
FOMO, YOLO dan generasi sandwich.
Baca juga: Gen Z Sulit Menabung, Ini Penyebabnya
FOMO
Melansir dari Verywellmind, FOMO atau
Fear of Missing Out merupakan perasaan takut kehilangan yang mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik daripada Anda.
Sindrom Fomo ini melibatkan rasa iri mendalam yang bisa mempengaruhi harga diri. Kondisi tersebut diperparah dengan media sosial seperti
Instagram dan
Facebook.
Fomo dapat dialami semua orang dari segala usia. Studi di jurnal Psychiatry Research menemukan bahwa penggunaan media sosial dan penggunaan
smartphone yang salah berkaitan dengan pengalaman Fomo yang lebih besar.
Penggunaan
smartphone terkait dengan ketakutan akan evaluasi negatif dan bahkan positif oleh orang lain serta terkait dengan efek negatif pada suasana hati.
YOLO
Slogan
'You Only Live Once' (YOLO) alias hidup hanya satu kali, dalam beberapa tahun terakhir populer di kalangan generasi Z.
Melansir dari The News Times, Sabtu (21/5/2022) dikatakan ide di balik YOLO adalah meraih apa yang Anda bisa selagi bisa, dan hidup dengan aturan dan standar Anda sendiri, bukan orang lain.
Bertindak cepat, bertindak sekarang, jangan khawatir tentang konsekuensinya sampai nanti.
Namun sejak istilah tersebut menjadi sensasi budaya, mempengaruhi perilaku seputar perbankan, tabungan, belanja, dan investasi yang berkonsekuensi baik dan buruk.
Namun, YOLO berbicara tentang keprihatinan banyak orang tentang perencanaan keuangan dan perubahan gaya hidup. Dikatakan hidup itu singkat dan hanya terjadi satu kali, sebagian orang menyelaminya dengan pemanjaan diri.
Sedangkan, sebagian lainnya memilih untuk bertahan, menyangkal kebahagiaan yang mereka mampu.
Isaac Nkusi, pakar literasi keuangan di Kigali, mengatakan tidak ada jawaban sederhana untuk "bagaimana kita bisa menjalani kehidupan yang seimbang".
Dia percaya bahwa akar penyebab masalah yang dimiliki dalam menyeimbangkan hidup sehat dan konsumsi mewah adalah akibat langsung dari "filsafat hidup" atau "pola pikir".
Baca juga: Akrab Medsos, Gen Z dan Milenial Mudah Terkena Penyakit MentalDengan filosofi, yang ia maksud adalah apa yang di pahami tentang kehidupan, apa yang di yakini benar tentang kehidupan dan bagaimana harusnya menggunakan kepercayaan itu setiap hari.
“Misalnya, jika seseorang percaya bahwa mereka hanya hidup sekali (YOLO) dan bahwa mereka harus “memeras jus dari kehidupan setiap hari” dan “hidup setiap hari seperti itu adalah yang terakhir”, mereka mungkin berperilaku dengan cara yang tampak sembrono. atau berbahaya, menghabiskan semua uang mereka untuk pengalaman langsung seperti bepergian, olahraga ekstrem, atau perilaku berisiko tinggi, karena mereka berfokus pada hidup "sekarang" dan tidak menghabiskan banyak waktu, uang, dan investasi di masa depan," ujar Isaac.
Situasi tersebut sesuai dengan filosofi "YOLO", di mana masa depan tidak dijamin. Sehingga mereka menikmati semua yang mereka miliki saat ini.
Generasi Sandwich
Generasi sandwich merupakan orang dewasa yang membesarkan anak-anak di bawah usia 18 tahun sekaligus merawat orang tua yang sudah lanjut usia. Generasi sandwich pertama kali diidentifikasi pada awal 1980-an sebagai populasi terlayani yang menghadapi tantangan unik dan tekanan yang cukup besar.
Dan itu jauh sebelum para
boomer mulai pensiun, sebelum harapan hidup meningkat ke tingkat saat ini, dan sebelum orang dewasa mulai menunggu lebih lama untuk menetap dan memulai keluarga. Semua faktor ini telah menambah kompleksitas keadaan generasi sandwich.
Direktur penelitian dan pelatihan di Institut Pengembangan Manusia Universitas Kentucky Phillip Rumrill, PhD, CRC, dan rekan penulisnya membuat tulisan Panduan Generasi Sandwich untuk Penatua.
Baca juga: Fintech Jadi Alternatif Investasi Halal dan Aman bagi Gen Z“Ada fenomena di mana orang paruh baya, terpanggil untuk membesarkan anak-anaknya, yang bagaimanapun juga harus ia lakukan. Selain itu cucunya juga, dan kemudian merawat orang tuanya, dan terkadang kakek-nenek. Jadi, jika Anda mau, sandwich menjadi sangat kompleks," ujar Phillip dikutip dari Healthline, Sabtu (21/5/2022).
Jurnalis dan advokat perawatan lansia Carol Abaya menjuluki interdependensi multi-generasi yang lebih rumit ini sebagai "generasi sandwich klub".
(est)